Dihukum ke Pelukan Kembang Desa

Dihukum ke Pelukan Kembang Desa

last updateПоследнее обновление : 2026-07-22
От :  Chouw Updated just now
Язык: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Недостаточно отзывов
8Главы
15Кол-во прочтений
Читать
Добавить в мою библиотеку

Share:  

Report
Aннотация
Каталог
SCAN CODE TO READ ON APP

Dihukum ke Desa? Rama benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan orangtuanya yang menghukumnya untuk tinggal di desa bersama neneknya. Hanya gara-gara skandal perkelahian dengan anak dari salah satu pejabat di kotanya, Rama dengan berat hati harus meninggalkan kehidupan mewahnya dan tinggal di desa sebagai petani. Awalnya, ia merasa seperti sedang dihukum mati. Tapi setelah ia bertemu dengan janda yang dikenal sebagai janda kembang desa, kehidupannya kembali berubah. Apakah Rama mampu menjalani hari-harinya yang terasa berat sekaligus penuh godaan?

Узнайте больше

Chapter 1

Bab 1

"Gede juga ya, Mas..."

Rama menoleh cepat, alisnya bertaut. "Apanya?"

Sinta terkekeh, matanya turun memandangi cangkul di tangan Rama, lalu perlahan naik menatap dada bidang cowok itu yang basah oleh keringat. "Lahannya lah, Mas. Kenapa? Udah lemes aja sih?”

Rama memutar bola matanya malas. Wanita di hadapannya ini siapa, sih?

Mengganggu saja.

Namun, sekeras apa pun Rama mencoba abai, pandangannya justru terpaku pada sosok wanita desa di depannya.

Wanita itu memakai daster ketat yang agak basah oleh sisa embun dan keringat pagi, melekat erat hingga mencetak jelas lekuk dadanya yang padat. Potongan dasternya yang pendek di atas lutut mengekspos paha seputih susu yang tampak kontras dengan tanah sawah.

"Mas, Mas cucunya Nenek Ratna ya? Yang dari kota itu ya? Kok pagi-pagi udah nyangkul aja sih," cerocos gadis itu lagi, sengaja memiringkan kepalanya dengan tatapan mata yang berani mengabsen lekuk tubuh atletis Rama.

Ujung lidahnya sekilas membasahi bibir bawahnya yang penuh, sebuah kode undangan implisit yang biasa Rama temui di klub malam Jakarta, tapi kali ini terasa jauh lebih mematikan karena kini ia di kampung neneknya.

Belum sempat Rama membalas, langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah belakang. Nenek Ratna datang sambil membawa caping bambu di tangannya, "Iya, Sinta, ini cucu saya. Biasalah, nakal di kota, makanya kena batunya dihukum ke sini," ujar Nenek Ratna, menyerahkan topi caping itu ke dada Rama dengan kasar.

Wanita tua itu kemudian beralih menatap tajam ke arah cucunya. Sepasang matanya menyipit penuh wibawa, sama sekali tidak gentar melihat rahang Rama yang mengeras menahan emosi.

"Nggak usah pasang muka masam begitu, kamu di sini mau tobat, bukan liburan," dengus Nenek Ratna dingin.

“Kamu beruntung Papa kamu masih mau mengirimmu ke sini, bukannya biarin kamu di penjara.”

Rama mengepalkan tangannya kuat-kuat. Baru sehari, sabar Rama.

“Lagian kamu ngapain sih Le mukul-mukul anak orang?”

Kalimat neneknya itu telak menghantam sisa-sisa harga dirinya, memutar kembali memori laknat pekan lalu di club. Malam itu, Rama kehilangan kendali. Hanya karena masalah sepele di lantai dansa, dia sengaja melayangkan jotosan mentah ke wajah seorang pria mabuk hingga terkapar kritis di lantai marmer.

Rama baru tahu keesokan paginya bahwa pria yang ia pukul sampai berdarah-darah itu adalah anak tunggal pejabat.

Lagian siapa suruh pria itu main tangan dengan wanita? Rama tak kuasa menahannya. Mau tak mau ia yang angkat tangan.

Tidak ada nego, tidak ada uang damai. Pihak pejabat yang murka menuntut hukuman pada Rama karena telah membuat anak semata wayangnya bonyok.

Dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bisnis ayahnya adalah mengasingkan Rama ke tempat terpencil ini, tanpa kartu kredit, tanpa mobil sport, dan tanpa ponsel.

Lengkap sudah penderitaan Rama hanya gara-gara menyenggol pejabat yang sok berkuasa itu.

"Dengerin itu nenekmu, Mas. Jangan melamun terus, nanti kesambet penunggu sawah, lho," goda Sinta lagi, suaranya terdengar serak membelai rungu Rama.

Nenek Ratna menggelengkan kepala, lalu berbalik membelakangi mereka. "Nduk, nenek minta tolong awasi anak manja ini, ya. Kalau dia malas-malasan, laporkan ke Nenek. Nenek mau ke rumah Pak RT sebentar."

Begitu punggung Nenek Ratna menjauh dan menghilang di balik pepohonan, keheningan mendadak terasa mencekik di antara Rama dan Sinta.

“Mbak ngapain masih disini? Saya gak minta di awasin.”

“Lagian saya mau kabur juga kabur kemana handphone saya disita.” imbuhnya sekali lagi.

"Ya… tergantung, Mas. Kalau cowoknya kayak Mas..." Sinta menjeda kalimatnya, jemari lentiknya bergerak berani, menyentuh lengan atas Rama yang tegap, lalu mengusapnya perlahan hingga ke dada bidang cowok itu yang naik turun memburu. "...aku sih betah aja ngawasinnya lama-lama."

"Emang orang kota biasanya gede-gede ya, Mas?" tanya Sinta lagi, nadanya merendah, terdengar begitu malas sekaligus memprovokasi. "Kok... cepet lemesnya?"

Rama menaikkan sebelah alisnya, tersinggung, “Maksudnya apa Mbak? Saya kan baru ini disuruh urusin sawah suruhan nenek. Mana tau berat gini.”

"Masa?" Sinta sengaja memajukan tubuhnya, hingga deru napas hangatnya menyapu leher Rama. "Baru disuruh liatin sawah segini aja udah keringetan parah. Tenaganya cuma segini, atau emang loyo aja?”

Rama mendengus kasar, wajahnya menggelap karena jengah.

“Pulang aja mbak, Ganggu aja dari tadi."

“Mau saya bantuin gak, Mas?" Sinta berjongkok di depan Rama. Jarak mereka mengikis habis, membuat aroma tubuh gadis itu menginvasi seluruh indra penciuman Rama.

"Bantuin apaan?" tanya Rama ketus, mencoba menahan gejolak aneh di dadanya.

"Mba, jangan gangguin saya deh. Saya lagi pusing," usir Rama lagi saat jemari lentik Sinta mulai bergerak berani, menyentuh gagang cangkul yang dipegang Rama, lalu perlahan merambat naik ke pergelangan tangannya.

Sinta tidak mundur, dia justru memberikan senyuman miring yang tampak begitu menggairahkan. Tatapannya turun, mengunci lekat pada bibir Rama yang sedikit terbuka sebelum mendongak menatap sepasang mata cowok itu dengan berani.

"Bantuin biar gak lemes, Mas... Biar Masnya betah di sini."

Rama terdiam, tenggorokannya mendadak kering kering kerontang.

Sialan, batin Rama, kalau hukumannya di desa bentukannya seperti ini, sepertinya tempat ini bakal jauh lebih berat daripada di Jakarta.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Комментариев нет
8
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status