ВойтиDihukum ke Desa? Rama benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan orangtuanya yang menghukumnya untuk tinggal di desa bersama neneknya. Hanya gara-gara skandal perkelahian dengan anak dari salah satu pejabat di kotanya, Rama dengan berat hati harus meninggalkan kehidupan mewahnya dan tinggal di desa sebagai petani. Awalnya, ia merasa seperti sedang dihukum mati. Tapi setelah ia bertemu dengan janda yang dikenal sebagai janda kembang desa, kehidupannya kembali berubah. Apakah Rama mampu menjalani hari-harinya yang terasa berat sekaligus penuh godaan?
Узнайте больше"Gede juga ya, Mas..."
Rama menoleh cepat, alisnya bertaut. "Apanya?" Sinta terkekeh, matanya turun memandangi cangkul di tangan Rama, lalu perlahan naik menatap dada bidang cowok itu yang basah oleh keringat. "Lahannya lah, Mas. Kenapa? Udah lemes aja sih?” Rama memutar bola matanya malas. Wanita di hadapannya ini siapa, sih? Mengganggu saja. Namun, sekeras apa pun Rama mencoba abai, pandangannya justru terpaku pada sosok wanita desa di depannya. Wanita itu memakai daster ketat yang agak basah oleh sisa embun dan keringat pagi, melekat erat hingga mencetak jelas lekuk dadanya yang padat. Potongan dasternya yang pendek di atas lutut mengekspos paha seputih susu yang tampak kontras dengan tanah sawah. "Mas, Mas cucunya Nenek Ratna ya? Yang dari kota itu ya? Kok pagi-pagi udah nyangkul aja sih," cerocos gadis itu lagi, sengaja memiringkan kepalanya dengan tatapan mata yang berani mengabsen lekuk tubuh atletis Rama. Ujung lidahnya sekilas membasahi bibir bawahnya yang penuh, sebuah kode undangan implisit yang biasa Rama temui di klub malam Jakarta, tapi kali ini terasa jauh lebih mematikan karena kini ia di kampung neneknya. Belum sempat Rama membalas, langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah belakang. Nenek Ratna datang sambil membawa caping bambu di tangannya, "Iya, Sinta, ini cucu saya. Biasalah, nakal di kota, makanya kena batunya dihukum ke sini," ujar Nenek Ratna, menyerahkan topi caping itu ke dada Rama dengan kasar. Wanita tua itu kemudian beralih menatap tajam ke arah cucunya. Sepasang matanya menyipit penuh wibawa, sama sekali tidak gentar melihat rahang Rama yang mengeras menahan emosi. "Nggak usah pasang muka masam begitu, kamu di sini mau tobat, bukan liburan," dengus Nenek Ratna dingin. “Kamu beruntung Papa kamu masih mau mengirimmu ke sini, bukannya biarin kamu di penjara.” Rama mengepalkan tangannya kuat-kuat. Baru sehari, sabar Rama. “Lagian kamu ngapain sih Le mukul-mukul anak orang?” Kalimat neneknya itu telak menghantam sisa-sisa harga dirinya, memutar kembali memori laknat pekan lalu di club. Malam itu, Rama kehilangan kendali. Hanya karena masalah sepele di lantai dansa, dia sengaja melayangkan jotosan mentah ke wajah seorang pria mabuk hingga terkapar kritis di lantai marmer. Rama baru tahu keesokan paginya bahwa pria yang ia pukul sampai berdarah-darah itu adalah anak tunggal pejabat. Lagian siapa suruh pria itu main tangan dengan wanita? Rama tak kuasa menahannya. Mau tak mau ia yang angkat tangan. Tidak ada nego, tidak ada uang damai. Pihak pejabat yang murka menuntut hukuman pada Rama karena telah membuat anak semata wayangnya bonyok. Dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bisnis ayahnya adalah mengasingkan Rama ke tempat terpencil ini, tanpa kartu kredit, tanpa mobil sport, dan tanpa ponsel. Lengkap sudah penderitaan Rama hanya gara-gara menyenggol pejabat yang sok berkuasa itu. "Dengerin itu nenekmu, Mas. Jangan melamun terus, nanti kesambet penunggu sawah, lho," goda Sinta lagi, suaranya terdengar serak membelai rungu Rama. Nenek Ratna menggelengkan kepala, lalu berbalik membelakangi mereka. "Nduk, nenek minta tolong awasi anak manja ini, ya. Kalau dia malas-malasan, laporkan ke Nenek. Nenek mau ke rumah Pak RT sebentar." Begitu punggung Nenek Ratna menjauh dan menghilang di balik pepohonan, keheningan mendadak terasa mencekik di antara Rama dan Sinta. “Mbak ngapain masih disini? Saya gak minta di awasin.” “Lagian saya mau kabur juga kabur kemana handphone saya disita.” imbuhnya sekali lagi. "Ya… tergantung, Mas. Kalau cowoknya kayak Mas..." Sinta menjeda kalimatnya, jemari lentiknya bergerak berani, menyentuh lengan atas Rama yang tegap, lalu mengusapnya perlahan hingga ke dada bidang cowok itu yang naik turun memburu. "...aku sih betah aja ngawasinnya lama-lama." "Emang orang kota biasanya gede-gede ya, Mas?" tanya Sinta lagi, nadanya merendah, terdengar begitu malas sekaligus memprovokasi. "Kok... cepet lemesnya?" Rama menaikkan sebelah alisnya, tersinggung, “Maksudnya apa Mbak? Saya kan baru ini disuruh urusin sawah suruhan nenek. Mana tau berat gini.” "Masa?" Sinta sengaja memajukan tubuhnya, hingga deru napas hangatnya menyapu leher Rama. "Baru disuruh liatin sawah segini aja udah keringetan parah. Tenaganya cuma segini, atau emang loyo aja?” Rama mendengus kasar, wajahnya menggelap karena jengah. “Pulang aja mbak, Ganggu aja dari tadi." “Mau saya bantuin gak, Mas?" Sinta berjongkok di depan Rama. Jarak mereka mengikis habis, membuat aroma tubuh gadis itu menginvasi seluruh indra penciuman Rama. "Bantuin apaan?" tanya Rama ketus, mencoba menahan gejolak aneh di dadanya. "Mba, jangan gangguin saya deh. Saya lagi pusing," usir Rama lagi saat jemari lentik Sinta mulai bergerak berani, menyentuh gagang cangkul yang dipegang Rama, lalu perlahan merambat naik ke pergelangan tangannya. Sinta tidak mundur, dia justru memberikan senyuman miring yang tampak begitu menggairahkan. Tatapannya turun, mengunci lekat pada bibir Rama yang sedikit terbuka sebelum mendongak menatap sepasang mata cowok itu dengan berani. "Bantuin biar gak lemes, Mas... Biar Masnya betah di sini." Rama terdiam, tenggorokannya mendadak kering kering kerontang. Sialan, batin Rama, kalau hukumannya di desa bentukannya seperti ini, sepertinya tempat ini bakal jauh lebih berat daripada di Jakarta.Sinta masih menatap takjub akan ukuran milik Rama yang belum pernah dilihatnya. Bahkan milik suaminya dulu tidak sebesar milik pemuda itu. "Kira-kira muat gak, Mas? Aku udah lama gak di sentuh soalnya," gumam Sinta sedikit sangsi melihat kejantanan Rama yang mulai menggesek area luar bagian sensitifnya. Tapi Rama belum memasuki inti tubuh wanita itu. Ia meletakan kedua kaki Sinta di pundaknya. "Kamu siap, Mbak?" Sinta mengangguk singkat. Ia menggigit bibirnya tatkala Rama mulai memasuki tubuhnya secara perlahan. "Ohh... yeah! Mas... terus... ya begitu!" Sinta menatap miliknya yang meregang. Penuh oleh penyatuan milik Rama yang seperti ingin merobeknya. Ini pertama kalinya ia merasakan penuh dan sesak. Miliknya yang mungil dan imut ini harus berkelahi dengan milik Rama yang raksasa. Rama masih belum memulai aksinya. Ia masih menunggu Sinta menyesuaikan agar wanita itu tidak merasa kesakitan. Ia ingin wanita itu menikmati permainannya. "Gimana Mbak, sakit?" Sinta kembal
Rama mendongakkan kepalanya saat bibir Sinta yang terasa lembut itu bermain-main di lehernya. Erangan pelan keluar dari bibirnya, matanya terpejam menikmati sentuhan Sinta yang lembut tapi memabukkan. "Mas kamu yakin mau di sini?" bisik Sinta. Ia menghentikan aksinya mencumbu Rama, melihat sekitar. Walaupun kamar mandi ini bersih, tapi masa iya harus di sini? Gimana kalau Nenek Ratna tiba-tiba bangun ingin ke toilet? Seakan baru tersadar, Rama membuka matanya. Bukannya menjawab, ia malah tersenyum nakal dan menatap Sinta penuh gairah. Ia benar-benar hilang akal ketika melihat tubuh Sinta yang begitu mempesona. "Emangnya kenapa kalo di sini?" Rama balik bertanya, melangkah lebih dekat hingga membuat punggung Sinta menempel sempurna di tembok. Tangannya meraih pinggul Sinta, membuat wanita itu berjinjit hingga dadanya yang montok itu menempel di tubuhnya. Sinta menggelengkan kepalanya, memeluk erat leher Rama. "Emang kamu gak mau pindah ke kamar kamu, Mas?" tanya Sinta manj
Sinta gemetar hebat di dalam dekapan Rama. Tubuhnya yang montok menempel erat di dada telanjang cowok itu. Napasnya tersengal, matanya melebar karena kaget bercampur sesuatu yang lebih dalam. “M-Mas… ini apa?” bisiknya dengan suara bergetar, hampir tak terdengar. Rama tidak menjawab. Tangan kirinya masih membungkam mulut Sinta dari belakang, sementara tangan kanannya memeluk pinggang wanita itu erat. Kejantanannya yang sudah sangat tegang dan keras menekan bokong Sinta dari belakang, hanya terhalang kain tipis roknya. “Shhh… diam, Mbak,” bisik Rama di telinga Sinta, suaranya parau dan penuh nafsu. “Nenek lagi tidur. Jangan berisik.” Sinta menggeliat pelan, tapi bukan untuk melepaskan diri. Tubuhnya malah semakin menempel ke belakang, merasakan panas dan kekerasan milik Rama yang menekan bokongnya. Ia bisa merasakan denyutannya yang kuat. Rama mengerang pelan, meletakkan kepalanya di celah leher Sinta. Menciumi leher wanita itu penuh nafsu. Sedangkan pinggulnya terus bergerak, men
Rama menghembuskan napas, menatap langit. Ia mendadak cemas sendiri. Jantungnya berdegup agak cepat. Tangannya sedikit gemetar tanpa alasan yang jelas.Fakk... gue salah gak sih, malah nawarin kerjaan ginian ke janda? batin Rama, mengusap wajahnya gusar.Niat awalnya jujur karena kasihan setelah mendengar cerita Sinta yang harus menghidupi dua adiknya. Tapi mengingat insiden di kamar mandi siang tadi, Rama jadi agak sangsi dengan isi kepalanya sendiri. Perempuan itu memang kelihatan polos sekarang, tapi lekuk tubuhnya yang matang jelas bukan sesuatu yang gampang diabaikan oleh laki-laki normal.Oke, aman. Rama, tenang aja, dia mencoba mendoktrin otaknya sendiri. Kesadaran diri lo lebih tinggi.Saat sedang sibuk menimbang dalam hati, tanpa sadar suara perempuan menegurnya. "Mas Rama,” panggil Sinta. Ia masih berdiri canggung di depan teras. "Mas Rama, maaf ya agak telat. Tadi nunggu adik-adik tidur dulu," Rama seketika itu langsung menoleh. Kelabakan melihat Sinta yang kini menunduk






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.