“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Kau yakin?” “Ya. Aku tidak terlalu lapar.” Tanpa menunggu jawaban, Aurelia membawa piringnya ke dapur. Ia membuka keran, membiarkan air mengalir deras, menutupi napasnya yang tak stabil. Langkah kaki mendekat. Jantungnya langsung berpacu. Caleb. Ia tidak perlu menoleh, ia tahu dari aromanya. Bukan karena kemarin mereka menghabiskan malam yang panjang, tapi karena sejak dulu, aroma maskulin itu tidak pernah berubah. Aurelia membenci dirinya yang begitu mengenal Caleb. Ia merasa bersalah pada Clarissa, merasa seperti pengkhianat. Tapi di samping itu semuanya, ia tetap tidak bisa menghentikan debaran jantungnya yang kacau saat Caleb berada di dekatnya. Ia masih ingat jelas, bagaimana
Huling Na-update : 2026-03-04 Magbasa pa