Godaan Maut CEO Cantik

Godaan Maut CEO Cantik

last updateLast Updated : 2026-03-03
By:  kodavUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
13Chapters
51views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

(Cerita +21, harap bijak memilih bacaan!) "Katakan padaku apa yang kau lapar-kan. Apakah uang? Atau..." Vandella melirik ke arah selangkangan Jovian yang ada dalam genggamannya, "...kau ingin masuk ke dalam diriku?" Vandella Arthesia (32) bukan sekadar CEO Arthesia Capital yang berkuasa; ia adalah predator yang haus akan dominasi. Baginya, pria hanyalah instrumen untuk memuaskan egonya yang narsistik. Ia tidak mencari cinta, ia mencari kemurnian untuk dikotori. Dan mangsa paling sempurna telah hadir: Jovian Althair (21). Jovian adalah pemuda berparas idola K-Pop dengan tatapan lugu yang mematikan. Namun, ia tidak datang sendirian. Di dalam gedung itu, ada Binar, kekasih Jovian yang bekerja sebagai staf magang. Binar adalah cahaya bagi Jovian—gadis ceria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Vandella mencium rahasia itu. Alih-alih menghancurkan mereka secara langsung, ia memilih cara yang lebih kejam: Menjerat Jovian dalam labirin gairah yang memabukkan. Jovian kini terjepit. Setiap kali ia menyentuh Binar yang suci, ia didera rasa bersalah. Namun, setiap kali ia berada di bawah kendali Vandella, tubuhnya berkhianat. Aroma stroberi Binar yang polos kini perlahan mulai terkubur oleh wangi Black Opium milik sang CEO yang membius sarafnya. Akankah Jovian mampu menjaga hatinya untuk Binar? Ataukah gairah maut dari sang CEO cantik akan membuatnya lupa caranya menjadi manusia dan tenggelam selamanya dalam dosa yang paling nikmat? "Tubuhmu lebih jujur daripada hatimu, sayang. Sekarang, tunjukkan padaku... seberapa besar kau menginginkan 'puncak' itu bersamaku."

View More

Chapter 1

Bab 1

Lobby Arthesia Capital terasa seperti medan perang yang beku. Deretan layar raksasa yang menggantung di dinding marmer hitam tidak hanya menampilkan grafik saham yang berkedip liar, tetapi juga siaran berita finansial yang mendominasi suasana. Di salah satu layar utama, tampak cuplikan wawancara eksklusif. Sosok Vandella Arthesia duduk dengan anggun di sofa kulit, menatap tajam ke arah kamera sementara teks di bawahnya bergerak cepat: "Vandella Arthesia: Sang Ratu di Balik Kesuksesan Arthesia Capital Menembus Top 5 Firma Investasi Dunia."

Di bawah kemegahan layar itu, Jovian Althair berdiri kaku. Kemeja putih tipisnya sedikit basah oleh keringat dingin, memperlihatkan samar-samar otot dadanya yang kokoh namun tengah bergetar halus. Ia berada di sana untuk memperebutkan satu kursi sebagai Investment Analyst—posisi panas yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang berotak jenius.

Dua pelamar di sampingnya—lulusan Ivy League dengan jam tangan Rolex emas—berbisik sinis. Jovian bisa mencium aroma cologne mahal yang bercampur dengan bau keringat asam. Bau ketakutan.

"Kau lihat wawancaranya? Dia bukan manusia. Dia itu hiu betina," bisik salah satunya dengan nada rendah yang penuh intrik. "Aku dengar tunangannya dulu, seorang pengusaha kaya, pergi meninggalkan negara ini karena menderita trauma seksual yang parah. Madam tidak pernah puas."

Temannya tertawa rendah, matanya menatap Jovian dengan hina. "Aku juga dengar dia punya selera khusus. Dia benci pria yang terlalu dominan atau sok pintar. Dia ingin seseorang yang manis, yang bisa dia 'makan' pelan-pelan sampai tidak bersisa. Lihat anak baru itu, dia pasti pingsan jika Madam mulai menatapnya."

Tiba-tiba, suhu di lobby seolah turun beberapa derajat. Perhatian semua orang tersedot ke arah lift privat yang berdenting halus. Udara yang tadinya pengap oleh aroma kopi korporat kini berganti dengan wangi parfum Black Opium yang dominan dan memabukkan.

Pintu lift terbuka. Vandella Arthesia melangkah keluar. Ia mengenakan setelan blazer sutra merah marun yang melekat sempurna, memperlihatkan lekuk dada yang menantang dan kaki jenjang yang hanya tertutup rok mini ketat. Di belakangnya, sekelompok staf berjalan setengah berlari, berusaha menyamai langkah sang CEO yang tak terbendung.

Setiap langkah stiletto-nya menghasilkan suara tajam yang bergaung di marmer, seperti detak jantung predator yang mendekat. Rambut hitamnya yang bergelombang jatuh sempurna di bahu, dan bibirnya dipulas lipstik merah gelap yang sangat provokatif. Vandella melangkah menuju ruang rapat eksekutif, namun saat ia melintas tepat di depan barisan pelamar, langkahnya melambat secara drastis.

Tanpa menolehkan kepala sepenuhnya, ujung matanya melirik tepat ke arah Jovian. Ia memperhatikan bagaimana jemari pemuda itu meremas map dokumen hingga memutih. Sebuah seringai kecil yang hampir tak terlihat muncul di bibirnya sebelum ia akhirnya menghilang di balik pintu kaca ruang rapat yang menutup kedap suara.

Kepergian Vandella menyisakan ketegangan yang menyesakkan. Jovian menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya. Tak lama kemudian, perhatiannya teralih oleh pintu ruangan fotokopi yang terletak di sudut area tunggu. Di sana, seorang gadis dengan gaya rambut bobcut yang segar dan kacamata berbingkai bulat tampak sedang sibuk dengan tumpukan kertas.

Gadis itu adalah Binar. Saat para staf lain sibuk memperhatikan pintu ruang rapat, Binar mencuri kesempatan untuk mengintip dari balik tumpukan dokumen. Wajahnya yang ceria tampak sangat menggemaskan saat ia mengerucutkan bibirnya sedikit, memberi isyarat kecil dengan tangan agar Jovian mendekat ke arahnya.

Jovian segera beranjak, berpura-pura hendak mencari toilet, lalu dengan langkah cepat menyelinap masuk ke ruangan fotokopi. Begitu pintu tertutup rapat dengan suara klik halus, Jovian langsung menyambar pinggang kecil Binar, membawanya ke balik mesin fotokopi yang terasa hangat karena baru saja digunakan. Suhu di ruangan sempit itu seketika terasa nyaman, tercampur aroma kertas panas dan parfum stroberi yang manis dari tubuh Binar.

"Jovian...Ian sayang, jangan di sini... nanti ada yang lihat… " bisik Binar saat Jovian memeluknya erat. Suaranya terdengar manja, serak, dan penuh kekhawatiran yang menggemaskan. Ia mencoba sedikit mendorong dada Jovian dengan kepalan tangan kecilnya, namun gerakan itu justru berakhir dengan jemarinya yang meremas kemeja Jovian karena rindu yang sama besarnya.

"Tapi Bi, aku kangen banget... cuma kamu yang bisa bikin aku tenang sekarang," bisik Jovian pelan, menatap mata Binar yang bulat di balik kacamata.

Binar kemudian merogoh sebuah kotak makan kecil bermotif beruang dari balik tumpukan kertas. "Tunggu! Aku buatkan nasi beruang! Kali ini matanya pakai nori yang kupotong pelan-pelan biar mirip kamu kalau lagi ngantuk," bisiknya sambil tertawa kecil, suara tawa yang begitu murni hingga membuat hati Jovian berdesir. Binar sedikit menjinjit, menggosokkan hidung kecilnya ke hidung Jovian dengan manja. "Dimakan ya, sayang."

Jovian tersenyum lembut, tangannya mengusap pipi Binar yang halus. "Boleh aku minta satu hal lagi biar aku makin semangat?" tanya Jovian dengan tatapan polos namun penuh harap.

Binar memiringkan kepalanya. "Apa?"

"Cium... boleh?" Jovian mendekatkan wajahnya, menatap bibir tipis Binar yang dipulas lipbalm merah muda.

Binar tersentak pelan, pipinya langsung merona merah padam. "Ih, jangan sekarang! Nanti ada yang masuk... lagian bibir aku nanti berantakan, ketahuan Mbak-mbak HRD kalau kita habis 'anu'..." Binar menolak dengan gaya yang sangat menggemaskan, menutup mulutnya dengan tangan mungilnya sembari mengerucutkan matanya.

Jovian terkekeh, namun ia tidak menyerah. Ia memegang lembut pergelangan tangan Binar, menariknya perlahan. "Sebentar saja, Bi. Please..."

Melihat wajah "memohon" Jovian yang tampak begitu lugu, pertahanan Binar runtuh. Ia perlahan menurunkan tangannya, meskipun matanya masih melirik cemas ke arah pintu. "Sebentar saja ya? Janji?"

Jovian mengangguk pasti. Ia kemudian merunduk, melumat lembut bibir Binar. Ciuman itu terasa manis, hangat, dan penuh dengan rasa sayang yang tulus. Binar yang tadinya ragu, perlahan memejamkan mata, tangannya melingkar di leher Jovian, menikmati momen singkat di tengah ketegangan gedung Arthesia Capital. Aroma stroberi dan napas hangat Binar seolah menjadi penawar racun bagi kegelisahan Jovian.

Namun, tepat saat tautan bibir mereka semakin dalam—ketika Jovian baru saja akan memeluk pinggang Binar lebih erat—sebuah suara bariton yang otoriter bergema dari pengeras suara plafon, membelah suasana manis di ruangan itu seperti pisau es.

"Panggilan untuk kandidat nomor urut 07... Jovian Althair... Segera menuju lift eksekutif. Madam Vandella menunggu Anda di lantai 50. Sekarang."

Jovian mematung seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat sebelum berdegup dua kali lebih kencang karena kaget. Napasnya tersengal-sengal, matanya yang tadi teduh perlahan kembali fokus, dipenuhi oleh kepanikan yang berusaha ia redam. Ia menatap Binar yang tampak sangat berantakan; kacamatanya miring, rambut bobcut-nya sedikit acak-acakan, dan bibirnya bengkak kemerahan akibat ciuman Jovian. Wajah gadis itu memerah padam, campur aduk antara rasa malu yang luar biasa dan ketakutan akan terbongkarnya rahasia mereka.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
13 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status