Baru kali ini Zareen yang biasanya tak peduli apapun, merasa begitu kerdil. Ini bukan tentang pekerjaannya. Tapi tenang perasaannya. Antara rasa cinta, sakit, dan cemburu."Apa kamu ingin mundur?""Sepertinya begitu," jawab Zareen lirih. Walaupun sebenarnya ini mega proyek yang sangat menguntungkan bagi perusahaan dan dirinya sendiri. Tapi apa ia sanggup?"Aku malu, Lin. Sangat malu. Setiap kali aku teringat malam itu, saat Arsel berdiri di hadapan kami dan membongkar semuanya dengan wajah yang begitu dingin. Aku merasa seperti sampah. Dan yang paling menyakitkan bukan hanya kenyataan tentang obat itu."Linda terdiam, menunggu Zareen menumpahkan sisa sesak di dadanya."Dia menatapku dan bilang bahwa dia mencintai Kimmy. Bahwa kejadian kelam itu meski salah, telah membawanya pada wanita yang paling dia damba. Kamu bayangkan, Lin. Pria yang aku cintai bertahun-tahun, pria yang seharusnya menikahiku, justru berterima kasih pada takdir yang pahit itu karena akhirnya dia bisa memiliki wani
Read More