Mag-log in(Cerita +21, harap bijak memilih bacaan!) "Katakan padaku apa yang kau lapar-kan. Apakah uang? Atau..." Vandella melirik ke arah selangkangan Jovian yang ada dalam genggamannya, "...kau ingin masuk ke dalam diriku?" Vandella Arthesia (32) bukan sekadar CEO Arthesia Capital yang berkuasa; ia adalah predator yang haus akan dominasi. Baginya, pria hanyalah instrumen untuk memuaskan egonya yang narsistik. Ia tidak mencari cinta, ia mencari kemurnian untuk dikotori. Dan mangsa paling sempurna telah hadir: Jovian Althair (21). Jovian adalah pemuda berparas idola K-Pop dengan tatapan lugu yang mematikan. Namun, ia tidak datang sendirian. Di dalam gedung itu, ada Binar, kekasih Jovian yang bekerja sebagai staf magang. Binar adalah cahaya bagi Jovian—gadis ceria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Vandella mencium rahasia itu. Alih-alih menghancurkan mereka secara langsung, ia memilih cara yang lebih kejam: Menjerat Jovian dalam labirin gairah yang memabukkan. Jovian kini terjepit. Setiap kali ia menyentuh Binar yang suci, ia didera rasa bersalah. Namun, setiap kali ia berada di bawah kendali Vandella, tubuhnya berkhianat. Aroma stroberi Binar yang polos kini perlahan mulai terkubur oleh wangi Black Opium milik sang CEO yang membius sarafnya. Akankah Jovian mampu menjaga hatinya untuk Binar? Ataukah gairah maut dari sang CEO cantik akan membuatnya lupa caranya menjadi manusia dan tenggelam selamanya dalam dosa yang paling nikmat? "Tubuhmu lebih jujur daripada hatimu, sayang. Sekarang, tunjukkan padaku... seberapa besar kau menginginkan 'puncak' itu bersamaku."
view moreMalora melepaskan genggamannya. Ia merangkak sedikit lebih maju, lalu membenamkan wajahnya tepat di selangkangan Jovian. Bibir merahnya yang basah langsung melahap ujung kepala kejantanan Jovian yang kembali menegang sempurna.Slurp... mmmhh... gluk...Jovian memejamkan matanya erat-erat. Lidah Malora menari-nari memutar di area paling sensitifnya, menghisapnya dalam-dalam dengan tekanan vakum yang memaksa Jovian untuk menahan erangannya sendiri."Ah... sialan," geram Jovian tertahan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia benci pada fakta bahwa tubuhnya merespons kelihaian iblis betina ini.Malora melepaskan hisapannya dengan suara 'pop' yang basah, lalu mendongak menatap wajah tersiksa pemuda itu."Ayahmu dulu juga berpikir dia bisa mengendalikanku, Ian," bisik Malora sambil menjilat sisa benih Jovian dari bibirnya. "Namun pada akhirnya, dia hancur karena dia tidak sanggup melepaskan diri dari lubangku. Dan kau... kau memiliki kelemahan yang persis sama dengannya."Malora kem
"Ayahku adalah pria yang terlalu lurus hingga kau bisa menghancurkan kewarasannya dengan mudah," lanjut Jovian tak kenal ampun, memilin puting Malora semakin kuat. "Tapi aku? Aku tumbuh di dalam neraka yang kau ciptakan. Aku adalah anak yang lahir dari darahnya. Dan sebentar lagi..."Jovian menarik batangnya nyaris keluar seutuhnya sebelum menghunjamkannya kembali dengan kekuatan maksimal. BAM!"AAAHHHH!""...sebentar lagi, aku akan merampas kembali seluruh harta yang telah kau curi dari ayahku. Semuanya. Termasuk putrimu," bisik Jovian mematikan.Alih-alih merasa terancam, bisikan dominasi absolut dan hantaman brutal di lubang belakangnya itu justru mendorong Malora melampaui ambang batas kewarasannya. Gairahnya benar-benar buta. Dinding liangnya yang sempit berkedut beringas, menjepit kejantanan Jovian dengan kekuatan yang melumpuhkan. Perut bawahnya menegang kaku, sensasi kebas menjalar dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubunnya."Ian... ahhh! Aku... aku mau keluar! Ahhh… sialan…,
"Ian... aku sudah tidak sabar lagi," suara Vandella mengalun dari speaker ponsel, jernih, manja, dan sarat akan kerinduan, sangat kontras dengan pemandangan brutal yang sedang terjadi di depan mata Jovian. "Aku sudah mengatur semuanya. Jet pribadiku sudah diinstruksikan untuk membawamu. Besok pagi-pagi sekali, kau harus segera terbang menyusulku ke Hong Kong. Tolong selesaikan segera urusan divisi crypto. Aku butuh kamu di sini... sayang."Jovian tersenyum, sebuah senyuman hangat yang tak sampai ke matanya. Tangan kirinya masih mencengkeram kuat rambut Malora, menahan kepala wanita tua itu agar tetap berada di dekat pangkal kejantanannya, sementara mulut Malora masih dipenuhi sisa-sisa air liurnya sendiri."Tentu, Sayang," jawab Jovian dengan suara bariton yang teramat lembut dan romantis. "Aku akan menyelesaikan urusanku malam ini juga. Besok pagi, aku sudah berada di udara menujumu.""I love you. Sampai ketemu besok ya," bisik Vandella sebelum sambungan telepon itu akhirnya terputus
Tubuh Malora terkapar di atas ranjang king-size yang basah dan berantakan. Napasnya memburu kasar, dadanya yang dipenuhi keringat naik-turun dengan cepat mencari oksigen yang seolah terkuras habis dari ruangan itu. Siksaan surgawi yang memaksanya mencapai puncak berkali-kali telah melumpuhkan setiap sendi dan otot di tubuhnya.Bahkan, kedua kakinya yang masih terbuka lebar tak lagi memiliki tenaga untuk sekadar merapat. Cairan hangat milik Jovian terus merembes keluar dari liangnya, menodai seprai mahal di bawahnya, sementara liang kewanitaannya yang bengkak memerah masih berkedut pelan, menolak melupakan ketebalan masif yang baru saja membelahnya habis-habisan.Di balik kelopak matanya yang bergetar, syok akibat identitas asli Jovian baru saja menghantam kewarasannya. Jovian Vaelis. Anak Adityawarman.Namun, penyakit narsistik yang mengakar kuat di dalam jiwa Sang Nyonya Besar menolak untuk mati begitu saja. Di tengah kelumpuhan fisiknya dan rahimnya yang masih terasa berdenyut penuh












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore