“Biar aku bantu angkat, mbak.” “Jangan lancang!” Dengarkanlah itu… apa seseorang yang mengalami kram perut mampu bersuara sekencang itu? Kania menarik kembali tangannya, tapi bukan malu karena niat ‘baik hatinya’ ditolak mentah-mentah tapi justru dengan tenang dia berkata, “Mungkin itu teman arisan, mbak yang sudah menunggu.” “Kamu! Jangan sok tahu Kania.” “Kan setiap hari mbak selalu bilang arisan atau ke mall setelah mas Darma berangkat,” jawab Kania dengan wajah sepolos setan. “Siapa yang-“ “Silahkan tuan, ini sudah waktunya berangkat,” kata salah satu orang kiriman Hera mengintrupsi ucapan Nayla. “Sebentar saja, tunggu ambulance datang,” jawab Darma yang berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman orang di sampingnya. “Saya tidak yakin ambulance akan cepat datang, lagi pula sepertinya memang tidak perlu,” kata salah satu preman saat masih melihat tatapan tajam Nayla pada Kania. Mungkin para preman itu pusing juga dengan keadaan rumah ini. Nayla yang sadar kalau seja
Last Updated : 2026-03-25 Read more