“Mas yakin mau mengantar aku?” Darma yang bersiap akan melajukan mobil meninggalkan pelataran rumah menatap dengan kening berkerut. “Nayla akan baik-baik saja kalau itu yang kamu maksud.” Kania menaikkan alisnya. Tumben. “Bukan itu maksudku, mas tidak pernah megemudikan mobil sendiri apa yakin tidak masalah, apalagi ini malam hari lho.” Darma refleks menghentikan mobil dan menoleh sepenuhnya pada Kania. “Hah!!!” “Mas selalu pakai sopir, kalau mas ragu mending aku pesan taksi saja, lagi pula mas pasti kepikiran mbak Nayla.” “Hahhaha.” Bukannya menjawab kekhawatiran istrinya, Darma malah terbahak melihat wajah polos sang istri, laki-laki itu lalu melepas sabuk pengamannya dan tanpa permisi mengelus perut Kania, membuat wanita itu terengit kaget, tapi seolah tak terpengaruh dengan reaksi sang istri dengan tenang Darma malah berkata. “Dengar tuh, dek. Mama meragukan kemampuan papa, kita buktikan saya.” Dengan cepat laki-laki itu mengenakan sabuk pengamannya kembali dan melaju
Read more