Mag-log inAku menikah tujuh kali dengan wanita yang sama. Demi cinta pertamanya, dia juga bercerai denganku tujuh kali. Saat pertama kali menikah, dia berkata kepadaku, "Aku hanya akan mencintaimu seorang dalam sisa hidupku." Namun, setiap kali cinta pertamanya pulang ke negara ini, dia langsung mengubah narasinya, "Bisa nggak kamu lebih dewasa sedikit? Apa kamu harus buat Roderick menanggung tuduhan menggoda istri orang?" Saat perceraian pertama, aku mengiris pergelangan tanganku untuk memaksanya tetap tinggal. Aku dibawa ambulans ke rumah sakit, tapi dia bahkan tidak datang menjengukku sekali pun. Saat perceraian ketiga, aku merendahkan gengsiku dan melamar sebagai asisten di perusahaannya, hanya agar punya kesempatan untuk lebih sering melihatnya. Saat perceraian keenam, aku sudah belajar untuk membereskan barang-barangku sendiri dengan patuh dan pindah dari rumah pernikahan kami. Sikapku yang kehilangan kendali, semua pengorbanan dan kepatuhanku ... hanya berujung dengan keputusannya untuk rujuk denganku berulang kali. Trik lama itu terus-menerus digunakannya berkali-kali. Sampai kali ini, setelah aku menerima kabar bahwa cinta pertamanya akan segera kembali, aku sendiri yang menyerahkan surat perjanjian cerai ke tangannya. Seperti biasa, dia menetapkan waktu untuk menikah lagi denganku. Namun dia tidak tahu, kali ini aku akan benar-benar pergi.
view more“Ahh ahh, yess Lex … disitu, enak banget Lex, aahh ahh!” seorang gadis sedang berada diatas meja kerja dengan kondisi selangkangannya terbuka dengan lebar. Dia sedang menikmati setiap momen jilatan dan hisapan di dalam lembahnya.
Laki—laki itu sedang jongkok dan mengaduk—aduk isi lembah si gadis hingga tubuhnya melenjing penuh dengan desahan kenikmatan. “Uhgg Siska enak bangett lembah kamu, aku suka yang seperti ini …,” ucap laki-laki tadi. Dia berdiri dan segera membuka sarang burungnya yang sudah tak tahan semenjak tadi ingin dilepaskan. Burung perkututnya sudah berdiri tegak dan mengeras. Besar dan panjang. “Ayo Lex … masukin aja. Aku udah nggak tahan. Ini hadiah untuk kamu, sayang!” desah si gadis sambil dengan sendirinya meremas dua gunungnya yang sudah terbuka dengan sangat indah. Siska sudah menelan air liurnya saat melihat burung perkutut Alex yang keluar dari sangkar. Dia sudah tak sabar ingin merasakan keperkasaan sang burung saat menggagahi tubuhnya. “Dasar, Siska genit. Bilang hadiah apaan, aku kan udah sering masuk ke lembahmu,” kekehnya dan blush burung perkutut perkasa itu sudah masuk ke sarangnya dengan dalam. Menggoyangnya maju mundur hingga desahannya memenuhi ruangan. "Ahhh ummh Lex nikmat banget, goyangan kamu memang nggak ada duanya. You're the best bangett, Lex ahh hmm! Yess fuck me yang dalam, Lex ...." Rancu Siska makin menggila ketika hujaman itu keras mengaduk-ngaduk lembahnya. Ganas dan benar-benar liar. Membuatnya melenjing tak karauan. Alex Marcus, laki laki bertubuh besar dan berdada bidang bagai roti sobek itu tidak memperdulikan rancu dan desahan Siska yang menggila karena burung perkututnya, dia hanya fokus menghujani benda tumpulnya di lembah Siska. Dia ingin segera mencapai puncak kenikmatan agar bisa segera menuntaskan kegiatan panasnya siang ini. “Alex umm ahh ... enak banget, Lex. Lebih kencang, Lex. Aku udah nggak tahan lagi mau keluar!" desak Siska. Dan keduanya melengking. Mendesah. Mengerang. Kedua jemari mereka direkatkan dengan erat. Berhenti sejenak dari gempuran. Merasakan nikmat dari tetesan cairan yang keluar dan kedutan nikmat dari keduanya. "Nih, Sis, jangan lupa diminum. Sorry tadi aku kebablasan!" Alex melemparkan sekotak obat pencegah kehamilan pada Siska setelah mereka melaksanakan pertempuran panasnya siang ini. "Hehehehe, iya, nggak apa-apa, Lex, tadi aku juga yang salah, minta buru-buru," Siska berbicara sambil merapikan kembali bajunya. Dia mengambil obat pencegahan kehamilan yang diberikan Alex dan tanpa ragu meminumnya didepan laki-laki itu. "Jadi, kapan lagi kita akan melakukannya, Lex? Aku selalu nggak sabar menunggu giliran kamu memanggil ke ruanganmu ini," ucap Siska bergelayut manja di lengan kekar bosnya. "Nantilah aku kabarin lagi. Aku mau ada meeting siang ini," Alex melirik jam tangannya. Alex tidak menyadari dari balik pintu yang sengaja tidak ditutup rapat, sepasang mata sedang menatap mereka. Beberapa kali dia menelan air liurnya saat burung perkutut tadi bergerak maju mundur dengan ganas di sarang Siska. Sampai dia tidak sadar apa yang sedang dipegangnya jatuh ke lantai. Brukk! Suara itu mengganggunya dan dia berjalan menghampiri pintu. Alex melihat satu buah kue dengan full cream yang berserakan di lantai. Saat Alex melihat ke sekeliling, tak ada siapapun. Dia tersenyum. “Rupanya ada kucing nakal yang mengintip. Lihat saja, aku akan beri pelajaran yang tak terlupakan untuk kucing tersebut.” Alex meraih ponselnya dan menelpon seseorang. "Iya, Lex, ada apa?" Suara seorang pria menyahut dari seberang sana. "Bini lo jadi nggak sih nganter kue, Ar?" ucapnya. "Loh, emangnya dia belum sampai, Lex? Tadi, dia bilang sama gue lagi dijalan ke tempat lo. Tumben banget. Apa dia kena macet dijalan ya. Emang acaranya udah mendesak, bro? Coba nanti gue telpon dia sebentar," sahut Arya. Alex tersenyum, sekarang dia yakin akan sesuatu hal. "Owh, nggak usah lo telpon bro, mungkin dia memang kena macet dan sebentar lagi sampai. Ehm, by the way, gue udah lama nggak mampir ke rumah lo, trus emangnya elo nggak berencana ngasih hadiah sama gue?" desak Alex. "Ya ampun, bro. Umur lo udah tua kali, masa masih mau minta kado sama gue kayak anak kecil aja lo!" Suara di seberang telpon terdengar bergerutu. "Cuihh pelit amat sih lo, Ar. Gue ini kan teman seperjuangan dan setali tiga uang sama elo. Masa kado kecil aja lo nggak siapin buat gue sih?” suara Alex terdengar memaksa saat meminta kado pada Arya. "Ya udah, lo datang aja deh ke rumah nanti malam. Gue yang traktir lo, lo tinggal bawa diri aja ke rumah!" Alex tersenyum saat mendengar permintaannya disetujuin sama Arya. "Nah, gitu dong. Nggak gitu juga, Ar, nantilah gue juga bawa sesuatu yang spesial kesana. Kita udah lama nggak minum bareng kan?" celetuk Alex. "Hahahaha, sialan lo. Gue udah lama nggak minum. Gue udah tobat, Lex. Lo janganlah ngajarin gue sesat lagi. Lo tau sendiri kan sejak gue kawin, gue udah tinggalin itu semua. Gue sayang sama bini gue, Lex," ucap Arya setengah terkekeh. "Heh, pengecualian kali. Setaun sekali juga belum tentu gue minta. Ini hari kan ultah gue, nggak apa-apalah kalo lo minum sedikit. Lagian kalo elo mabok kan di rumah dan udah ada pelampiasannya," Kekeh Alex tetap berusaha membujuk Arya untuk memperbolehkan bawa minuman nanti malam ke rumahnya. "Ya udah lo bawa aja deh. Jangan bawa banyak-banyak!" Akhirnya Arya menyerah dengan keinginan Alex. Atau memang Arya yang nggak pernah bisa menolak keinginan Alex. "Beres. Kita mabok sampai pagi ya. Hahahaha, lagian besok weekend bro. Lo lupa?" Alex tetap ngomporin temannya. "Sialan lo, Lex. Kalo soal begituan lo gercep banget!" "Udahlah, nggak apa-apa kali. Apa lo sejak kawin jadi suami suami takut bini?" ledek Alex. "Gila lo ya, nggak-lah. Gini-gini dimata bini gue, gue tuh lakinya yang baik dan alim. Pokoknya lo nggak usah terus ngerayu gue pake alasan ini itu. Lo datang aja, cuma mungkin gue datang agak telat, lo nggak apa-apa kan kalo tunggu gue?" Alex tersenyum puas kembali saat diberitahu Arya i nanti malam akan pulang telat. "Oke oke. Gue nungguin lo sampe pulang. Jangan malem banget nanti gue malah molor di rumah lo!" "Ya, nggak apa-apa kali kalo lo molor di rumah gue. Kita juga udah lama nggak ketemu dan ngobrol. Nginep-lah sesekali di rumah gue. Tenang aja, gue masih ada satu kamar kosong!" Tawar Arya. "Oke, kalo gitu gue nginep deh di rumah lo!" Bak gayung bersambut, Alex memang menginginkan hal itu. "Sip. Datang aja langsung ke rumah gue, alamatnya nanti gue kirim." Setelah berkata seperti tadi, telpon mereka terputus. Dan tak lama Setelah Arya mengirimkan alamat rumahnya. “Hehehe, kucing nakal. Kita akan segera bertemu. Aku sudah nggak sabar buat ngeliat wajah kucing nakal dan usil yang suka mengintip kayak kamu. Kamu, harus bisa jadi hadiah untukku, apapun itu, aku pasti akan mendapatkannya.”Inilah bentuk cinta yang seharusnya.....Di pantai pasir merah muda Bahama, 300 lampu kristal menerangi seluruh pantai pribadi itu seperti siang hari. Aku mengenakan jas pengantin terbaru dan menatap diriku di cermin yang kini jauh lebih tenang dibanding tiga tahun lalu."Pak Firza." Penata gaya itu mengingatkan pelan, "Di luar ada seorang wanita ...."Kreydon langsung menyela, "Bilang saja mempelai pria nggak ada."Tanganku yang sedang merapikan dasi berhenti sejenak. "Bianca masih di luar?""Sejak tadi malam dia berlutut di pintu masuk pantai."Kreydon memutar matanya."Katanya, dia nggak akan bangkit kalau belum bertemu denganmu. Petugas keamanan sudah mengusirnya tiga kali, tetap nggak berhasil."Melalui jendela kaca besar, terlihat sosok wanita di tengah hujan deras. Tubuhnya basah kuyup, celana mahalnya sudah terkikis pasir karang yang kasar, darah samar terlihat di lututnya.Payung hitam yang dibentangkan pengawal didorongnya menjauh, seolah dia ingin membiarkan hujan itu membe
Bianca mengeluarkan ponsel dari tasnya dan memutar sebuah video.Di layar, Roderick berdiri di depan jendela rumah sakit jiwa dengan wajah pucat dan kurus. Karena efek samping obat jangka panjang, wajahnya membengkak dan berubah bentuk. Dia menatap kosong ke luar jendela."Aku menyuruhnya melayani tamu, lalu memasukkannya ke rumah sakit jiwa."Bianca menjelaskan dengan tergesa-gesa, "Kamu benci dia, jadi aku membuatnya menerima ganjarannya.""Kamu pikir aku meninggalkanmu karena Roderick?" Aku tiba-tiba tertawa. "Kalau begitu, kukasih tahu kamu, deh.""Aku nggak peduli. Sama seperti aku sudah nggak peduli lagi sama kamu dari dulu."Evana menggenggam tanganku dengan tenang, jari-jarinya menyelip di antara jemariku. Aku melihat tatapan Bianca terpaku pada tangan kami yang saling bertaut. Tangannya sedikit bergetar."Kami akan menikah bulan depan," ucapku dengan tenang. "Semoga saat itu kamu bisa memberi kami doa restu."Mendengar hal itu, Evana yang biasanya tenang langsung tersenyum leb
"Katakan pada divisi keuangan, naikkan lagi dua poin bunga saham yang dijaminkan ke bank."Saat Gulfstream G650 menembus lapisan stratosfer, aku sedang berada di executive lounge Hotel Four Seasons dan menandatangani penerimaan sebuah paket khusus.Ketika lapisan bubble wrap kubuka, tujuh buku akta nikah berlapis emas dan tujuh buku akta cerai memantulkan kilau yang terasa menyindir di bawah cahaya lampu.Di antara berkas itu terselip catatan dari Kreydon.[ Dia bilang kalau semua ini terkumpul, kamu pasti akan berubah pikiran. ]Aku menekan bel panggil dengan tenang, lalu tersenyum kepada pelayan yang datang."Tolong hancurkan ini dengan mesin penghancur kertas."....Saat Bianca akhirnya menemukanku, aku sedang minum kopi bersama calon pasangan perjodohanku, Evana dari Grup Marker.Di dalam rumah kaca transparan di Fifth Avenue, New York, ujung jari Evana mengusap bibir cangkir kopi dengan perlahan.Selama tiga tahun ini, ratu akuisisi yang dijuluki "serigala gila" di Wall Street itu
Bianca mengeluarkan ponsel dan menelepon pengawal. "Segera ke sini. Antar Pak Roderick kembali ke tempat yang seharusnya dia berada."Roderick benar-benar panik. "Kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini, Bianca! Aku sangat mencintaimu ...."Yang menjawabnya hanyalah suara pintu besar yang terbuka. Kedua pengawal berpakaian hitam menyeretnya keluar. Jeritannya semakin lama semakin menjauh di tengah malam.Bianca berdiri diam di tempat. Menatap mangkuk sup yang terjatuh di lantai, dia perlahan berjongkok.Aroma sup iga dan akar teratai menyebar di udara. Seperti orang yang tidak akan pernah kembali itu.....Saat pesawat mendarat di landasan negara asing, aku menatap pemandangan yang tidak kukenal di luar jendela, dan untuk sesaat merasa seolah berada di dunia lain.Begitu keluar dari lorong kedatangan, aku melihat sosok ayahku yang kini sedikit membungkuk.Dulu dia adalah raksasa bisnis yang penuh wibawa. Kini, rambut di pelipisnya sudah memutih. Saat melihatku, matanya langsung mem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.