Se connecterAurelia mencintai Caleb bahkan sebelum pria itu menjadi suami kakaknya, hingga satu malam terlarang membuatnya menggantikan sang kakak di kamar pengantin dan menyimpan rahasia yang tak pernah Caleb ketahui. Tahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam jarak yang dingin dan penuh luka, sampai kebenaran mulai terkuak dan menyeret mereka ke dalam pusaran hasrat lama, pengkhianatan, dan perasaan yang tak pernah benar-benar padam, membuat Caleb tak lagi rela kehilangan wanita yang tanpa sadar pernah menjadi miliknya.
Voir plus"Gantikan aku. Untuk malam ini saja."
"Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki. "Please." "Aku tidak bisa!" tegasnya lagi. "Ini malam pertamamu dengan Caleb. Bagaimana mungkin kau memintaku melakukan hal seperti itu?" Clarissa duduk di tepi ranjang pengantin yang dipenuhi kelopak mawar putih. Gaun pengantinnya masih melekat indah di tubuhnya, wajahnya tetap cantik seperti biasa, tapi pucatnya tak bisa disembunyikan. Tangan itu terulur, menggenggam jemari Aurelia dengan gemetar. "Tolong, Aurel. Aku tidak bisa mengecewakannya malam ini. Aku tidak boleh." "Kenapa? Katakan alasan yang masuk akal!" Aurelia hampir menangis. "Aku tidak ingin dia melihatku pingsan. Dia belum boleh tahu." Aurelia terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Clarissa sakit. Penyakit jantung bawaan. Sudah lama. Dokter bilang kondisinya bisa memburuk sewaktu-waktu. "Tadi saat resepsi, dadaku kembali sesak. Obatku hampir habis." Napas Clarissa terdengar berat. "Aku tidak ingin Caleb tahu. Aku tidak ingin dia tahu dia menikahi perempuan yang lemah dan akan segera mati." Air mata jatuh tanpa suara di pipi Aurelia. Ia membenci keadaan ini. Membenci takdir yang begitu kejam. "Aku hanya butuh kau malam ini," bisik Clarissa. "Setelah itu aku akan mengatur semuanya. Aku hanya tidak ingin dia tahu aku tak mampu menjadi istrinya di malam pertama." Kata-kata itu menghantam hati Aurelia lebih keras dari apa pun. Caleb Hamilton. Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak sejak lama. Pria yang diam-diam ia sukai sejak remaja hingga sampai beberapa jam yang lalu. Pria yang hari ini resmi menjadi suami kakaknya. Dan ia tahu ia harus mengubur dalam perasaannya. Ironisnya, kini ia diminta menggantikan Clarissa. Rasa bersalah menggerogoti, tapi bayangan Clarissa terbaring lemah jauh lebih menakutkan. Akhirnya, dengan tangan gemetar, Aurelia mengangguk. Mereka menyusun rencana dengan cepat. Aurelia mengenakan gaun tidur putih yang dibelikan Caleb untuk Clarissa. Kain satin itu terasa asing dan memeluk tubuhnya terlalu lembut. Ia menyemprotkan parfum Clarissa ke leher dan pergelangan tangannya. Aroma yang biasa ia cium setiap hari kini terasa seperti topeng yang harus ia pakai. Sementara itu, Clarissa turun ke ruang tamu vila pengantin , mengulur waktu. Ia mengajak Caleb berbincang, tertawa pelan, lalu menyuguhkan secangkir kopi hangat. Di balik senyum manisnya, ia meneteskan sesuatu ke dalam cangkir itu. Obat yang akan membuat Caleb lebih mudah dikuasai hasrat, lebih mudah terbawa suasana. Di sisi lain, Aurelia telah memadamkan lampu kamar sepenuhnya. Aurelia duduk di ranjang dengan jantung berdegup liar. Telapak tangannya dingin. Ia hampir tak bisa bernapas. Ia takut Caleb langsung mengetahui semuanya. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Ada perbedaan nyata antara bentuk tubuhnya dengan Clarissa. Aurelia tersentak saat mendengar suara pintu terbuka. Langkah kaki berat mendekat. Jantungnya terasa akan meledak. Kasur berderit saat Caleb naik ke atasnya. Aroma maskulin yang selama ini hanya ia bayangkan kini begitu nyata, begitu dekat. Tangan hangat itu langsung menyentuh pinggangnya, menariknya tanpa ragu. Tubuhnya terhempas lembut ke kasur. Bibir itu menyelinap ke lehernya, napasnya panas dan tergesa. "Aku suka wangimu, Cla..." Suara rendah itu menggetarkan seluruh sarafnya. Aurelia memejamkan mata. Rasa bersalah menghantamnya, tapi tubuhnya tak bisa menyangkal sensasi yang menjalar ketika tangan Caleb bergerak penuh kepemilikan. Sentuhannya tegas, hampir liar, seolah menumpahkan seluruh penantian dan hasrat yang ia tahan sejak lamaran. Ciumannya turun dari leher ke bahu, meninggalkan jejak panas. Genggamannya kuat di pinggangnya, jari-jarinya mencengkeram seakan takut kehilangan. Aurelia menahan suara. Setiap sentuhan terasa seperti dosa yang manis. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini milik Clarissa. Tapi ketika Caleb menariknya lebih dekat, ketika napas mereka bercampur dalam gelap, tubuhnya bereaksi tanpa bisa ia kendalikan. Caleb tidak lembut malam itu. Ia penuh gairah, penuh tuntutan, seperti pria yang ingin mengklaim istrinya sepenuhnya. Ada kebrutalan dalam cara ia memeluk, dalam cara ia menahan pergelangan tangan Aurelia di atas bantal, dalam bisikan serak yang menyebut nama Clarissa berulang kali. Setiap kali nama itu terdengar, hati Aurelia seperti teriris. Tubuh mereka akhirnya tak lagi berjarak, menyatu tanpa batas. Dalam gelap yang pekat, Caleb menariknya semakin dekat, seolah takut wanita di pelukannya akan menghilang. Napas mereka berpacu, hangat dan terburu. Aurelia merasakan batas itu runtuh. Rasa bersalah, cinta terlarang, dan hasrat bercampur menjadi satu pusaran yang menenggelamkannya. Aurelia mencapai puncak itu. Tangannya mencakar punggung Caleb. "Aku melukaimu, Sayang?" suara seksi itu membuat Aurelia terbuai. Ia menggeleng cepat sebelum Caleb menuntut jawaban. Saat Caleb menuntaskan gairahnya dengan liar dan tanpa sisa, suara beratnya pecah memenuhi kamar. "Clarissa! Arh..." Nama itu terdengar begitu jelas. Begitu penuh kepemilikan. Aurelia membeku. Air mata mengalir tanpa suara ke pelipisnya, menyerap ke bantal yang dingin. Ia menggigit bibirnya keras agar tak ada isak yang lolos. Di dalam dekapan pria yang sejak lama ia cintai, ia justru merasa paling tak terlihat. "Cla... ini mengagumkan." Caleb memeluknya erat setelahnya, napasnya perlahan tenang. Tangannya masih melingkar posesif di pinggang Aurelia. Tapi bukan namanya yang dipanggil. "Terima kasih. Ini indah." Dalam kegelapan itu, Aurelia sadar satu hal yang mengiris lebih dalam dari apa pun. Malam ini ia mendapatkan pria yang ia cintai. Dan sekaligus kehilangannya. *** “Selamat pagi.” Clarissa menyapanya dengan senyum lebar yang terlalu cerah untuk ukuran pagi setelah malam yang panjang. Aurelia membalas dengan senyum canggung, berusaha terlihat biasa saja. Walau ia yakin usahanya itu gagal. Ia langsung melihat Caleb duduk di ujung meja makan panjang dari kayu jati. Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan tergulung rapi. Tangannya memegang cangkir kopi hitam, sementara di depannya terbuka sebuah laptop tipis berwarna perak. Wajahnya datar, dingin. Caleb hanya mengangkat kepala sekilas ketika menyadari kehadiran Aurelia. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Namun tubuh Aurelia langsung bereaksi. Refleks, ia memegang kerah bajunya. Di balik kain itu, lehernya masih dipenuhi tanda merah samar yang ditinggalkan pria itu semalam. Panasnya seperti kembali terasa hanya karena satu tatapan. “Ayo duduk, sarapan bersama,” ujar Clarissa ceria sambil menarik kursi di sampingnya. Aurelia berjalan pelan menuju kursi. Area bawah tubuhnya masih terasa ngilu setiap kali ia melangkah. Ia mencoba duduk dengan hati-hati, menahan ekspresi. Untungnya Caleb tidak memperhatikannya. Atau mungkin ia tidak peduli. Aurelia sebenarnya bertanya-tanya, kenapa Caleb begitu dingin padanya. Dulu, saat remaja, mereka bisa dikatakan cukup dekat. Kemarin adalah pertemuan pertama mereka setelah sembilan tahun. Dan malamnya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia hapus. Clarissa menuangkan kopi ke cangkir Aurelia dengan wajah berbinar. “Oh ya, Aurel. Aku sudah bicara dengan Caleb. Aku minta dia mempekerjakanmu di perusahaannya.” Tangan Aurelia membeku di atas meja. Ia melirik Caleb. Pria itu masih fokus pada laptopnya, jarinya bergerak cepat di atas trackpad seolah pembicaraan itu hanya suara latar. Hamilton Group. Perusahaan keluarga Caleb yang sudah berdiri puluhan tahun itu bukan nama kecil. Mereka memiliki rumah produksi, juga kerajaan bisnis yang luas dan berpengaruh. Dan ia, Aurelia, hanyalah seorang fotografer. Memang bukan sembarang fotografer. Ia menempuh pendidikan dan bekerja beberapa tahun di luar negeri, menangani proyek komersial dan editorial. Namun tetap saja, ia tidak ingin bekerja di perusahaan itu karena belas kasihan. “Aku akan menyerahkan lamaranku,” katanya akhirnya, berusaha terdengar tenang. “Dan aku akan mengikuti wawancara seperti biasa.” Kini Caleb benar-benar mengangkat kepalanya. Tatapannya tepat mengenai mata Aurelia. Jantungnya langsung berdebar kacau. Tangannya gemetar ketika mengangkat cangkir kopi. Cairan panas itu hampir tumpah. Tatapan Caleb dalam. Tajam. Menguliti. Dengan suara berat yang rendah dan terkontrol, pria itu berkata, “Jika Clarissa sudah meminta secara khusus, maka aku akan mencari posisi untukmu.” Itu bukan pertanyaan. Itu keputusan. Aurelia menelan ludah. “Terima kasih. Tapi aku tetap ingin mengikuti prosesnya. Aku tidak ingin diperlakukan berbeda.” Hening sesaat. Ia melihat rahang Caleb mengeras. Garis wajahnya menegang, pertanda pria itu tidak suka dibantah. Caleb tidak menatapnya lagi. Ia menoleh pada Clarissa. Aneh, dalam satu gerakan singkat, tatapan dingin itu berubah menjadi teduh. Kontras itu menyakitkan. Aurelia langsung menunduk, pura-pura mengaduk kopi. Clarissa tertawa nyaring, suasana kembali ringan. Ia menyentuh tangan Caleb dengan mesra, lalu mengecup punggung tangannya. “Aku sudah bilang padamu kan, Caleb? Aurel memang agak keras kepala sekarang. Dia bukan lagi gadis kecil yang penurut.” Ia tersenyum manja. “Maklumi saja, ya. Tapi tetap sisihkan satu ruang untuknya.” Caleb membalas dengan nada yang lebih lembut. “Sesuai arahanmu, Cla.” Aurelia berdeham, menarik perhatian mereka kembali sebelum ia benar-benar tenggelam dalam rasa asing yang mengganggu dadanya. “Siang ini aku akan mencari kontrakan,” ucapnya pelan. Clarissa langsung menoleh cepat. “Kontrakan? Untuk apa?” “Selama ini aku tinggal di luar negeri. Aku pulang karena kau memintaku. Tapi aku tidak mungkin terus menumpang.” Clarissa terlihat benar-benar terkejut. “Kenapa harus sewa rumah? Aku memintamu pulang supaya kita bisa tinggal bersama.” Aurelia memaksakan senyum. Tinggal bersama. Satu atap. Dengan Caleb. Setiap malam mengingat apa yang terjadi. “Aku tidak ingin merepotkan.” “Tidak merepotkan sama sekali,” sahut Clarissa cepat. Aurelia membuka mulut. “Tapi aku…” Kalimatnya terhenti ketika Caleb akhirnya ikut bicara. “Rumah ini tidak kekurangan kamar." Aurelia menatapnya tanpa sengaja. Caleb tidak tersenyum. Tidak pula terlihat marah. Hanya tatapan tajam yang sulit ditebak artinya. Aurelia merasa terpojok. Ia ingin menolak. Ingin lari sejauh mungkin sebelum semuanya menjadi lebih rumit. Tapi alasan apa yang bisa ia berikan tanpa membuka rahasia yang seharusnya tetap terkubur? “Baiklah,” jawabnya akhirnya pelan. Clarissa terlihat bahagia. Tiba-tiba Caleb berdiri dari kursinya. “Aku harus ke kantor. Ada rapat dengan tim produksi,” katanya. Clarissa ikut berdiri, membenarkan dasinya dengan gerakan lembut seorang istri. “Jangan terlalu lelah.” Caleb menatapnya dengan lembut, lalu mendaratkan satu kecupan hangat di bibir Clarissa sebelum berjalan menuju pintu. Saat melewati Aurelia, tanpa sengaja, punggung tangannya bersentuhan dengan tangan Aurelia yang tergeletak di meja. Hanya sentuhan singkat. Tapi cukup untuk membuat napas Aurelia tercekat. “Kirimkan portofoliomu ke email HR. Aku akan memastikan mereka memprosesnya hari ini,” kata pria itu tanpa menoleh padanya. Aurelia menatap cangkir kopinya yang kini sudah dingin. Ia resmi akan tinggal serumah dengan pria yang memanggil nama kakaknya saat memeluknya. Dan mulai hari ini, ia juga akan bekerja di bawah kepemimpinannya. Ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya. Tinggal terlalu dekat atau bekerja terlalu dekat. "Aurel..." Brak!! Clarissa jatuh, pingsan tidak sadarkan diri di lantai."Berhenti menatapku!"Aurelia akhirnya menyerah, mengibaskan tangannya di depan wajah dengan panik. Belum ada satu menit Caleb mengunci pandangan matanya, rasa gelisah luar biasa sudah menyergap dadanya. Matanya bergerak liar ke kiri, ke kanan, ke atas, membuang pandangan ke mana saja asal tidak bertabrakan dengan manik mata biru suaminya.Caleb mengangguk pelan tanpa mengikis jarak. "Baiklah."Aurelia seketika melotot, menatap wajah datar pria di atasnya dengan nada kesal yang membuncah. "Kenapa kau bisa sepatuh itu?!"Caleb menaikkan sebelah alisnya, merespons dengan intonasi rendah yang sangat tenang. "Jika memang itu membuatmu senang, kenapa tidak? Bukankah sikap patuh ini yang kau inginkan dariku?"Aurelia terdiam kaku untuk beberapa saat. Ia menghela napas panjang, meratapi sikap kaku suaminya yang terlampau formal."Kau jadi sama sekali tidak menarik lagi jika begini, Caleb," ujar Aurelia akhirnya seraya bangkit dari paha tegap suaminya. "Kau bergerak dan menjawab persis sepert
"Bisa kau jelaskan apa yang baru saja kau lakukan, Aureli?"Suara Caleb bergetar rendah, mendayu begitu erat hingga meremangkan bulu kuduk Aurelia. Pria itu menghentikan bacaannya seketika, menundukkan kepala demi mengunci tatapan tepat pada iris mata istrinya.Aurelia merutuki kecerobohannya dalam hati. Beberapa saat lalu usai menyantap habis bekal makan siang, ia merogoh tas tangannya untuk mengeluarkan sebuah novel bergaris tebal. Ia menyerahkan buku itu pada Caleb. Caleb menerima benda tersebut dengan kening berkerut kaku, menampakkan raut bingung yang amat kentara.Tanpa meminta izin, Aurelia langsung merebahkan kepalanya santai di atas paha tegap suaminya. Ia menyunggingkan senyum manis, menikmati kepanikan halus yang membayang di paras tampan sang suami.Caleb mengudara buku itu di antara mereka. "Apa yang kau ingin aku lakukan dengan novel ini, Aureli?"Aurelia mendongak, menyahut dengan nada manja yang sengaja ia buat-buat. "Aku sangat penasaran dengan jalan cerita dan akhir
"Duduklah di sini."Caleb mengibaskan tikar piknik berbahan kain tebal di atas rumput hijau taman kota. Pria itu menyapu bersih sisa ranting dan daun kering sebelum menepuk permukaan tikar, mempersilakan istrinya duduk.Aurelia menyunggingkan senyum manis yang merekah sempurna. "Terima kasih, Caleb."Wanita itu mendaratkan tubuhnya dengan anggun, menata gaun mewahnya seraya menatap cemas raut kaku suaminya. Jantungnya berdetak cepat. Ia bertekad memanfaatkan momen piknik ini demi meluluhkan kembali sikap dingin Caleb.Sementara itu, Caleb mendudukkan tubuh tegapnya di samping Aurelia dengan gaya sok cuek. Pria itu membuang pandangan ke arah telaga, berpura-pura bersikap dingin dan tidak tersentuh. Padahal di dalam hatinya, dadanya bergemuruh bahagia melihat tingkah manis dan perhatian ekstra yang dilimpahkan istrinya sepanjang hari. Ia sengaja menahan diri agar bisa menikmati lebih banyak manja dan usaha Aurelia untuk merebut hatinya.Namun kekhawatiran halus tetap menyelusup di benak
Aurelia melangkah percaya diri membelah lobi gedung Hamilton Corp. Para karyawan membungkuk hormat menyapa sang nyonya besar. Langkah kakinya bergegas memasuki lift khusus eksekutif, membawa keranjang bekal yang ia siapkan sendiri dari rumah. Ia bermaksud mewujudkan salah satu poin dalam daftar kencan mereka, piknik kecil dan makan siang bersama di taman kota.Niat manis itu seketika menguap begitu pintu ruang kerja suaminya terbuka. Hidung Aurelia kembang kempis menghirup aroma parfum menyengat yang memenuhi ruangan. Pandangannya menangkap sosok Mora, sedang membungkuk menempel begitu dekat di samping meja kerja Caleb untuk berdiskusi. Caleb bahkan tidak menyadari ketukan pintunya sampai Aurelia berdeham keras.Caleb menoleh cepat. Raut terkejut sempat terpatri di wajah tegasnya untuk sepersekian detik sebelum berganti dengan binar tenang."Oh, kau datang, Aureli?" gumam Caleb seraya membetulkan letak jasnya. "Duduklah dulu. Aku menyelesaikan berkas pekerjaan ini sebentar lagi."
“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka
Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.“Clarissa!”Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku
"Gantikan aku. Untuk malam ini saja." "Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga
Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus