"Roderick sudah pulang, kita cerai saja."Dengan wajah tanpa ekspresi, aku menyerahkan surat perjanjian cerai yang sudah kutandatangani ke tangan istriku, Bianca.Ekspresi Bianca sempat membeku sesaat, tapi dia segera kembali sadar. Dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa, dia menandatangani namanya di atas perjanjian itu.Lalu seperti enam kali sebelumnya, dia berkata ringan kepadaku, "Satu bulan lagi Roderick pergi, aku akan menikah lagi denganmu."Kalau dulu, kalimat itu sama sekali tidak bisa memberiku rasa aman yang kuinginkan. Aku bahkan mungkin akan memaksanya bersumpah atau membuat perjanjian tertulis. Namun kali ini, hatiku tidak terpengaruh sedikit pun. Sampai-sampai aku bahkan tidak punya keinginan untuk menanggapi."Firza, kamu dengar nggak aku ngomong?" Bianca mengerutkan kening. Dia jelas tidak puas dengan keheninganku.Aku hanya bisa mengangguk. "Mm."Tanganku tetap bergerak, melipat pakaian satu per satu lalu memasukkannya ke dalam koper. Kalau Bianca berkata kapan ak
Read More