MasukDia dijadikan persembahan bagi seorang bangsawan kaya raya. Cinta dan kasih sayang yang dia impikan hanya fatamorgana untuknya. Dia ingin berlari dari semua ini sampai dia sadar kalau jalannya untuk lari sudah tertutup dinding air mata keluarganya. Dia terjebak menjadi istri ketiga dari seorang suami yang hanya menginginkannya melahirkan keturunan saja. Dia disiksa, dihina lalu dibunuh dengan keji. Akan tetapi Tuhan rupanya kasihan padanya, dia hidup kembali, dan bertekad akan mengubah takdir hidupnya.
Lihat lebih banyak“Lihat… tubuh mulus ini pasti perawatannya mahal.”
“Goblok!!! Jangan samakan dia dengan wanita pinggir jalan yang sering kamu pakai.” “Hahhaha benar-benar, wanitanya bos besar pasti rasanya beda.” Hujan Dingin Pengap Bau alkohol menyengat. Seharusnya dia masih ada di ranjang empuk rumah sakit, meski dengan hati luluh lantak. Tapi sekarang tak ada lagi bau khas rumah sakit sama sekali hanya ada bau apek dan lembab gedung tua ini. Kania makin meringkuk ketakutan. Tubuhnya yang baru saja keguguran terasa sakit sekali. Dia masih menggunakan baju rumah sakit, tapi… “Siapa kalian!! Pergi!!!” “Tenang cantik, kami hanya ingin menyenangkanmu sebentar.” Pandangan penuh nafsu menjijikkan itu membuat Kania makin ketakutan. Puluhan tikus dan kecoa yang tadi berkumpul di tempat ini berlari tunggang langgang mendengar tawa kedua orang itu. “Kalian ingin uang? Aku akan berikan tapi bebaskan aku!” Kedua laki-laki itu saling pandang lalu bersama-sama tertawa keras, tawa yang mungkin saja bisa meruntuhkan bangunan bobrok ini. “Sayang sekali, cantik. Uangmu sama terlalu sedikit untuk kami, kami hanya ingin sedikit mendapat kehangatan dari tubuhmu,” kata salah satu dari mereka sambil menyeringai mesum. “Tidak!!! Kalian harus tahu aku baru saja keguguran!!! Menyentuhku akan membuat kalian jijik!!” “Ah bagaimana ini, tapi kami sudah tidak tahan.” Salah satu laki-laki itu bicara dengan nada memelas yang makin membuat Kania ketakutan. “Suamiku tak akan memaafkan kalian kalau tahu!!!” Suaminya memang tak mencintainya, Kania yakin itu. Tapi kalau dia sampai berakhir menjadi mainan penjahat tentu akan mencoreng nama baiknya. Kania yakin sang suami akan menyelamatkannya, dia hanya perlu mengulur waktu sampai sang suami datang. “Suami, hahahha…. Dia tak akan sadar kalau istri kecilnya hilang, tenang saja suamimu masih punya dua istri lain yang bisa memuaskannya, kamu bagian kami…” Tangan Kania meraba tanah lembab di sekitarnya, dia butuh senjata… apapun yang bisa dia gunakan untuk mempertahankan diri. “Ayo cantik, kami pasti lebih bisa memuaskanmu.” Dengan tubuh lemahnya Kania berdiri dan menggenggam erat kayu kecil yang dia temukan tadi, mengacungkannya dengan tangan gemetar pada dua laki-laki yang malah menatapnya dengan geli, seolah dia badut. “Wah kami takut dengan senjatamu itu.” Kania menggenggam erat kayu di tangannya dan mulai memukul membabi buta, tapi apalah daya kekuatan wanita seperti dirinya dihadapan dua orang preman yang sudah dikuasai nafsu bejad itu menerkamnya. “Hentikan!!!” Pintu gudang tua itu terbuka kasar dan Kania langsung berlari pada orang yang baru datang. “Mbak Nayla tolong aku!!! Mereka menculikku!!!” Rasa syukur membanjiri hatinya, dia menatap istri kedua suaminya ini dengan penuh terima kasih. “Menculik?” Tanya Nayla dengan sangsi. “Bukankah kamu yang memang menemui mereka?” Tangan Kania yang memegang lengan kakak madunya ini melemah. “Enggak mbak!! Mereka menculikku dari rumah sakit, tolong bawa aku pergi dari sini.” Nayla menatap Kania tak yakin lalu tatapannya mengarah pada dua orang laki-laki di depannya. “Benarkah kalian menculiknya?” Tanyanya. “Apa menculik?! Yang benar saja, mana bisa kami menculik orang dari rumah sakit elit itu.” Tubuh Kania yang kedinginan makin gemetar, dia baru menyadari rumah sakit itu bukan rumah sakit biasa, dan penjagaannya tak perlu diragukan lagi. Otak cerdas Kania langsung memproses semuanya. Kakak madunya yang tiba-tiba datang kemari. Sendiri. Tanpa pengawalan. “Mbak Na-Nayla jangan bilang kalau-” “Ada apa, adik maduku?” Tanya wanita itu dengan manis. Kania melangkah mundur. “Mbak merencanakan ini semua?” Tanyanya dengan tak percaya. “Wah kamu memang pintar, sayang tapi itu tidak berguna.” Kali ini ketakutan yang dirasakan Kania langsung hilang berganti menjadi kekecewaan yang membuat tubuhnya bahkan tak sanggup untuk berdiri tegak. “Kenapa?” Tanyanya lemah nyaris tak terdengar. “Kenapa mbak melakukan ini? Mbak Nayla yang kukuh ingin aku menikah dengan mas Darma?” Dengan senyum manis yang selama ini menipunya, Nayla melangkah mendekati Kania yang terlihat hancur. “Memangnya kamu pikir wanita mana yang mau berbagi suami dengan wanita lain.” Kania menahan napasnya, selama ini dari semua orang hanya Nayla dan mertuanya yang memperlakukannya dengan baik. Sang suami bahkan menganggapnya hanya pemuas nafsu dan pabrik pembuat anak. “Ta-tapi mbak Nayla yang ngotot supaya mas Darma-” “Ah itu…. Tentu saja aku yang meminta mas Darma mendekatimu dan membuatmu jatuh cinta.” Kania menggelengkan kepalanya tak mengerti. “Kasihan sekali, biar aku jelaskan,” kata Nayla penuh ejekan. “Mertuaku mendesak mas Darma untuk segera punya keturunan, lalu aku bertemu denganmu.” Wanita itu terdiam sejenak masih dengan senyum manis yang menipunya selama ini. “Lalu aku berpikir dari pada mereka mencarikan madu untukku lebih baik aku yang mencari sendiri, wanita yang sesuai kemauanku.” Nayla menatap Kania dengan pandangan menghina. “Orang kampung, mata duitan dan lebih penting gampang dikendalikan.” Sampai disini Kania bisa mengerti tapi kenapa sekarang tiba-tiba Nayla ingin menghancurkannya. “Mbak Nayla berpikir aku sengaja menggugurkan bayiku?” Tanyanya dengan suara tercekat. Wanita itu menggeleng dengan anggun. “Tentu saja tidak karena aku yang melakukan semuanya.” Bola mata Kania langsung membesar, pantas saja… semua keanehan ini akhirnya terjawab. “Mbak!!! Mas Darma tidak akan memaafkan mbak kalau tahu ini semua!!!” “Sttt!!! Kebetulan sekali suami kita menelpon,” katanya sambil mengangkat ponselnya menghadap Kania. Dua orang preman yang sejak tadi diam seperti melihat pertunjukan sirkus langsung membungkam mulut Kania. Kania berontak gila-gilaan. Ini satu-satunya kesempatan untuknya. Jika suaminya tahu, pasti akan menolongnya. “Iya, mas?” “Sayang, kamu di mana?” Bahkan Nayla dengan sengaja mememperbesar volume ponselnya. “Aku sedang menjenguk dek Kania, kasihan dia baru saja kehilangan anak.” “Astaga, Dek. Kamu terlalu baik hati, jangan terlalu capek ingat kamu sedang hamil. Kania biar diurus pembantu.” Mata Kania membulat mendengar ucapan suaminya diseberang sana. Jadi ini alasannya. Dia harus disingkirkan. “Tapi mas, kasihan dek Kania mas tidak ingin menjenguknya.” “Untuk apa? Yang penting dia masih hidup, mas sibuk.” “Astaga, maafkan aku yang tidak pengertian ini. Padahal aku ingin mas temani makan di restoran favorit kita.” “Tidak… tidak mas selalu punya waktu untukmu dek, nanti mas jemput di mana?” Kania bahkan tidak sempat memikirkan sang suami yang tak peduli padanya, yang dia pikirkan sekarang bagaimana dia harus selamat dari tempat ini. “Di rumah saja, aku sudah jalan pulang dari-” “Mas tolong!!!” Kania berhasil berteriak dan mengigit tangan preman yang membekapnya. “Dek,ada apa? Itu seperti suara Kania.” “Mas pasti sedang memikirkan Kania, itu suara pasien rumah sakit yang mengamuk.” “Oh… maaf, jangan ngambek iya mas salah.” “Sudah mas, aku jalan pulang dulu.” Kania menatap kakak madunya dengan amarah yang menggunung. “Sudah dengar bukan, mas Darma pasti percaya padaku.” Nayla berjalan mendekati Kania. “Nikmatilah malam ini,” katanya tenang lalu berbalik pergi tanpa menoleh. Kania berusaha memberontak, dia memukul mencakar dan menendang dengan brutal, tapi dua preman itu seolah tak merasakan apapun. Air matanya mengalir deras saat satu per satu para preman itu memaksanya dan baru melepasnya setelah tubuhnya lemas tak bertenaga. Kania mencium bau amis darah yang menguar di udara… Darahnya. Dendam dan sumpah serapah hanya mampu dia ucapkan dalam hati sebelum dia menyerah kalah pada kegelapan yang menelannya…. Saat membuka matanya kembali, dia sudah ada di sebuah ranjang empuk dan ruangan yang bersih. Meski tubuhnya terasa sakit semua tapi dia selamat. Apa mas Darma yang datang menyelamatkanku? Buru-buru dia bangun saat mengingat kejadian yang menimpanya tapi sebuah tangaan langsung menahannya. “Jangan bangun dulu anda baru saja menjalani kuret.” “Kuret?” Tanya Kania bingung. “Benar. Kami tak bisa menyelamatkan bayi anda.” Kania menatap sang dokter bingung, bukankah ini kejadian minggu lalu mungkinkah…“Kok balik lagi- eh.” “Erga barusan keluar.” Kania tersenyum salah tingkah, setelah memastikan dia baik-baik saja, laki-laki itu memang berpamitan akan pulang dulu dan berganti baju, sudah seharian dia menungguinya yang baru saja melahirkan. Erga hanya keluar saat dia menyusui bayinya, lalu masuk lagi untuk bermain dengan bayinya itu. Bahkan tak segan laki-laki itu memapahnya ke kamar mandi dan menunggui dengan sabar di depan pintu kamar mandi.Perhatian yang membuat Kania yang selama ini tak pernah mendapat perhatian laki-laki meleleh dibuatnya. “Mas Darma.” Kania mendengar dari Erga dan juga mertuanya kalau Darma memang sejak tadi ada di sini, tapi baru sekarang mantan suaminya itu mau menampakkan diri menemuinya. Mungkin karena anak mereka dibawa ke sini. “Dia tidur,” kata laki-laki mengecek bayi mungil yang terlelap kekenyangan di boxnya. “Iya, baru nenen.” Kania rasanya ingin menggigit bibirnya sendiri saat refleks Darma langsung menatap dadanya, tapi seolah sadar status
Kania mendengar kabar itu dengan rinci. Erga adalah sumber berita yang sangat baik, tapi saat laki-laki itu bertanya apa dia ingin menjenguk mantan suami dan madunya, Kania langsung menggeleng. Baginya semua itu tidak ada gunanya lagi. Mereka sudah punya kehidupan masing-masing dan selama tak ada sangkut pautnya dengan anak yang dia kandung, Kania akan memutuskan tetap ada di luar papan permainan. Akhir-akhir ini Kania dan Erga makin dekat saja. Erga begitu gigih mendekati kania hingga membuat wanita itu kewalahan dan sulit menolak perhatiannya. “Kabarnya Nayla sudah pulang dari rumah sakit dan rahimnya harus diangkat, Dia sempat mengamuk saat tahu itu.” “Mas Darma pasti ada di sana untuk menenangkanya.” Erga menghela napas panjang, dia menggeleng pelan. “Darma menceraikan Nayla.” “Eh?! Kamu yakin? Kok bisa?” “Aku juga kaget saat mendengar dari tanteku, ibunya mas Darma. Dia yang mengatakan itu padaku.” “Kalian sekarang dekat?” tanya kania yang tahu bagaimana hubungan Erga d
“Apa istrimu yang lain sudah tahu hal ini?” tanya sang ayah dengan ekspresi kasihan yang tidak dia tutup-tutupi. Dia hanya bisa menunduk dalam, dia boleh saja menjadi orang nomer satu di perusahaan tempatnya bekerja, tapi dia tidak bisa berkutik di depan orang yang sudah membesarkannya. Sepandai-pandainya dia menutupi bangkai baunya pasti tercium juga. Dia berharap ayahnya akan marah besar lalu memukulnya. Itu lebih baik dari pada mengasihaninya, belum lagi kekecewaan yang terbayang di mata sang ibu. Darma tahu, sekarang dia pasti lebih menyedihkan dari pada pemulung di pinggir jalan.Dan saat ini menghindarpun percuma. Dengan bukti nyata di depan mata, Darma sama sekali tidak punya alasan untuk menutupi semua ini dari orang tuanya. Pantas saja Kania kukuh ingin berpisah darinya dia memang benar-benar bodoh dan menyedihkan. Ah kenapa perjalanan cintanya semenyakitkan ini.“Ini salah mama, yang menginginkan cucu. Harusnya mama bisa menahan keinginan itu dan membiarkan kamu h
“Sejak kapan keluargamu suka ikut campur Nayla.”Kalimat itu memang tidak diucapkan dengan keras dan kasar tapi efeknya lebih buruk dari bentakan menggelegar.“Mas kamu jangan percaya pada Kania, aku memang minta ayah melihat kondisi Kania untuk memastikan dia baik-baik saja. Aku juga merasa bersalah karena-“ “Cukup Nayla! Kita pulang sekarang.” Pertengkaran di muka umum hanya akan mencoreng nama baiknya, apalagi klarifikasi yang Kania lakukan kemarin masih banyak menimbulkan tanda tanya besar bagi masyarakat khususnya para pemegang saham perusahaannya. “Maafkan saya, saya hanya iri pada mbak Nayla yang dicintai suaminya saya dan membuat saya stress hingga keguguran dua kali.” Kalimat Kania itu memang cukup mengembalikan harga saham mereka yang sempat jatuh, apalagi dengan pernyataan Kania yang mundur sebagai istrinya karena merasa bersalah, tapi publik juga tidak bodoh, mereka menguliti di mana Nayla biasa memeriksakan kehamilannya, bahkan jadwal periksa istrinya itu. Pertanyaan
Seharusnya Kania patut berbangga diri, hari ini setelah sekian lama dia diperlakukan lebih buruk dari pembantu di rumah ini Hari ini dia disambut nyonya rumah di depan pintu. Sayang tidak ada karpet merah yang digelar untuknya. “Kamu apa-apaan mas, pergi bersama Kania sampai jam segini!” Kan
Mungkin ini yang namanya ngidam keturutan. Hatinya begitu senang, seolah beban berat yang dia pikul hlang sudah. Padahal ini hanya nasi bebek yang ada di ujung jalan sana. Untunglah setelah meeting tadi dia bertemu dengan rombongan karyawan rumah makan ini yang ingin makan di tempat yang sama, j
Ternyata bayi ini berguna juga.Disaat cinta suaminya hampir pudar untuknya. Sialan memang seharusnya dia tidak meremehkan wanita kampung itu. Apa dia pikir Darma akan mencintainya? Tidak!Darma hanya mencintai dirinya, bahkan Hera yang cantik dan kaya raya saja tidak bisa mengalahkannya, apalagi
“Kamu tidak boleh kerja jika mengabaikan keluarga!” Kalimat dingin itulah yang menyambut kedatangan Kania. Wanita itu mencengkeram kuat kopernya, seolah benda itulah pegangan terakhirnya. Dia tahu ini akan terjadi, apapun yang dia lakukan akan jadi kesalahan fatal di depan mereka. Kania teri


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan