Lantai lobi Arthesia Capital terbuat dari marmer hitam yang sangat mengilap. Tepat di tengahnya, huruf ‘V’ emas raksasa terukir angkuh, menyeringai tajam di bawah lampu kristal, siap menginjak siapa saja yang berani menantang kekuasaannya. Di layar raksasa, Vandella sedang wawancara. Blazer sutra merah marunnya sengaja dipotong begitu rendah hingga hampir tak ada lagi yang tersembunyi. Tanpa bra, tanpa dalaman, dua gunung dadanya yang putih kencang dan montok bergoyang pelan setiap kali ia mencondongkan tubuh ke kamera. Belahan dadanya dalam, gelap, dan menggoda. Putingnya yang menonjol samar-samar terlihat menekan kain tipis, keras dan menantang—seolah mengundang setiap pria di ruangan itu untuk membayangkan lidahnya menjilat di antara keduanya. "Arthesia Capital tidak butuh keberuntungan," suara Vandella terdengar rendah, serak, dan basah, lebih mirip desahan daripada pernyataan bisnis. "Di dunia ini hanya ada satu aturan: kau pemangsa, atau kau menjadi mangsa." Di bawah layar ya
Magbasa pa