Hujan sudah reda, tapi jalan setapak masih basah dan licin. Air menggenang di beberapa bagian, memantulkan cahaya lampu jalan yang redup.Rama berjalan dengan langkah agak terburu-buru, payung yang diberikan Sinta masih terbuka di atas kepalanya meski air hanya menetes pelan dari daun-daun.Bibirnya masih terasa hangat. Ciuman Sinta tadi begitu tiba-tiba, begitu jujur, sampai membuatnya sempat mematung di depan pintu. “Aku sayang kamu, Mas.” Kalimat itu terus berputar di kepalanya, bercampur dengan bayangan tubuh wanita itu yang begitu menggoda."Jackpot tambahan," gumamnya dalam hati sambil tersenyum sendiri. Bukan cuma tubuh yang enak, tapi sekarang sudah ada pengakuan dari Sinta. Dan yang lebih gila, wanita itu bahkan seperti memberikan lampu hijau untuknya."Kapanpun kamu mau, aku siap Mas."Tapi pikiran Rama tidak berhenti di situ.Ia kembali teringat bayangan Lina dan Rina yang terlihat begitu santai di sofa. Gaun tidur tipis, tali bahu yang hampir melorot, paha yang terbuka,
Última actualización : 2026-07-31 Leer más