Share

Bab 3

Author: Penyihir
Roderick memanggilnya berkali-kali. Sampai nada bicaranya mulai terdengar tidak sabar, barulah Bianca perlahan menarik kembali pandangannya.

....

Awalnya kupikir pertemuan di restoran itu akan menjadi pertemuan terakhirku dengan Bianca sebelum aku pergi ke luar negeri. Namun, pada malam hari saat aku resmi mengundurkan diri dari jabatan asisten Bianca, aku malah menerima panggilan video darinya.

Itu benar-benar kejadian langka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sampai-sampai aku menahan tanganku yang ingin langsung menekan tombol tutup, lalu malah menekan tombol terima sebagai panggilan suara.

Suara wanita itu jelas terdengar tidak puas, "Kenapa kamu alihkan ke panggilan suara?"

Aku menjawab asal, "Aku belum berpakaian rapi. Nggak enak kalau video."

Bianca malah tertawa setelah mendengarnya. Tiba-tiba suasana hatinya tampak membaik. "Kita sudah seperti pasangan lama. Bagian mana dari kamu yang belum pernah kulihat?"

Nada bicaranya seperti sedang menggoda, sehingga membuatku sangat tidak nyaman. Aku pun bertanya dengan dingin, "Ada apa?"

Dia segera menangkap nada asing dalam suaraku. Tanpa sadar, dia menghentikan sikap malasnya, lalu duduk tegak dan bertanya, "Aku dengar dari HR, kamu mengundurkan diri?"

Aku hanya menjawab, "Mm," tanpa berniat menjelaskan apa pun.

Suasana langsung hening.

Dengan nada bercanda, tapi terdengar seperti mencari-cari topik, Bianca berkata, "Bagus juga sih mengundurkan diri. Lihat aja kamu ini ... Sudah jadi suami direktur, malah maksa mau jadi asisten. Itu 'kan cari susah sendiri namanya?"

"Lagian, menurutku kerjamu juga santai sekali. Jarang kelihatan di kantor, tapi aku tetap harus kirim gaji tiap bulan. Sampai seluruh perusahaan tahu kamu itu orang dalam. Mereka bilang aku pilih kasih."

Aku memotongnya dengan tidak sabar, "Kamu nggak perlu menemani Roderick?"

Bianca tanpa sadar bergumam, "Kami nggak ada hubungan apa-apa. Apa yang harus ditemani?"

Setelah berkata demikian, dia langsung terdiam. Karena tiba-tiba dia teringat, aku juga hanya mantan suaminya. Dalam sekejap, Bianca merasa agak bersalah.

"Soal cerai itu salahku. Aku yang bersalah padamu. Aku cuma takut kalau kita nggak cerai, orang-orang akan menggosipkan Roderick ...."

Aku mengangguk.

Roderick tidak boleh jadi bahan gosip. Jadi, akulah yang pantas jadi bahan tertawaan, jadi topik obrolan di kalangan mereka.

Suaraku semakin dingin saat berkata, "Kalau nggak ada urusan apa-apa, aku tutup teleponnya."

"Tunggu dulu!" Nada Bianca terdengar cemas.

"Tanggal 12 itu hari ulang tahun pernikahan kita. Hari itu ada konser. Aku tahu kamu ingin pergi. Aku temani kamu, kita pergi dengar konser sama-sama, ya?"

Untuk sesaat, aku hampir saja berkata jujur padanya. Namun sebelum aku sempat membuka mulut, suara Roderick terdengar samar dari seberang telepon. "Bianca, aku lupa ambil handuk. Kamu ambilin untukku, ya?"

Bianca tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap layar ponsel yang menampilkan namaku dan terlihat ragu. Dengan wajah tanpa ekspresi aku mendesak, "Pergilah."

Barulah dia perlahan berdiri, tapi tidak langsung mematikan panggilan.

"Firza, tunggu sebentar ya. Aku segera kembali."

Setelah itu, dia melangkah menuju kamar mandi.

Seperti yang sudah kuduga, aku mendengar suara Bianca dan Roderick berciuman. Bianca mengerang pelan, lalu pintu kamar mandi tertutup keras.

Dengan wajah penuh ejekan, aku memutuskan panggilan suara. Kebetulan saat itu Kreydon mengajakku ke bar untuk bersenang-senang dengan penuh semangat. Tanpa ragu, aku meletakkan ponsel dan berdiri.

Padahal di dunia ini masih begitu banyak hal yang bisa membuatku bahagia.

Dulu, aku dibutakan oleh Bianca. Sekarang, untuk apa lagi aku meratapi wanita yang sudah sepenuhnya menjadi masa lalu?

....

Hari-hari tanpa Bianca berlalu begitu cepat. Saat tersadar, tinggal beberapa hari lagi sebelum aku berangkat ke luar negeri. Meski tidak lagi berhubungan, kabar tentang dia dan Roderick tetap kudengar sekilas dari Kreydon.

Katanya mereka bertengkar hebat, bahkan Bianca sampai membanting pintu dan pergi begitu saja dari sebuah jamuan, tanpa memedulikan harga diri Roderick.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 10

    Inilah bentuk cinta yang seharusnya.....Di pantai pasir merah muda Bahama, 300 lampu kristal menerangi seluruh pantai pribadi itu seperti siang hari. Aku mengenakan jas pengantin terbaru dan menatap diriku di cermin yang kini jauh lebih tenang dibanding tiga tahun lalu."Pak Firza." Penata gaya itu mengingatkan pelan, "Di luar ada seorang wanita ...."Kreydon langsung menyela, "Bilang saja mempelai pria nggak ada."Tanganku yang sedang merapikan dasi berhenti sejenak. "Bianca masih di luar?""Sejak tadi malam dia berlutut di pintu masuk pantai."Kreydon memutar matanya."Katanya, dia nggak akan bangkit kalau belum bertemu denganmu. Petugas keamanan sudah mengusirnya tiga kali, tetap nggak berhasil."Melalui jendela kaca besar, terlihat sosok wanita di tengah hujan deras. Tubuhnya basah kuyup, celana mahalnya sudah terkikis pasir karang yang kasar, darah samar terlihat di lututnya.Payung hitam yang dibentangkan pengawal didorongnya menjauh, seolah dia ingin membiarkan hujan itu membe

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 9

    Bianca mengeluarkan ponsel dari tasnya dan memutar sebuah video.Di layar, Roderick berdiri di depan jendela rumah sakit jiwa dengan wajah pucat dan kurus. Karena efek samping obat jangka panjang, wajahnya membengkak dan berubah bentuk. Dia menatap kosong ke luar jendela."Aku menyuruhnya melayani tamu, lalu memasukkannya ke rumah sakit jiwa."Bianca menjelaskan dengan tergesa-gesa, "Kamu benci dia, jadi aku membuatnya menerima ganjarannya.""Kamu pikir aku meninggalkanmu karena Roderick?" Aku tiba-tiba tertawa. "Kalau begitu, kukasih tahu kamu, deh.""Aku nggak peduli. Sama seperti aku sudah nggak peduli lagi sama kamu dari dulu."Evana menggenggam tanganku dengan tenang, jari-jarinya menyelip di antara jemariku. Aku melihat tatapan Bianca terpaku pada tangan kami yang saling bertaut. Tangannya sedikit bergetar."Kami akan menikah bulan depan," ucapku dengan tenang. "Semoga saat itu kamu bisa memberi kami doa restu."Mendengar hal itu, Evana yang biasanya tenang langsung tersenyum leb

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 8

    "Katakan pada divisi keuangan, naikkan lagi dua poin bunga saham yang dijaminkan ke bank."Saat Gulfstream G650 menembus lapisan stratosfer, aku sedang berada di executive lounge Hotel Four Seasons dan menandatangani penerimaan sebuah paket khusus.Ketika lapisan bubble wrap kubuka, tujuh buku akta nikah berlapis emas dan tujuh buku akta cerai memantulkan kilau yang terasa menyindir di bawah cahaya lampu.Di antara berkas itu terselip catatan dari Kreydon.[ Dia bilang kalau semua ini terkumpul, kamu pasti akan berubah pikiran. ]Aku menekan bel panggil dengan tenang, lalu tersenyum kepada pelayan yang datang."Tolong hancurkan ini dengan mesin penghancur kertas."....Saat Bianca akhirnya menemukanku, aku sedang minum kopi bersama calon pasangan perjodohanku, Evana dari Grup Marker.Di dalam rumah kaca transparan di Fifth Avenue, New York, ujung jari Evana mengusap bibir cangkir kopi dengan perlahan.Selama tiga tahun ini, ratu akuisisi yang dijuluki "serigala gila" di Wall Street itu

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 7

    Bianca mengeluarkan ponsel dan menelepon pengawal. "Segera ke sini. Antar Pak Roderick kembali ke tempat yang seharusnya dia berada."Roderick benar-benar panik. "Kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini, Bianca! Aku sangat mencintaimu ...."Yang menjawabnya hanyalah suara pintu besar yang terbuka. Kedua pengawal berpakaian hitam menyeretnya keluar. Jeritannya semakin lama semakin menjauh di tengah malam.Bianca berdiri diam di tempat. Menatap mangkuk sup yang terjatuh di lantai, dia perlahan berjongkok.Aroma sup iga dan akar teratai menyebar di udara. Seperti orang yang tidak akan pernah kembali itu.....Saat pesawat mendarat di landasan negara asing, aku menatap pemandangan yang tidak kukenal di luar jendela, dan untuk sesaat merasa seolah berada di dunia lain.Begitu keluar dari lorong kedatangan, aku melihat sosok ayahku yang kini sedikit membungkuk.Dulu dia adalah raksasa bisnis yang penuh wibawa. Kini, rambut di pelipisnya sudah memutih. Saat melihatku, matanya langsung mem

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 6

    "Dia harus ditemukan!"Suara Bianca serak dan matanya merah menyala. Seakan-akan, kini dia akhirnya menyadari bahwa aku benar-benar tidak menginginkannya lagi kali ini.....Bianca pulang ke rumah dengan langkah kaku. Saat pintu dibuka, aroma masakan yang familier langsung tercium. Sup iga dan akar teratai yang segar dan manis. Masakan andalanku.Jantungnya berdegup keras. Kilatan kegembiraan melintas di matanya."Firza? Kamu sudah pulang?" Dia hampir tersandung saat berlari ke dapur. Tatapannya penuh harap dan sukacita. Namun saat melihat orang di dapur, ekspresinya langsung membeku. Senyumnya perlahan menghilang.Bukan dia.Roderick mengenakan piama sutra putih sambil mengaduk sup dalam panci tanah liat dengan santai. Melihat Bianca kembali, dia tersenyum lembut."Bianca, kamu sudah pulang?"Semua harapan itu lenyap dalam sekejap. Wajah Bianca langsung menjadi kaku. "Bukannya kamu sudah kembali ke luar negeri?" Bianca ingat jelas, dia sendiri yang mengantar Roderick ke bandara."Aku

  • Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain   Bab 5

    "Selamat tinggal, mantan istriku."Aku menutup telepon dengan tegas, lalu mematikan ponsel. Mendengar deru mesin pesawat, akhirnya ada rasa lega seolah semuanya benar-benar telah berakhir.Bianca berdiri di rumah Kreydon, menggenggam ponsel yang panggilannya sudah diputus. Wajahnya tampak terpaku. Suaranya serak, seperti sedang menahan emosinya. "Dia pergi ke mana?"Kreydon menyilangkan tangan dan mencibir. "Kenapa? Sekarang baru kepikiran mau nanya? Dia sudah pergi.""Pergi? Apa maksudnya? Dia pergi ke mana?!"Kreydon mengangkat bahu, sengaja tersenyum licik. "Kamu pikir aku bakal ngasih tahu kamu?"Tatapan Bianca langsung mendingin. "Kreydon, aku nggak punya waktu untuk main-main denganmu.""Oh, Bu Bianca panik ya?" Kreydon memutar mata, lalu berjalan ke pintu dan membukanya lebar-lebar."Silakan pergi. Tempat ini nggak menyambutmu."Bianca tetap berdiri di tempat, ekspresinya berubah-ubah. "Kami sudah sepakat hari ini akan menikah lagi. Dia nggak bisa menghilang begitu saja.""Oh, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status