Share

Bab 2

Author: Penyihir
Setelah perceraian kedua, aku berhasil melamar dan diterima sebagai asisten Bianca. Dengan membawa latte rasa favoritnya, aku mendorong pintu kantornya dengan penuh harap. Namun, yang kulihat adalah dia sedang duduk di pangkuan Roderick dan berciuman dengannya.

Aku tidak bisa menahan diri dan langsung menyerang Roderick, tapi Bianca malah menendangku hingga terjatuh ke lantai.

Di luar kantor sudah dipenuhi orang yang menonton keributan. Semua orang mengira aku masih suami sang direktur. Tatapan mereka kepada Roderick pun tanpa sadar dipenuhi penghinaan.

Agar Roderick tidak menjadi bahan gosip, Bianca mengabaikanku yang menangis sambil menggeleng. Dia merebut tas selempangku, lalu menumpahkan semua isinya ke lantai.

Buku akta cerai itu bagaikan luka yang menganga, mengumumkan kepada semua orang tentang hubungan sebenarnya antara aku dan Bianca.

Sejak saat itu, setiap kali kami bercerai, Bianca selalu mengumumkannya di media sosial. Semua orang tahu bahwa yang orang yang dicintai Bianca adalah Roderick. Sementara aku ini hanyalah orang tidak tahu malu yang terus menempel padanya.

Namun kali ini, kekhawatiran Bianca benar-benar tidak perlu.

Aku mengangkat koperku tanpa ragu. "Tenang saja, aku nggak akan datang mengganggu kalian lagi."

Bianca menatapku dengan curiga beberapa saat. Sampai aku menarik gagang pintu dan satu kakiku sudah melangkah keluar, barulah dia sedikit cemas dan mengingatkanku lagi, "Bulan depan tanggal 13 kita menikah lagi. Jangan lupa."

Aku sempat tertegun.

Kebetulan sekali.

Hari keberangkatanku ke luar negeri juga ditetapkan pada tanggal 13.

....

Setelah Roderick pulang ke negara ini, Bianca benar-benar tidak pernah mengingatku lagi.

Aku juga tidak lagi seperti dulu. Setiap kali bercerai, aku akan mencari tahu ke mana Bianca pergi, lalu berusaha menunggu lebih dulu di setiap tempat yang mungkin dia datangi.

Sebaliknya, aku menjalani hari-hari santai bersama sahabatku, Kreydon. Makan hotpot dengan teh susu setiap waktu, lalu makan sate dan minum bir di malam hari. Hidupku benar-benar seperti di surga.

Dalam sekejap, waktu tersisa 20 hari lagi sebelum aku berangkat ke luar negeri.

Hari itu aku dan Kreydon sedang menunggu makanan di restoran, tapi tanpa diduga bertemu Bianca dan Roderick. Bianca merangkul pinggang Roderick. Mereka masuk sambil tertawa dan bercakap-cakap dengan sangat serasi.

"Firza?"

Tatapan Bianca langsung tertuju kepadaku.

Roderick merangkul leher Bianca dengan manja dan tersenyum manis. "Firza, kebetulan sekali, kamu juga makan di sini?"

Melihat tatapanku tertuju pada Roderick, Bianca tanpa sadar melangkah maju dan berdiri di depannya, seolah melindunginya.

Aku tahu dia takut aku akan langsung menerjang dan memukul Roderick seperti dulu. Namun, aku tidak melakukannya. Bahkan aku menarik lengan Kreydon yang sudah siap membelaku.

Aku tersenyum santai. "Iya, kebetulan sekali."

Menyadari sikap mengalahku, senyum Roderick makin menjadi-jadi. "Maaf ya Firza, Bianca sudah janji akan memesan seluruh tempat ini dan hanya makan bersamaku. Sepertinya kamu harus pindah ke tempat lain."

Dia menggoyangkan lengan Bianca dengan manja. "Iya 'kan, Bianca? Kamu bantu jelaskan, dong. Nanti Firza kira aku sengaja menyudutkannya."

Dengan wajah penuh keyakinan, Bianca mengangkat dagu ke arahku seolah berkata, "Lakukan seperti yang dibilang Roderick. Kalau nggak, jangan salahkan aku kalau nanti nggak menikah lagi denganmu".

Kreydon bahkan sudah menggulung lengan bajunya, tapi aku mengangkat tangan dan menahannya. "Nggak apa-apa, kami bisa pergi ke tempat lain."

Bukan karena apa-apa. Hanya karena waktuku hampir tiba untuk ke luar negeri, aku tidak ingin lagi membuang waktu untuk berdebat sia-sia dengan mantan istriku.

Bukankah sebagai mantan yang baik, aku memang seharusnya menganggap Bianca seperti orang yang sudah mati?

Manajer restoran yang peka dengan situasi, segera maju dan memuji Bianca dan Roderick, "Kalian berdua terlihat sangat mesra, benar-benar membuat iri."

Mendengar hal itu, Bianca menatapku dengan sorot mata yang rumit. Seolah waspada aku akan mengatakan sesuatu atau ingin tahu apa yang akan kukatakan. Namun, aku hanya menarik Kreydon dan pergi, seakan tidak mendengar apa-apa.

Bianca tidak menyangka aku sama sekali tidak bereaksi. Dia berdiri terpaku, menatap punggungku yang semakin menjauh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 10

    Inilah bentuk cinta yang seharusnya.....Di pantai pasir merah muda Bahama, 300 lampu kristal menerangi seluruh pantai pribadi itu seperti siang hari. Aku mengenakan jas pengantin terbaru dan menatap diriku di cermin yang kini jauh lebih tenang dibanding tiga tahun lalu."Pak Firza." Penata gaya itu mengingatkan pelan, "Di luar ada seorang wanita ...."Kreydon langsung menyela, "Bilang saja mempelai pria nggak ada."Tanganku yang sedang merapikan dasi berhenti sejenak. "Bianca masih di luar?""Sejak tadi malam dia berlutut di pintu masuk pantai."Kreydon memutar matanya."Katanya, dia nggak akan bangkit kalau belum bertemu denganmu. Petugas keamanan sudah mengusirnya tiga kali, tetap nggak berhasil."Melalui jendela kaca besar, terlihat sosok wanita di tengah hujan deras. Tubuhnya basah kuyup, celana mahalnya sudah terkikis pasir karang yang kasar, darah samar terlihat di lututnya.Payung hitam yang dibentangkan pengawal didorongnya menjauh, seolah dia ingin membiarkan hujan itu membe

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 9

    Bianca mengeluarkan ponsel dari tasnya dan memutar sebuah video.Di layar, Roderick berdiri di depan jendela rumah sakit jiwa dengan wajah pucat dan kurus. Karena efek samping obat jangka panjang, wajahnya membengkak dan berubah bentuk. Dia menatap kosong ke luar jendela."Aku menyuruhnya melayani tamu, lalu memasukkannya ke rumah sakit jiwa."Bianca menjelaskan dengan tergesa-gesa, "Kamu benci dia, jadi aku membuatnya menerima ganjarannya.""Kamu pikir aku meninggalkanmu karena Roderick?" Aku tiba-tiba tertawa. "Kalau begitu, kukasih tahu kamu, deh.""Aku nggak peduli. Sama seperti aku sudah nggak peduli lagi sama kamu dari dulu."Evana menggenggam tanganku dengan tenang, jari-jarinya menyelip di antara jemariku. Aku melihat tatapan Bianca terpaku pada tangan kami yang saling bertaut. Tangannya sedikit bergetar."Kami akan menikah bulan depan," ucapku dengan tenang. "Semoga saat itu kamu bisa memberi kami doa restu."Mendengar hal itu, Evana yang biasanya tenang langsung tersenyum leb

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 8

    "Katakan pada divisi keuangan, naikkan lagi dua poin bunga saham yang dijaminkan ke bank."Saat Gulfstream G650 menembus lapisan stratosfer, aku sedang berada di executive lounge Hotel Four Seasons dan menandatangani penerimaan sebuah paket khusus.Ketika lapisan bubble wrap kubuka, tujuh buku akta nikah berlapis emas dan tujuh buku akta cerai memantulkan kilau yang terasa menyindir di bawah cahaya lampu.Di antara berkas itu terselip catatan dari Kreydon.[ Dia bilang kalau semua ini terkumpul, kamu pasti akan berubah pikiran. ]Aku menekan bel panggil dengan tenang, lalu tersenyum kepada pelayan yang datang."Tolong hancurkan ini dengan mesin penghancur kertas."....Saat Bianca akhirnya menemukanku, aku sedang minum kopi bersama calon pasangan perjodohanku, Evana dari Grup Marker.Di dalam rumah kaca transparan di Fifth Avenue, New York, ujung jari Evana mengusap bibir cangkir kopi dengan perlahan.Selama tiga tahun ini, ratu akuisisi yang dijuluki "serigala gila" di Wall Street itu

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 7

    Bianca mengeluarkan ponsel dan menelepon pengawal. "Segera ke sini. Antar Pak Roderick kembali ke tempat yang seharusnya dia berada."Roderick benar-benar panik. "Kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini, Bianca! Aku sangat mencintaimu ...."Yang menjawabnya hanyalah suara pintu besar yang terbuka. Kedua pengawal berpakaian hitam menyeretnya keluar. Jeritannya semakin lama semakin menjauh di tengah malam.Bianca berdiri diam di tempat. Menatap mangkuk sup yang terjatuh di lantai, dia perlahan berjongkok.Aroma sup iga dan akar teratai menyebar di udara. Seperti orang yang tidak akan pernah kembali itu.....Saat pesawat mendarat di landasan negara asing, aku menatap pemandangan yang tidak kukenal di luar jendela, dan untuk sesaat merasa seolah berada di dunia lain.Begitu keluar dari lorong kedatangan, aku melihat sosok ayahku yang kini sedikit membungkuk.Dulu dia adalah raksasa bisnis yang penuh wibawa. Kini, rambut di pelipisnya sudah memutih. Saat melihatku, matanya langsung mem

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 6

    "Dia harus ditemukan!"Suara Bianca serak dan matanya merah menyala. Seakan-akan, kini dia akhirnya menyadari bahwa aku benar-benar tidak menginginkannya lagi kali ini.....Bianca pulang ke rumah dengan langkah kaku. Saat pintu dibuka, aroma masakan yang familier langsung tercium. Sup iga dan akar teratai yang segar dan manis. Masakan andalanku.Jantungnya berdegup keras. Kilatan kegembiraan melintas di matanya."Firza? Kamu sudah pulang?" Dia hampir tersandung saat berlari ke dapur. Tatapannya penuh harap dan sukacita. Namun saat melihat orang di dapur, ekspresinya langsung membeku. Senyumnya perlahan menghilang.Bukan dia.Roderick mengenakan piama sutra putih sambil mengaduk sup dalam panci tanah liat dengan santai. Melihat Bianca kembali, dia tersenyum lembut."Bianca, kamu sudah pulang?"Semua harapan itu lenyap dalam sekejap. Wajah Bianca langsung menjadi kaku. "Bukannya kamu sudah kembali ke luar negeri?" Bianca ingat jelas, dia sendiri yang mengantar Roderick ke bandara."Aku

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 5

    "Selamat tinggal, mantan istriku."Aku menutup telepon dengan tegas, lalu mematikan ponsel. Mendengar deru mesin pesawat, akhirnya ada rasa lega seolah semuanya benar-benar telah berakhir.Bianca berdiri di rumah Kreydon, menggenggam ponsel yang panggilannya sudah diputus. Wajahnya tampak terpaku. Suaranya serak, seperti sedang menahan emosinya. "Dia pergi ke mana?"Kreydon menyilangkan tangan dan mencibir. "Kenapa? Sekarang baru kepikiran mau nanya? Dia sudah pergi.""Pergi? Apa maksudnya? Dia pergi ke mana?!"Kreydon mengangkat bahu, sengaja tersenyum licik. "Kamu pikir aku bakal ngasih tahu kamu?"Tatapan Bianca langsung mendingin. "Kreydon, aku nggak punya waktu untuk main-main denganmu.""Oh, Bu Bianca panik ya?" Kreydon memutar mata, lalu berjalan ke pintu dan membukanya lebar-lebar."Silakan pergi. Tempat ini nggak menyambutmu."Bianca tetap berdiri di tempat, ekspresinya berubah-ubah. "Kami sudah sepakat hari ini akan menikah lagi. Dia nggak bisa menghilang begitu saja.""Oh, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status