Jerico bergegas ke rumah sakit sambil membawa sekantong besar suplemen dan buket bunga. Wajahnya dipenuhi kecemasan dan rasa bersalah. Dia melihat Rhea berdiri di luar ruang ICU. Penampilannya tampak kusut, wajahnya pucat karena semalaman tidak tidur. Hatinya terasa perih melihat kondisi istrinya."Rhea, kamu nggak apa-apa? Gimana keadaan Ayah?" tanyanya pelan seraya mencoba meraih bahu Rhea.Rhea menatapnya dingin dan mundur selangkah, menghindari sentuhannya. "Sudah lewat masa kritis.""Rhea, aku harus jelaskan soal kemarin," katanya tergesa. "Pesan itu dikirim Stella tanpa sengaja. Harusnya dia kirim ke pacarnya."Rhea mencibir. "Salah kirim? Jerico, kamu pikir aku akan percaya kebohongan serendah itu?"Saat itu pintu ruang perawatan terbuka. Seorang perawat keluar. "Silakan masuk, tapi jangan berisik."Mereka masuk. Bagas terbaring lemah di ranjang. Begitu melihat keduanya, senyum lega terbit di wajahnya."Rhea, kamu sudah di sini," ucapnya lirih. "Ayah nggak apa-apa, jangan khawat
อ่านเพิ่มเติม