Napas Vandella mengalun teratur, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Jovian. Namun, pikiran Jovian sama sekali tidak sedang beristirahat. Jari-jarinya yang besar membelai rambut hitam Vandella yang bergelombang, sementara matanya menatap lurus ke arah langit-langit, menyusun kepingan-kepingan rencana di kepalanya."Kau sedang berpikir keras," gumam Vandella memecah keheningan. Jari-jarinya bermain pelan di atas kancing kemeja pemuda itu yang terbuka. "Aku bisa mendengarnya dari detak jantungmu."Vandella mendongak, menopang dagunya di dada Jovian. Matanya menatap pria itu dengan penuh selidik. "Jadi... apa langkahmu selanjutnya untuk meruntuhkan Vance Corp?"Jovian menundukkan pandangannya, menatap wajah cantik di atasnya. Sebuah senyum tipis, dingin, dan penuh perhitungan terukir di bibirnya."Vance Corp tidak bisa diruntuhkan dari luar," jawab Jovian, suaranya berat dan mengalun sangat tenang. "Julian telah membangun benteng yang terlalu tebal selama puluhan tahun. Menyerangny
Leer más