Share

Selamat Tinggal

Author: Shinee
last update publish date: 2026-04-23 23:39:44

Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.

Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka. Dia tidak mengenakan apa pun di balik selimut yang menutupi mereka.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Suara Aurelia menggema di kamar. Napasnya memburu, tangannya mencengkeram selimut erat menutupi tubuhnya.

Caleb terbangun. Matanya terbuka perlahan, tanpa panik. Tanpa tergesa.

Aurelia menatapnya dengan sorot penuh amarah. “Aku bertanya, apa yang kau lakukan di sini?!”

Caleb duduk. Gerakannya santai. Terlalu santai untuk situasi seperti ini.

“Menyelematkanmu.” Datar, singkat, tanpa penjelasan berarti.

Aurelia tertawa pendek. Miris. “Menyelamatkan?” Ia menggeleng, matanya memanas. “Dengan naik ke atas ranjang adik iparmu?”

Nada suaranya naik, tajam. “Aku bukan Clarissa, kalau kau lupa.”

Caleb berdiri tanpa terburu-buru. Ia meraih piyamanya yang tergeletak di kursi, mengenakannya tanpa rasa canggung, seolah Aurelia bahkan tidak ada di sana.

“Aku tidak hilang ingatan.” Jawaban itu jatuh dingin.

Aurelia tersenyum sinis. “Bagus.” Matanya menatap lurus ke Caleb, menantang pria itu. “Itu artinya kau juga tidak lupa kalau pusara kakakku masih basah.”

Hening seketika. Udara di kamar terasa berat.

Caleb berhenti sejenak. Lalu menoleh. Tatapannya gelap dan menghunus. “Apa kau mengira aku naik ke atas ranjangmu karena tertarik?” Suaranya rendah mengandung bahaya.

“Naif sekali.” Kalimat itu seperti tamparan dan Caleb tidak menunggu jawaban. Ia langsung berbalik dan keluar dari kamar.

Pintu tertutup dengan suara keras. Dibanting dengan sengaja.

Aurelia membeku beberapa detik. Lalu dadanya naik turun. Emosinya meledak. Ia merasa terhina.

“Brengsek…” bisiknya.

Ia melempar selimut itu ke samping, bangkit dari ranjang dengan gerakan kasar.

Ia tidak akan tinggal di rumah itu. Ia tidak sudi seatap lebih lama bersama Caleb di dalamnya.

Ia mengemas pakaiannya dengan cepat. Beberapa saat kemudian, ia turun dengan koper di tangannya.

Caleb berdiri di ruang tengah. Ia menoleh saat melihatnya. Alisnya langsung menukik. “Mau ke mana?”

Aurelia tidak berhenti. “Aku tidak punya alasan untuk tinggal di sini.”

Rahang Caleb mengeras. “Kau masih sakit.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau tidak sadarkan diri tadi malam.”

“Aku tidak butuh bantuanmu.”

Caleb menatapnya lebih tajam. “Kau tinggal. Sampai kau pulih.”

Aurelia tertawa pendek. Sinis. “Dan siapa yang bisa menjamin kau tidak akan naik lagi ke ranjangku?”

Mendengar kalimat itu, mata Caleb langsung berubah. Ia jelas tersinggung.

“Sejak dulu kau memang pandai memancing amarah,” gumamnya rendah.

Aurelia tidak menjawab.

Caleb menarik napas panjang. “Baik.” Satu kata itu keluar pelan. “Kalau itu yang kau takutkan, aku yang akan pergi.”

Aurelia tertegun. Ia tidak menyangka itu. Sebelum ia sempat merespon, pria itu sudah berbalik.

Beberapa detik kemudian, suara mesin mobil meraung. Dan mobil itu melesat pergi tanpa ragu.

Aurelia seketika luruh ke lantai. Ia menangis lagi.

Lelah menangis, ia kembali ke kamarnya. Caleb benar-benar tidak kembali lagi dan dia benar-benar sakit.

Selama seminggu dia hanya berkurung di kamar, meratapi kesedihannya yang justru membuatnya semakin lemas.

Di minggu kedua, ia menerima email dari Hamilton grup bahwa ia diterima bekerja.

Aurelia merasa ia memang harus menyibukkan diri jika tidak ingin tubuhnya membusuk.

Tapi membayangkan dia harus sekantor dengan Caleb, dadanya kembali sakit. Ia belum siap untuk bertemu dengan Caleb. Bukan karena ia masih marah, tapi karena ia tahu alasan Caleb berada di kamarnya.

Dokter keluarga datang untuk memeriksa Aurelia dan menceritakan hal itu. Aurelia benar-benar merasa malu.

Aurelia pun membalas email tersebut dengan mengatakan ia meminta waktu karena sedang dalam pemulihan.

Email selanjutnya datang dengan mengatakan Aurelia bisa datang kapan pun dia siap.

Namun dua minggu kemudian, dia masih saja sakit. Malah bertambah parah. Kepalanya pusing dan ia selalu merasa mual di pagi hari.

Tidak tahan dengan keluhan yang sama setiap pagi, Aurelia akhirnya memutuskan untuk periksa ke rumah sakit.

Tiba di rumah sakit, Aurelia duduk di kursi tunggu dengan tangan saling menggenggam. Jari-jarinya pucat. Napasnya pendek. Ia sudah menjelaskan keluhan yang sama berulang kali.

Pusing. Mual setiap pagi. Tubuh lemas.

Perawat itu mengangguk, mencatat sesuatu. Lalu berkata dengan nada profesional, “Silakan ke bagian obgyn, Nona.”

Aurelia membeku. “Apa?”

“Dokter kandungan akan memeriksa lebih lanjut.”

Jantungnya seperti berhenti berdetak. Kata itu menggema di kepalanya. Obgyn. Jantungnya seketika berhenti berdetak. Ingatan malam itu kembali terngiang.

Dengan langkah gontai ia menuju ruangan yang dimaksud. Ia menunggu dengan cemas sampai namanya dipanggil.

“Tidak mungkin…” bisiknya pelan.

Namanya itu akhirnya dipanggil membuatnya tersentak.

“Nyonya Aurelia.”

Darahnya langsung berdesir. Ia masuk ke ruangan. Senyum hangat Dokter kandungan itu tidak berhasil menenangkannya sama sekali.

“Silakan duduk.”

Aurelia duduk dengan kaku.

“Kapan terakhir menstruasi?” tanya dokter itu lembut.

Aurelia menjawab pelan. Suaranya nyaris tak terdengar.

Dokter itu mengangguk. Senyum itu kembali muncul. Senyum yang membuat Aurelia semakin gelisah.

“Baik. Kita periksa dulu, ya. Silakan berbaring.”

Aurelia menelan ludah. Ia menurut. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara alat medis.

Lalu dokter itu berhenti. Menatapnya dan mengucapkan kalimat yang menghancurkan segalanya.

“Selamat. Anda hamil.”

Dunia berhenti. Benar-benar berhenti. Aurelia menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Tidak percaya.

Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Malam terlarang itu meninggalkan benih di perutnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia bingung harus bereaksi seperti apa.

Tangannya perlahan bergerak, menyentuh perutnya sendiri. Gemetar.

“Aku…” suaranya pecah. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tidak tahu harus merasa apa.

Ia benar-benar bingung. Ia sendiri dan ia takut.

Sepanjang perjalanan pulang Aurelia terus memikirkan apa yang harus dia lakukan.

Aurelia duduk di dalam taksi, menatap kosong ke luar jendela. Pikiran di kepalanya berputar tanpa henti.

Mengatakan pada Caleb? Tidak mungkin. Pria itu bahkan tidak tahu bahwa malam itu adalah dirinya.

Ia menggigit bibirnya. Air mata jatuh lagi. Mobil berhenti di depan sebuah kafe. Aurelia turun tanpa benar-benar sadar kenapa. Kakinya bergerak sendiri.

Ia masuk, namun seketika tubuhnya membeku.

Caleb ada di sana. Duduk di dekat jendela bersama seorang wanita cantik yang elegan.

Dan pria itu tersenyum.

Hidupnya berjalan seperti biasa. Hati Aurelia terasa diremas.

“Dia masih bisa tersenyum…” bisiknya lirih. "Hidup sehat bahkan setelah kepergian Clarissa."

Sementara dirinya hancur.

Aurelia menunduk. Tangannya perlahan menyentuh perutnya. Ada kehidupan di sana. Darah Caleb.

Aurelia menggigit bibirnya sampai berdarah. Ia tidak ingin menangis lagi. Bukan saatnya untuk terlihat lemah.

Ada kehidupan yang harus dia perjuangkan.

“Aku harus pergi…”

Ya, ia sudah membuat keputusan. Ia tidak bisa bertahan di tempat yang sama dengan Caleb. Dengan rahasia sebesar ini.

Dengan perasaan yang semakin rumit. Ia berbalik, melangkah pergi.

"Selamat tinggal." Dan ia tidak menoleh lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Shinee
kwkkw... oke!!
goodnovel comment avatar
Shinee
oke, aman!!
goodnovel comment avatar
Shinee
aman, sip!!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Happy Ending

    "Terima kasih untuk semuanya, Sayang," bisik Aurelia lembut, jemari lentiknya perlahan mengusap lebatnya rambut Caleb yang sedang berbaring pasrah di atas pangkuannya.Hari berganti minggu, minggu berganti bulan hingga kehamilan Aurelia kini berada di penghujung hari persalinan. Masa-masa dramatis ngidam hingga couvade syndrome yang sempat menyiksa Caleb telah mereka lalui bersama dengan penuh suka cita.Caleb membuka matanya perlahan, menatap lurus manik mata istrinya dari bawah. "Untuk apa?""Untuk semuanya," sahut Aurelia tersenyum manis, membelai pipi tegap suaminya. "Kau sudah menjadi suami yang sangat siaga dan luar biasa selama ini."Caleb merengkuh jemari tangan Aurelia, mendaratkan ciuman hangat di telapak tangan istrinya. "Karena kau juga memberikan seluruh cintamu untukku dan untuk Maxi. Harusnya aku yang berterima kasih padamu, Nyonya Hamilton."Tiba-tiba, sebuah dorongan kuat menghantam dinding perut Aurelia dari dalam. Bayi di dalam kandungannya menendang cukup keras, me

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Keluarga Utuh

    "Apa kita perlu melakukan bulan madu sekarang, Sayang?" tanya Caleb dengan suara bariton yang serak, melangkah lesu keluar dari kamar mandi seraya menyapu sisa air di sekitar bibirnya.Aurelia bergerak cepat mendekat, merengkuh pinggang tegap suaminya lalu usapan lembut jarinya mengalir di sepanjang punggung Caleb. "Dengan kondisimu yang mual-mual menyiksa seperti ini, sempat-sempatnya kau masih memikirkan bulan madu, Caleb?"Caleb menggelengkan kepalanya tegas, mengabaikan rasa pening yang menghantam kepalanya. "Aku tidak apa-apa, Aureli. Aku ingin memberikan pernikahan yang benar-benar sempurna untukmu. Pesta, bulan madu, dan malam pertama yang penuh cinta. Kita akan mengulangi semuanya dari awal, Sayang."Aurelia menatap lurus manik mata suaminya dengan penuh cinta, menangkup pipi Caleb yang terasa agak dingin. "Kita bisa menahannya dulu. Lain kali saja saat kondisi fisikmu sudah membaik. Saat ini kau benar-benar kacau, wajahmu pucat dan kau terus-menerus mual."Caleb merengkuh tan

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Dengan Senang Hati

    "Terima! Terima! Terima!"Sorak-sorai riuh dari sudut area pesta mendadak menggema memenuhi ballroom megah, memotong langkah Caleb dan Aurelia yang baru saja hendak menghampiri kerumunan tamu undangan.Aurelia memekik kaget, menutupi mulutnya saat pandangannya menembus kerumunan orang yang sedang bersorak heboh. "Astaga, apa yang sedang dilakukan temanmu itu, Caleb?"Tepat di tengah lingkaran para tamu, Roland tampak berlutut anggun di atas satu kaki, mengacungkan sebuah kotak beludru terbuka ke arah Barbara yang terpaku membisu dengan wajah memerah sempurna.Caleb menyunggingkan senyum miringnya, merangkul pinggang Aurelia semakin erat. "Sepertinya dia sedang melakukan apa yang sudah kulakukan padamu beberapa hari lalu, Sayang.""Maksudku, bagaimana bisa dia tiba-tiba melamar Barbara seperti itu?" pangkas Aurelia memajukan tubuhnya, menatap suaminya tak percaya."Kenapa tidak bisa?" tanya Caleb santai, menaikkan sebelah alisnya. "Mungkin selama ini Roland menyukai sahabatmu itu secar

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Milikmu Selamanya

    "Di hadapan Tuhan dan seluruh saksi yang hadir hari ini, aku menyerahkan seluruh hidupku untukmu," ucap Caleb dengan suara bariton rendah yang bergetar penuh kilat emosi, menatap lurus ke dalam manik mata Aurelia.Acara pemberkatan pun dimulai dengan keheningan yang amat sakral. Aurelia dan Caleb berdiri saling berhadapan di depan altar, saling menatap lekat seraya mengaitkan jemari tangan mereka dengan erat. Pendeta yang berdiri membimbing mereka tersenyum lembut, memberi isyarat agar pasangan itu mengucapkan janji suci pernikahan.Caleb meremas lembut jemari Aurelia, menyusupkan ketegasan tanpa keraguan pada setiap kata yang diucapkannya. "Aureli, aku menerima dirimu sebagai istriku. Aku berjanji akan mencintaimu di saat tubuhmu terkuat hingga saat napasmu terlemah. Aku akan menjadi pelindungmu dari kegelapan, menjadi rumah bagi setiap duka dan bahagiamu, serta menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku hanya untuk membahagiakanmu dan anak-anak kita sampai maut memisahkan."Air mata bahagi

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Kita Sepakat.

    "Aku tidak pernah membayangkan hari ini benar-benar akan datang dalam hidupku," bisik sebuah suara lembut yang memecah keheningan ruang ganti pengantin yang serba putih dan mewah.Hari yang dinanti-nantikan itu pun akhirnya tiba. Pesta pernikahan Caleb dan Aurelia digelar secara megah dan besar-besaran, dihadiri oleh kalangan elit dari berbagai negara.Pintu ganda ruang ganti berornamen emas terdorong terbuka. Ibu Caleb melangkah masuk dengan anggun, mengenakan gaun berwarna salem yang sangat elegan.Aurelia langsung bangkit berdiri dari kursi riasnya begitu mengenali sosok ibu mertuanya. Setelah sekian lama tidak bertemu, ini adalah pertama kalinya mereka saling bertatapan kembali secara langsung.Wanita paruh baya yang masih tampak sangat jelita itu mengulas senyum haru, mempercepat langkahnya lalu mengulurkan kedua tangan untuk merengkuh tubuh Aurelia ke dalam pelukan yang teramat hangat."Kau cantik sekali, Sayang," puji ibu Caleb lirih, merenggangkan pelukan untuk mengusap kedua

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Kau Indah

    "Kau sudah dilamar oleh pria yang mencintaimu sebanyak dua kali, sedangkan aku sama sekali belum pernah merasakannya sekalipun dalam hidupku!" seru Barbara dengan gaya dramatis, menatap iri pada kilau berlian di jari manis Aurelia.Aurelia meledakkan tawa renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Sabar saja, Barbara. Mungkin doaku untukmu belum dikabulkan, tetapi aku percaya kelak akan ada pria baik hati yang mencintaimu secara ugal-ugalan."Manik mata Aurelia berbinar-binar cerah, tatapannya dipenuhi dengan kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan. Ia mengagumi cincin baru di jarinya. "Astaga, aku sungguh tidak menyangka Caleb akan melamarku lagi dengan cara seindah itu."Aurelia meraih jemari Barbara, menempelkan telapak tangan sahabatnya tepat di dada kirinya. "Kau dengar ini? Jantungku bahkan masih menggebu-gebu meneriakkan namanya. Tidakkah kau merasa suamiku itu sangat romantis?"Barbara memutar bola matanya jengah, menyunggingkan senyum miringnya. "Coba ingat kembali, sia

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Pria Itu Caleb

    Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Berhenti Berulah, Aureli

    Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Bip Panjang

    “Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Kebohongan Kecil

    “Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status