"Aku... aku harus pergi," bisik Jovian berat, suaranya parau dan bergetar. Dia menarik tangannya dari bahu Binar, menyisakan kekosongan yang tiba-tiba pada gadis itu.Binar mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca, jemarinya yang gemetar berusaha merapikan kemeja Jovian yang kusut. Ia berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Jovian. Bukannya membisikkan kata perpisahan biasa, ia justru memberikan tiupan halus yang nakal di telinga pria itu sebelum menatapnya dengan pandangan yang menggoda dari balik kacamata bulatnya."Good luck ya, sayang. Nanti malam... pokoknya harus ke rumah," bisiknya dengan nada manja sambil menarik ujung dasi Jovian sedikit. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, "Ayah lagi ke luar kota..." Ia mengedipkan satu matanya, memberikan pose "fighting" yang gemetar namun penuh maksud tersembunyi.Jovian tertegun, menatap lekat mata bulat di balik kacamata itu. Ia mengelus pipi Binar dengan ibu jarinya. "Aku pasti datang, Bi. Tunggu aku ya," balas Jovian dengan nada yan
Terakhir Diperbarui : 2026-02-19 Baca selengkapnya