"Ian... aku sudah tidak sabar lagi," suara Vandella mengalun dari speaker ponsel, jernih, manja, dan sarat akan kerinduan, sangat kontras dengan pemandangan brutal yang sedang terjadi di depan mata Jovian. "Aku sudah mengatur semuanya. Jet pribadiku sudah diinstruksikan untuk membawamu. Besok pagi-pagi sekali, kau harus segera terbang menyusulku ke Hong Kong. Tolong selesaikan segera urusan divisi crypto. Aku butuh kamu di sini... sayang."Jovian tersenyum, sebuah senyuman hangat yang tak sampai ke matanya. Tangan kirinya masih mencengkeram kuat rambut Malora, menahan kepala wanita tua itu agar tetap berada di dekat pangkal kejantanannya, sementara mulut Malora masih dipenuhi sisa-sisa air liurnya sendiri."Tentu, Sayang," jawab Jovian dengan suara bariton yang teramat lembut dan romantis. "Aku akan menyelesaikan urusanku malam ini juga. Besok pagi, aku sudah berada di udara menujumu.""I love you. Sampai ketemu besok ya," bisik Vandella sebelum sambungan telepon itu akhirnya terputus
Terakhir Diperbarui : 2026-06-04 Baca selengkapnya