Share

Aureli

Author: Shinee
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-04 14:14:00

Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.

Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.

“Clarissa!”

Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku kepala Clarissa. Wajah itu pucat pasi, bibirnya kehilangan warna.

“Clarissa, kau dengar aku? Apa yang kau rasakan? Hei… bangun…”

Jemarinya gemetar saat menepuk pelan pipi kakaknya. Panik menjalar cepat, bercampur marah. Mengapa Clarissa harus menyembunyikan semuanya?

Beberapa detik yang terasa seperti selamanya berlalu sebelum kelopak mata itu bergerak. Napasnya berat saat akhirnya terbuka.

Aurelia langsung menangis. “Aku akan telepon suamimu.”

Tangannya meraih ponsel di sofa. Nama Caleb sudah di layar ketika tangan lemah itu mencengkeram pergelangannya.

“Jangan,” bisik Clarissa.

Aurelia menatap tak percaya. “Kau baru saja pingsan!”

“Jangan biarkan dia tahu.”

“Sampai kapan kau mau menyembunyikan ini?” suaranya pecah.

Clarissa tersenyum tipis. “Aku akan baik-baik saja.”

“Kau selalu bilang begitu. Kau butuh dokter.”

“Tidak. Aku hanya kelelahan.”

Aurelia ingin memaksa, ingin memanggil ambulans. Tapi tatapan memohon itu membuatnya tak sanggup. Pada akhirnya, ia membantu Clarissa ke kamar.

Setelah minum obat dari laci tersembunyi, Clarissa berbaring. Aurelia duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Cahaya siang menembus tirai, menyorot wajah yang semakin pucat.

“Terima kasih, Aurel,” bisik Clarissa.

Aurelia menggeleng. “Aku hanya ingin kau sehat, hidup panjang.”

Clarissa tertawa kecil. Rapuh. “Semua orang ingin hidup panjang.”

“Jangan bicara begitu.”

“Aku mencintai Caleb,” lanjutnya pelan.

Nama itu membuat dada Aurelia bergetar. Ia tahu. Terlalu tahu.

“Kakeknya ingin dia menikah dengan pilihan keluarga. Aku pikir aku sudah kehilangan harapan sampai dia tiba-tiba muncul membawa cincin. Dia bilang tidak akan membiarkan siapa pun mengatur hidupnya.”

Senyum tipis muncul di wajah Clarissa. “Aku ingin menjadi istri yang sempurna. Memberinya keluarga… anak-anak…”

Kata-kata itu menusuk Aurelia. Ia menunduk. Bukan karena ia cemburu. Ia hanya takut Clarissa tidak berhasil mewujudkannya.

“Kau tahu kenapa aku tidak ingin dia tahu tentang penyakitku?”

“Karena kau takut dia pergi?”

Clarissa menggeleng. “Aku takut dia tinggal karena tanggung jawab.”

Aurelia terdiam.

“Aku tidak ingin dikasihani. Aku ingin dipilih.”

Air mata menggenang di mata Aurelia. “Dia mencintaimu.”

Clarissa tersenyum. "Aku ingin memberinya waktu yang indah. Tanpa beban.”

Aurelia ingin membantah. Tapi ia juga menyimpan rahasia. Mereka sama-sama berbohong pada pria yang sama.

“Aku tidak ingin kau memikul ini sendirian.”

“Aku punya kau.”

Kalimat itu membuat dadanya sesak. Clarissa mengusap pipinya lembut. “Kalau suatu hari terjadi sesuatu padaku  tetaplah di sini. Dekat dengan Caleb.”

“Apa maksudmu?” suara Aurelia bergetar.

Clarissa hanya tersenyum samar. Ponsel di meja bergetar. Nama Caleb muncul.

Aurelia menahan napas. Clarissa mengangguk.

“Jawab.”

Dengan tangan gemetar, ia mengangkat panggilan itu.

“Aku melihat panggilanmu, Cla?” suara Caleb tenang.

Clarissa tertawa ringan. Terlalu meyakinkan. “Aku hanya merindukanmu.”

“Kau baik-baik saja?”

“Tentu. Hanya sedikit lelah, malam itu kau terlalu liar.”

Wajah Aurelia memanas. Ia menunduk lagi.

Tawa rendah terdengar. “Maaf. Istirahatlah. Aku tidak ingin kau sakit.”

“Aku mencintaimu.”

"Ya, aku tahu."

Panggilan berakhir. Aurelia memejamkan mata. Ia tidak tahu sampai kapan kebohongan ini akan bertahan.

***

Keesokan harinya, Aurelia mendatangi gedung Hamilton untuk melakukan wawancara.

“Silakan masuk, Nona Aurelia.”

Suara formal itu mempersilakannya.  Ia melangkah masuk ke ruang wawancara dan seketika membeku.

Caleb Hamilton duduk di ujung meja.Ia tidak tahu pria itu akan ikut menguji.

Jantungnya kacau saat ia duduk.

“Lulusan School of Visual Arts New York?” tanya HR.

“Ya.”

Pertanyaan bergulir. Jawabannya terasa kaku. Tatapan Caleb tak pernah lepas, membuatnya tidak nyaman.

Dia bahkan berulang kali memegang kerah bajunya. Seolah Caleb bisa melihat apa yang dia sembunyikan di sana.

Mengingat malam itu lagi, kulitnya terasa panas.

“Anda memenangkan International Street Photography Award?” tanya penguji lain.

“Ya.”

Caleb membuka portofolionya. “Prestasi Anda banyak.” Suaranya akhirnya terdengar.

Ia membalik halaman perlahan. “Dengan pencapaian seperti ini, kenapa melamar sebagai staf junior?”

Aurelia mengerutkan kening. Jelas Caleb tahu alasannya dengan sangat jelas. Dia kembali karena kakaknya! “Saya tidak keberatan memulai dari bawah.”

“Atau Anda berharap tidak perlu benar-benar mulai dari bawah?” Nada itu tajam.

“Maaf?” suara Aurelia mulai mengeras.

Caleb menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Saya bertanya-tanya apakah Anda terbiasa mendapatkan kemudahan.”

“Kemudahan dalam arti apa?”

“Orang-orang sering kali tertarik pada visual yang menarik.” Tatapannya turun sekilas lalu kembali ke mata Aurelia. “Termasuk dalam konteks profesional.”

Darah di wajah Aurelia memanas. “Apakah Anda menyiratkan sesuatu, Pak Hamilton?”

“Saya hanya ingin memastikan Anda tidak mengandalkan hal yang salah.”

“Hal yang salah?”

“Kecantikan,” ucapnya datar.

Ruang wawancara itu membeku. Beberapa detik tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan.

Aurelia menatap Caleb dengan sorot mata tajam. “Anda menduga saya menggunakan kecantikan untuk mendapatkan penghargaan dan proyek?”

Caleb tidak berkedip. “Saya bertanya.”

“Anda menuduh.”

“Saya menguji.”

“Dengan merendahkan saya?”

Caleb membalas tatapannya tanpa goyah. “Jika Anda merasa direndahkan, mungkin ada yang perlu dievaluasi.”

Aurelia menarik napas dalam. “Prestasi saya dinilai oleh juri internasional. Mereka tidak memilih saya karena wajah.”

“Dunia kreatif tidak selalu bersih.”

“Dan dunia bisnis selalu bersih?” balas Aurelia cepat.

Beberapa penguji saling berpandangan. Caleb menyipitkan mata sedikit. “Hati-hati dengan nada bicara Anda.”

“Apakah Anda memberikan kemudahan pada setiap wanita cantik yang melamar di perusahaan Anda?” tanya Aurelia tajam. Jelas ia menyerang Caleb.

Hening. Tak ada satu pun orang di ruangan itu berani bergerak.

Selama ini tidak ada yang menantang Caleb Hamilton di ruangannya sendiri atau di ruangan mana pun. Apalagi memojokkannya secara langsung.

Rahang Caleb mengeras. “Cantik,” katanya perlahan, “kalau bodoh bagi saya tidak menarik.”

Kepala divisi kreatif hampir tersedak napasnya.

Aurelia tidak menunduk. “Saya meragukan itu.”

Kalimat itu meluncur tanpa ragu. Tatapan mereka bertabrakan lagi. Panas. Tegang.

“Meragukan apa?” tanya Caleb pelan.

“Bahwa Anda benar-benar tidak tertarik pada wanita cantik yang bodoh.”

Alis Caleb terangkat sedikit. 

Salah satu staf HR berdeham canggung. “Mungkin kita bisa kembali ke topik teknis.”

Caleb tetap menatap Aurelia. Lalu ia memalingkan wajah tanpa mengatakan apa pun. Tangannya meraih pena. Ia menyoret sesuatu di kertas penilaiannya dengan gerakan tegas.

Suara goresan itu terdengar sangat jelas.

Wanita HR akhirnya berkata, “Baik, Nona Aurelia. Terima kasih atas waktunya. Kami akan menghubungi Anda untuk hasil selanjutnya.”

Aurelia berdiri. Tangannya tidak lagi gemetar. Ia mengumpulkan mapnya. Sebelum berbalik, ia menatap Caleb sekali lagi. “Saya tidak pernah meminta perlakuan khusus, Pak Hamilton.”

Caleb tidak melihatnya. “Dan saya tidak pernah memberikannya,” jawabnya singkat. "Jika seseorang tidak memintanya."

Hidung Aurelia kembang kempis, tapi ia tetap keluar dari ruangan itu dengan langkah mantap, meski dadanya bergemuruh.

***

Saat makan malam, mereka bertemu di meja makan. Awalnya Aurelia ingin mengindar, tapi Clarissa terus memaksanya. 

Ia berusaha untuk tidak menatap Caleb. 

Ia makan dengan hening, sementara Clarissa dan Caleb terus saja berbincang. 

"Maaf, bulan ini kita belum bisa pergi untuk berbulan madu." Nadanya sangat berbeda saat Caleb menuding dirinya mengandalkan kecantikan.

"Tidak masalah," Clarissa mengusap lengan tangannya. "Masih banyak waktu. Fokus saja pada pekerjaanmu. Aku bisa menunggu."

Aurelia menggigit bibirnya. Dalam hati dia hanya bisa berdoa semoga memang banyak waktu untuk kakaknya. Ia ingin Clarissa hidup bahagia.

"Oh ya, bagaimana wawancaramu tadi?" 

Pembahasan yang tidak ingin Aurelia bahas akhirnya dibuka. Aurelia mengangkat kepalanya, dia tersenyum pada kakaknya. 

"Semuanya berjalan lancar. Aku tinggal menunggu hasil akhirnya." Tidak sedikit pun dia melirik Caleb.

Clarissa memeluknya. "Aku yakin kau akan diterima.  Bukan karena Caleb pemiliknya, tapi karena kau memang berbakat. Ya 'kan, Caleb?"

Aurelia refleks menahan napas. Ia tidak ingin mendengar komentar apa pun dari Caleb.

"Kita lihat saja nanti," ujar Caleb singkat. Juga tidak menatapnya.

"Caleb..." Clarissa merengek. Membuat Caleb langsung mengangkat kepala, menatap langsung pada istrinya. "Aurelia memenangkan banyak penghargaan. Kau tidak akan menyesal menerimanya."

"Oh ya, wow." Caleb memasang wajah terkesima. Tepatnya pura-pura terkesima. Ia menatap Aurelia singkat. "Aku tidak sabar untuk melihat kehebatanmu, Aureli." 

Darah Aurelia langsung berdesir. Di mulut Caleb, namanya terdengar begitu seksi dan menggoda. Aureli. 

Sembilan tahun yang lalu, begitulah tepatnya pria itu menyebut namanya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (4)
goodnovel comment avatar
Evi Erviani
baru mulai baca lagi nih ..
goodnovel comment avatar
delima
abang apa mbak nih kok profilnya cewek?..bagus Thor karyamu
goodnovel comment avatar
Shinee
kamu apa kabar???
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Berhenti Menatapku

    "Berhenti menatapku!"Aurelia akhirnya menyerah, mengibaskan tangannya di depan wajah dengan panik. Belum ada satu menit Caleb mengunci pandangan matanya, rasa gelisah luar biasa sudah menyergap dadanya. Matanya bergerak liar ke kiri, ke kanan, ke atas, membuang pandangan ke mana saja asal tidak bertabrakan dengan manik mata biru suaminya.Caleb mengangguk pelan tanpa mengikis jarak. "Baiklah."Aurelia seketika melotot, menatap wajah datar pria di atasnya dengan nada kesal yang membuncah. "Kenapa kau bisa sepatuh itu?!"Caleb menaikkan sebelah alisnya, merespons dengan intonasi rendah yang sangat tenang. "Jika memang itu membuatmu senang, kenapa tidak? Bukankah sikap patuh ini yang kau inginkan dariku?"Aurelia terdiam kaku untuk beberapa saat. Ia menghela napas panjang, meratapi sikap kaku suaminya yang terlampau formal."Kau jadi sama sekali tidak menarik lagi jika begini, Caleb," ujar Aurelia akhirnya seraya bangkit dari paha tegap suaminya. "Kau bergerak dan menjawab persis sepert

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Sesuai Perintahmu, Istriku

    "Bisa kau jelaskan apa yang baru saja kau lakukan, Aureli?"Suara Caleb bergetar rendah, mendayu begitu erat hingga meremangkan bulu kuduk Aurelia. Pria itu menghentikan bacaannya seketika, menundukkan kepala demi mengunci tatapan tepat pada iris mata istrinya.Aurelia merutuki kecerobohannya dalam hati. Beberapa saat lalu usai menyantap habis bekal makan siang, ia merogoh tas tangannya untuk mengeluarkan sebuah novel bergaris tebal. Ia menyerahkan buku itu pada Caleb. Caleb menerima benda tersebut dengan kening berkerut kaku, menampakkan raut bingung yang amat kentara.Tanpa meminta izin, Aurelia langsung merebahkan kepalanya santai di atas paha tegap suaminya. Ia menyunggingkan senyum manis, menikmati kepanikan halus yang membayang di paras tampan sang suami.Caleb mengudara buku itu di antara mereka. "Apa yang kau ingin aku lakukan dengan novel ini, Aureli?"Aurelia mendongak, menyahut dengan nada manja yang sengaja ia buat-buat. "Aku sangat penasaran dengan jalan cerita dan akhir

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Hanya Ada Kita Berdua

    "Duduklah di sini."Caleb mengibaskan tikar piknik berbahan kain tebal di atas rumput hijau taman kota. Pria itu menyapu bersih sisa ranting dan daun kering sebelum menepuk permukaan tikar, mempersilakan istrinya duduk.Aurelia menyunggingkan senyum manis yang merekah sempurna. "Terima kasih, Caleb."Wanita itu mendaratkan tubuhnya dengan anggun, menata gaun mewahnya seraya menatap cemas raut kaku suaminya. Jantungnya berdetak cepat. Ia bertekad memanfaatkan momen piknik ini demi meluluhkan kembali sikap dingin Caleb.Sementara itu, Caleb mendudukkan tubuh tegapnya di samping Aurelia dengan gaya sok cuek. Pria itu membuang pandangan ke arah telaga, berpura-pura bersikap dingin dan tidak tersentuh. Padahal di dalam hatinya, dadanya bergemuruh bahagia melihat tingkah manis dan perhatian ekstra yang dilimpahkan istrinya sepanjang hari. Ia sengaja menahan diri agar bisa menikmati lebih banyak manja dan usaha Aurelia untuk merebut hatinya.Namun kekhawatiran halus tetap menyelusup di benak

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Daftar Kencanmu Masih Banyak?

    Aurelia melangkah percaya diri membelah lobi gedung Hamilton Corp. Para karyawan membungkuk hormat menyapa sang nyonya besar. Langkah kakinya bergegas memasuki lift khusus eksekutif, membawa keranjang bekal yang ia siapkan sendiri dari rumah. Ia bermaksud mewujudkan salah satu poin dalam daftar kencan mereka, piknik kecil dan makan siang bersama di taman kota.​Niat manis itu seketika menguap begitu pintu ruang kerja suaminya terbuka. Hidung Aurelia kembang kempis menghirup aroma parfum menyengat yang memenuhi ruangan. Pandangannya menangkap sosok Mora, sedang membungkuk menempel begitu dekat di samping meja kerja Caleb untuk berdiskusi. Caleb bahkan tidak menyadari ketukan pintunya sampai Aurelia berdeham keras.​Caleb menoleh cepat. Raut terkejut sempat terpatri di wajah tegasnya untuk sepersekian detik sebelum berganti dengan binar tenang.​"Oh, kau datang, Aureli?" gumam Caleb seraya membetulkan letak jasnya. "Duduklah dulu. Aku menyelesaikan berkas pekerjaan ini sebentar lagi."​

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Pergilah!

    "Kau pikir kau siapa, Julian?! Kau tidak bisa mendatangkan wanita lain lalu mencampakkanku begitu saja!"​Jerit histeris Serena penuh keramahan. Wanita itu melemparkan vas bunga porselen hingga hancur berkeping-keping di atas lantai marmer.​Julian berdiri tegap di tengah ruangan, membetulkan letak dasinya dengan raut wajah jijik tak terhingga. "Tutup mulutmu, Serena! Aku sudah muak mendengar rengekan konyolmu!"​Keduanya mendadak membisu kaku saat menyadari sosok tegap Caleb melangkah masuk membelah pintu utama. Langkah kaki Caleb bergaung dingin. Serena seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menyatukan pandangan dengan sang kakak.​"Ada apa sebenarnya di sini?" tuntut Caleb dengan intonasi rendah menakutkan, menatap tajam ke arah dua insan di depannya.​Serena meremas jemarinya yang gemetar hebat, memaksakan suara parau meluncur dari bibirnya. "Julian ingin bercerai... karena aku memergokinya berselingkuh!"​Rahang Caleb mengetat keras hingga garis ototnya tercetak j

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Tunjukkan Pesonamu

    "Apa aku perlu bicara langsung padanya?" cetus Barbara dengan nada prihatin, menatap ke arah Aurelia usai mendengar rentetan kejadian mengerikan yang menimpa rumah tangga sahabatnya itu.​Aurelia menggelengkan kepala dengan raut wajah kaku. "Tidak perlu," pangkas Aurelia cepat.​Aurelia memutar pena di atas meja kerjanya. "Setelah acara makan siang kemarin, Caleb kembali mengurung diri di ruang kerjanya dan tidak keluar lagi. Pagi ini aku bahkan belum melihat batang hidungnya sama sekali di rumah."​Aurelia menghembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit. Ia sadar betul bahwa kondisi pernikahan yang baru ia benahi ini sedang berada dalam titik masa kritis yang sangat membahayakan. Namun ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan hubungan suci itu kandas begitu saja di tengah jalan.​"Caleb pria yang sangat rasional," tambah Aurelia seraya menatap lurus mata Barbara. "Dia hanya akan mempercayai apa yang dilihat oleh matanya sendiri."

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Pria Itu Caleb

    Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Selamat Tinggal

    Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Berhenti Berulah, Aureli

    Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Bip Panjang

    “Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status