Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar

Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar

last updateLast Updated : 2026-04-23
By:  ShineeUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
16views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aurelia mencintai Caleb bahkan sebelum pria itu menjadi suami kakaknya, hingga satu malam terlarang membuatnya menggantikan sang kakak di kamar pengantin dan menyimpan rahasia yang tak pernah Caleb ketahui. Tahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam jarak yang dingin dan penuh luka, sampai kebenaran mulai terkuak dan menyeret mereka ke dalam pusaran hasrat lama, pengkhianatan, dan perasaan yang tak pernah benar-benar padam, membuat Caleb tak lagi rela kehilangan wanita yang tanpa sadar pernah menjadi miliknya.

View More

Chapter 1

Malam Pertama

"Gantikan aku. Untuk malam ini saja."

"Apa kau gila?!"

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki.

"Please."

"Aku tidak bisa!" tegasnya lagi. "Ini malam pertamamu dengan Caleb. Bagaimana mungkin kau memintaku melakukan hal seperti itu?"

Clarissa duduk di tepi ranjang pengantin yang dipenuhi kelopak mawar putih. Gaun pengantinnya masih melekat indah di tubuhnya, wajahnya tetap cantik seperti biasa, tapi pucatnya tak bisa disembunyikan. Tangan itu terulur, menggenggam jemari Aurelia dengan gemetar.

"Tolong, Aurel. Aku tidak bisa mengecewakannya malam ini. Aku tidak boleh."

"Kenapa? Katakan alasan yang masuk akal!" Aurelia hampir menangis.

"Aku tidak ingin dia melihatku pingsan. Dia belum boleh tahu."

Aurelia terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Clarissa sakit. Penyakit jantung bawaan. Sudah lama. Dokter bilang kondisinya bisa memburuk sewaktu-waktu.

"Tadi saat resepsi, dadaku kembali sesak. Obatku hampir habis." Napas Clarissa terdengar berat. "Aku tidak ingin Caleb tahu. Aku tidak ingin dia tahu dia menikahi perempuan yang lemah dan akan segera mati."

Air mata jatuh tanpa suara di pipi Aurelia. Ia membenci keadaan ini. Membenci takdir yang begitu kejam.

"Aku hanya butuh kau malam ini," bisik Clarissa. "Setelah itu aku akan mengatur semuanya. Aku hanya tidak ingin dia tahu aku tak mampu menjadi istrinya di malam pertama."

Kata-kata itu menghantam hati Aurelia lebih keras dari apa pun.

Caleb Hamilton. Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak sejak lama. Pria yang diam-diam ia sukai sejak remaja hingga sampai beberapa jam yang lalu.

Pria yang hari ini resmi menjadi suami kakaknya. Dan ia tahu ia harus mengubur dalam perasaannya. Ironisnya, kini ia diminta menggantikan Clarissa.

Rasa bersalah menggerogoti, tapi bayangan Clarissa terbaring lemah jauh lebih menakutkan.

Akhirnya, dengan tangan gemetar, Aurelia mengangguk.

Mereka menyusun rencana dengan cepat. Aurelia mengenakan gaun tidur putih yang dibelikan Caleb untuk Clarissa. Kain satin itu terasa asing dan memeluk tubuhnya terlalu lembut. Ia menyemprotkan parfum Clarissa ke leher dan pergelangan tangannya. Aroma yang biasa ia cium setiap hari kini terasa seperti topeng yang harus ia pakai.

Sementara itu, Clarissa turun ke ruang tamu vila pengantin , mengulur waktu. Ia mengajak Caleb berbincang, tertawa pelan, lalu menyuguhkan secangkir kopi hangat. Di balik senyum manisnya, ia meneteskan sesuatu ke dalam cangkir itu. Obat yang akan membuat Caleb lebih mudah dikuasai hasrat, lebih mudah terbawa suasana.

Di sisi lain, Aurelia telah memadamkan lampu kamar sepenuhnya. Aurelia duduk di ranjang dengan jantung berdegup liar. Telapak tangannya dingin. Ia hampir tak bisa bernapas.

Ia takut Caleb langsung mengetahui semuanya. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Ada perbedaan nyata antara bentuk tubuhnya dengan Clarissa.

Aurelia tersentak saat mendengar suara pintu terbuka. Langkah kaki berat mendekat. Jantungnya terasa akan meledak.

Kasur berderit saat Caleb naik ke atasnya. Aroma maskulin yang selama ini hanya ia bayangkan kini begitu nyata, begitu dekat.

Tangan hangat itu langsung menyentuh pinggangnya, menariknya tanpa ragu. Tubuhnya terhempas lembut ke kasur.

Bibir itu menyelinap ke lehernya, napasnya panas dan tergesa. "Aku suka wangimu, Cla..."

Suara rendah itu menggetarkan seluruh sarafnya. Aurelia memejamkan mata. Rasa bersalah menghantamnya, tapi tubuhnya tak bisa menyangkal sensasi yang menjalar ketika tangan Caleb bergerak penuh kepemilikan. Sentuhannya tegas, hampir liar, seolah menumpahkan seluruh penantian dan hasrat yang ia tahan sejak lamaran.

Ciumannya turun dari leher ke bahu, meninggalkan jejak panas. Genggamannya kuat di pinggangnya, jari-jarinya mencengkeram seakan takut kehilangan.

Aurelia menahan suara. Setiap sentuhan terasa seperti dosa yang manis. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini milik Clarissa. Tapi ketika Caleb menariknya lebih dekat, ketika napas mereka bercampur dalam gelap, tubuhnya bereaksi tanpa bisa ia kendalikan.

Caleb tidak lembut malam itu. Ia penuh gairah, penuh tuntutan, seperti pria yang ingin mengklaim istrinya sepenuhnya. Ada kebrutalan dalam cara ia memeluk, dalam cara ia menahan pergelangan tangan Aurelia di atas bantal, dalam bisikan serak yang menyebut nama Clarissa berulang kali.

Setiap kali nama itu terdengar, hati Aurelia seperti teriris.

Tubuh mereka akhirnya tak lagi berjarak, menyatu tanpa batas.

Dalam gelap yang pekat, Caleb menariknya semakin dekat, seolah takut wanita di pelukannya akan menghilang. Napas mereka berpacu, hangat dan terburu. Aurelia merasakan batas itu runtuh. Rasa bersalah, cinta terlarang, dan hasrat bercampur menjadi satu pusaran yang menenggelamkannya.

Aurelia mencapai puncak itu. Tangannya mencakar punggung Caleb.

"Aku melukaimu, Sayang?" suara seksi itu membuat Aurelia terbuai.

Ia menggeleng cepat sebelum Caleb menuntut jawaban.

Saat Caleb menuntaskan gairahnya dengan liar dan tanpa sisa, suara beratnya pecah memenuhi kamar.

"Clarissa! Arh..."

Nama itu terdengar begitu jelas. Begitu penuh kepemilikan.

Aurelia membeku. Air mata mengalir tanpa suara ke pelipisnya, menyerap ke bantal yang dingin. Ia menggigit bibirnya keras agar tak ada isak yang lolos. Di dalam dekapan pria yang sejak lama ia cintai, ia justru merasa paling tak terlihat.

"Cla... ini mengagumkan." Caleb memeluknya erat setelahnya, napasnya perlahan tenang. Tangannya masih melingkar posesif di pinggang Aurelia. Tapi bukan namanya yang dipanggil.

"Terima kasih. Ini indah."

Dalam kegelapan itu, Aurelia sadar satu hal yang mengiris lebih dalam dari apa pun.

Malam ini ia mendapatkan pria yang ia cintai. Dan sekaligus kehilangannya.

***

“Selamat pagi.”

Clarissa menyapanya dengan senyum lebar yang terlalu cerah untuk ukuran pagi setelah malam yang panjang. Aurelia membalas dengan senyum canggung, berusaha terlihat biasa saja. Walau ia yakin usahanya itu gagal.

Ia langsung melihat Caleb duduk di ujung meja makan panjang dari kayu jati. Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan tergulung rapi. Tangannya memegang cangkir kopi hitam, sementara di depannya terbuka sebuah laptop tipis berwarna perak. Wajahnya datar, dingin.

Caleb hanya mengangkat kepala sekilas ketika menyadari kehadiran Aurelia. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.

Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan.

Namun tubuh Aurelia langsung bereaksi. Refleks, ia memegang kerah bajunya. Di balik kain itu, lehernya masih dipenuhi tanda merah samar yang ditinggalkan pria itu semalam. Panasnya seperti kembali terasa hanya karena satu tatapan.

“Ayo duduk, sarapan bersama,” ujar Clarissa ceria sambil menarik kursi di sampingnya.

Aurelia berjalan pelan menuju kursi. Area bawah tubuhnya masih terasa ngilu setiap kali ia melangkah. Ia mencoba duduk dengan hati-hati, menahan ekspresi. Untungnya Caleb tidak memperhatikannya. Atau mungkin ia tidak peduli.

Aurelia sebenarnya bertanya-tanya, kenapa Caleb begitu dingin padanya. Dulu, saat remaja, mereka bisa dikatakan cukup dekat.

Kemarin adalah pertemuan pertama mereka setelah sembilan tahun. Dan malamnya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia hapus.

Clarissa menuangkan kopi ke cangkir Aurelia dengan wajah berbinar. “Oh ya, Aurel. Aku sudah bicara dengan Caleb. Aku minta dia mempekerjakanmu di perusahaannya.”

Tangan Aurelia membeku di atas meja. Ia melirik Caleb. Pria itu masih fokus pada laptopnya, jarinya bergerak cepat di atas trackpad seolah pembicaraan itu hanya suara latar.

Hamilton Group. Perusahaan keluarga Caleb yang sudah berdiri puluhan tahun itu bukan nama kecil. Mereka memiliki rumah produksi, juga kerajaan bisnis yang luas dan berpengaruh.

Dan ia, Aurelia, hanyalah seorang fotografer.

Memang bukan sembarang fotografer. Ia menempuh pendidikan dan bekerja beberapa tahun di luar negeri, menangani proyek komersial dan editorial. Namun tetap saja, ia tidak ingin bekerja di perusahaan itu karena belas kasihan.

“Aku akan menyerahkan lamaranku,” katanya akhirnya, berusaha terdengar tenang. “Dan aku akan mengikuti wawancara seperti biasa.”

Kini Caleb benar-benar mengangkat kepalanya. Tatapannya tepat mengenai mata Aurelia.

Jantungnya langsung berdebar kacau. Tangannya gemetar ketika mengangkat cangkir kopi. Cairan panas itu hampir tumpah.

Tatapan Caleb dalam. Tajam. Menguliti.

Dengan suara berat yang rendah dan terkontrol, pria itu berkata, “Jika Clarissa sudah meminta secara khusus, maka aku akan mencari posisi untukmu.”

Itu bukan pertanyaan. Itu keputusan.

Aurelia menelan ludah. “Terima kasih. Tapi aku tetap ingin mengikuti prosesnya. Aku tidak ingin diperlakukan berbeda.”

Hening sesaat. Ia melihat rahang Caleb mengeras. Garis wajahnya menegang, pertanda pria itu tidak suka dibantah.

Caleb tidak menatapnya lagi. Ia menoleh pada Clarissa. Aneh, dalam satu gerakan singkat, tatapan dingin itu berubah menjadi teduh.

Kontras itu menyakitkan. Aurelia langsung menunduk, pura-pura mengaduk kopi.

Clarissa tertawa nyaring, suasana kembali ringan. Ia menyentuh tangan Caleb dengan mesra, lalu mengecup punggung tangannya.

“Aku sudah bilang padamu kan, Caleb? Aurel memang agak keras kepala sekarang. Dia bukan lagi gadis kecil yang penurut.” Ia tersenyum manja. “Maklumi saja, ya. Tapi tetap sisihkan satu ruang untuknya.”

Caleb membalas dengan nada yang lebih lembut. “Sesuai arahanmu, Cla.”

Aurelia berdeham, menarik perhatian mereka kembali sebelum ia benar-benar tenggelam dalam rasa asing yang mengganggu dadanya.

“Siang ini aku akan mencari kontrakan,” ucapnya pelan.

Clarissa langsung menoleh cepat. “Kontrakan? Untuk apa?”

“Selama ini aku tinggal di luar negeri. Aku pulang karena kau memintaku. Tapi aku tidak mungkin terus menumpang.”

Clarissa terlihat benar-benar terkejut. “Kenapa harus sewa rumah? Aku memintamu pulang supaya kita bisa tinggal bersama.”

Aurelia memaksakan senyum. Tinggal bersama. Satu atap. Dengan Caleb. Setiap malam mengingat apa yang terjadi.

“Aku tidak ingin merepotkan.”

“Tidak merepotkan sama sekali,” sahut Clarissa cepat.

Aurelia membuka mulut. “Tapi aku…”

Kalimatnya terhenti ketika Caleb akhirnya ikut bicara. “Rumah ini tidak kekurangan kamar."

Aurelia menatapnya tanpa sengaja. Caleb tidak tersenyum. Tidak pula terlihat marah. Hanya tatapan tajam yang sulit ditebak artinya.

Aurelia merasa terpojok. Ia ingin menolak. Ingin lari sejauh mungkin sebelum semuanya menjadi lebih rumit. Tapi alasan apa yang bisa ia berikan tanpa membuka rahasia yang seharusnya tetap terkubur?

“Baiklah,” jawabnya akhirnya pelan. Clarissa terlihat bahagia.

Tiba-tiba Caleb berdiri dari kursinya. “Aku harus ke kantor. Ada rapat dengan tim produksi,” katanya.

Clarissa ikut berdiri, membenarkan dasinya dengan gerakan lembut seorang istri. “Jangan terlalu lelah.”

Caleb menatapnya dengan lembut, lalu mendaratkan satu kecupan hangat di bibir Clarissa sebelum berjalan menuju pintu.

Saat melewati Aurelia, tanpa sengaja, punggung tangannya bersentuhan dengan tangan Aurelia yang tergeletak di meja.

Hanya sentuhan singkat. Tapi cukup untuk membuat napas Aurelia tercekat.

“Kirimkan portofoliomu ke email HR. Aku akan memastikan mereka memprosesnya hari ini,” kata pria itu tanpa menoleh padanya.

Aurelia menatap cangkir kopinya yang kini sudah dingin. Ia resmi akan tinggal serumah dengan pria yang memanggil nama kakaknya saat memeluknya.

Dan mulai hari ini, ia juga akan bekerja di bawah kepemimpinannya. Ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya.

Tinggal terlalu dekat atau bekerja terlalu dekat.

"Aurel..."

Brak!!

Clarissa jatuh, pingsan tidak sadarkan diri di lantai.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status