Hana berdiri mematung di ujung lorong sayap barat, jemarinya meremas nampan kayu berisi secangkir teh chamomile hangat hingga buku-buku jarinya memutih. Jantung gadis berusia sembilan belas tahun itu berdebar dengan ritme yang tidak masuk akal.Sudah dua hari Jovian menempati kamar tamu utama. Dan selama itu pula, Hana merasa ada penyakit aneh yang sedang bersarang di dalam tubuhnya. Penyakit yang membuatnya terus-menerus merasa kepanasan, gelisah, dan sulit bernapas.Tuan Julian Vance selalu mendidiknya dan kakak kembarnya, Lin, dengan aturan yang sangat kaku. Mereka diajarkan bahwa laki-laki adalah makhluk yang kasar, kejam, dan hanya bisa membentak. Namun, Tuan Muda Jovian sama sekali berbeda. Tatapan matanya selalu teduh, suaranya begitu lembut, dan ia memperlakukan Hana bukan seperti pelayan, melainkan seorang manusia.Wajah Hana yang seputih susu mendadak merona merah padam saat ingatannya kembali terlempar pada kejadian sore tadi.Saat ia masuk untuk mengantarkan handuk, pintu
Read more