“Duduklah! Apa aku semenyeramkan itu bagimu?” Kania tahu suaminya terlihat geram dengan tingkahnya, tapi alih-alih terlihat takut dan lemah, Kania mengangkat dagunya dan menatap suaminya dengan tajam. “Aku hanya tidak ingin diganggu, dan ingin segera istirahat,” jawab Kania tanpa senyum. “Termasuk olehku, suamimu sendiri? Aku bisa membantu memijitmu jika kamu capek.” Kania menggeleng, tawaran suaminya terdengar sangat menggelikan sekali. “Aku tidak mau tiba-tiba mbak Nayla datang dan menjambak rambutku,” jawab Kania tenang. Kania sengaja mengibaskan rambutnya yang baru saja ditreatment. Potongan dan warnanya yang cantik menurutnya membuat wajahnya lebih segar. “Baru dari salon? Aku suka potongan rambutmu, kamu terlihat makin cantik.” “Terima kasih,” jawab Kania singkat kemudian terdiam, dia sangat berharap Darma keluar dari kamarnya dan membiarkannya sendiri tapi rupanya laki-laki itu memang sedang ingin menguji kesabaran Kania. Bukannya keluar, Darma malah mengambil tas bela
Magbasa pa