Kata-kata itu seperti pisau tajam yang menghancurkan sisa ilusi terakhir di hati Stella. Dia terjatuh ke lantai, membiarkan para petugas keamanan menyeretnya pergi.Di ruang gawat darurat rumah sakit, Jerico berdiri di depan ruang operasi dengan wajah kelam. Sudah setengah jam sejak para petugas keamanan membawa Stella masuk, tetapi dokter belum juga keluar.Akhirnya, seorang dokter paruh baya berjas putih muncul. Dia melepas masker dan berkata, "Pak Jerico, maaf, kami nggak bisa melakukan tindakan pengguguran pada pasien ini.""Apa maksudnya?" tanya Jerico dengan dahi berkerut."Dari hasil pemeriksaan, dinding rahim pasien sangat lemah. Kalau dipaksakan, risikonya perdarahan hebat yang bisa mengancam nyawa," jelas dokter itu. "Kami nggak bisa mengambil risiko tersebut."Wajah Jerico semakin gelap. "Ganti dokternya. Aku mau yang terbaik.""Pak Jerico, ini bukan soal kemampuan dokter," tegasnya. "Kondisi fisiknya yang nggak memungkinkan. Dokter mana pun yang bertanggung jawab nggak akan
Ler mais