MasukAurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus.
Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun belakangan ini. Aurelia membalas senyum tersebut tidak kalah merekah. "Good morning, honey," Aureli berjalan mendekat dan memberikan kecupan singkat di bibir laki-laki itu. "Selamat pagi, kau terlihat bahagia." Aurelie tersenyum lebar. Ia mengerling jenaka. "Aku naik jabatan!" Selama lima tahun dia bekerja di salah satu perusahaan majalah bisnis ternama. "Wow, congrats. Kau memang pantas mendapatkannya." Laki-laki itu mengulurkan tangan, memeluk leher Aurelia untuk mengecup pipinya. "Thanks. Dan sekarang mandilah. Aku sudah membuat sarapan untukmu." "Oke." Sampai di kantor, Aurelia disambut oleh asistennya yang merangkap jadi sahabatnya, Barbara. "Selamat pagi, Aurelia." "Pagi." "Kita punya masalah." Laporan yang tidak mengenakkan ia terima membuat senyum hangat di wajahnya memudar. "Masalah?" Barbara meletakkan dokumen di hadapannya. Aurelia melirik sekilas. HM corporation. Aurelia langsung menghela napas panjang. "Alex belum menyerah," keluh Aurelia. "Hm. Tuan Thomson ingin kita meliput pemilik perusahaan tersebut." "Tepatnya pemilik barunya," ralat Aurelia. "Tuan Thomson meminta hasilnya hari ini." "Yang benar saja!" protes Aurelia seraya mengeluarkan ponselnya. "Tim kita sedang sibuk, banyak deadline yang harus dikejar bulan ini." Panggilannya dijawab. "Aurelia, Sayang..." sapaan di seberang membuat Aurelie memutar bola matanya. "Alex, kau serius memberikan tugas sulit di hari pertamaku sebagai chief editor?" "Oh ayolah, Aurel, kau punya tim. Kau tidak perlu turun tangan. Aku dengar, pemilik perusahaan tersebut baru mendarat kemarin." "Sebelumnya kita sudah mencoba." "Dan sekarang kita harus mencobanya lagi." Aurelia mengerang frustasi. "Masih banyak pengusaha lain yang..." "Tapi belum ada pengusaha yang berhasil menghidupkan kembali perusahaan yang sudah kolaps dalam hitungan bulan, Aurel. Semua ingin tahu siapa taipan itu." "Kurasa hasilnya tetap akan sama." "Setidaknya kita harus mencobanya lagi. Bagaimana kalau nanti makan malam?" Aurelia menggeleng meski Alex tak melihat. "Aku sudah berjanji menemani Maxi malam ini." Setelah berbasa basi sebentar panggilan pun berakhir. "Bagaimana hasilnya?" todong Barbara. "Kita harus meliputnya," ujarnya dengan berat hati. "Kupikir kita sudah menyerah untuk mengupas tuntas tentang profil dari pria itu," sungut Barbara. "Kupikir Tuan Thomson akan berubah pikiran jika kau yang bicara." "Alex terkadang sangat keras kepala. Menurutmu, kenapa pria itu tidak ingin diliput?" "Mungkin wajahnya sangat jelek," celetuk Barbara. "Dia malu wajahnya tidak sebanding dengan prestasinya." Auerelia mengangguk setuju. "Atau mungkin dia pria tua hidung belang yang tidak ingin reputasi buruknya tercium publik." "Dari yang kudengar, dia belum tua. Bahkan ada yang mengatakan jika pemiliknya masih sangat muda dan tampan rupawan." Aurelie mendengus, "jangan percaya omong kosong murahan yang beredar di sana. Itu bisa saja tipuan untuk mengalihkan fokus para pencari berita." "Tapi aku sungguh penasaran dan merasa tertantang. Bayangkan, bagaimana jika kita orang pertama yang berhasil meliputnya. Bukankah itu akan membuat perusahaan kita semakin naik level." "Ini akan sangat melelahkan," kata Aurelia. "Berikan nomor yang bisa dihubungi. Aku akan coba." "Percuma," Barbara mengibaskan tangannya. "Aku sudah melakukannya berulang kali." Aurelia menghembuskan napas panjang. Ia pun segera berdiri. "Baiklah, kita ke perusahaannya langsung." "Serius?" Barbara berdiri, tapi menatapnya tidak percaya. "Kau akan turun langsung." "Kita coba dulu. Lagi pula yang lain sedang kejar deadline. Pesankan makanan dan minuman beberapa box." Barbara mengernyit. "Untuk apa? Piknik dadakan." Aurelia memutar bola matanya. "Kita akan menyamar jadi petugas pengantar makanan." Barbara mengerjap, mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. Ia kehilangan kata-kata atas ide random sahabatnya itu. *** Aurelia dan Barbara tiba di perusahaan HM corporation. Mereka merasa takjub betapa besar dan tingginya perusahaan itu. "Pantas saja dia sombong," ujar Aurelia yang diangguki oleh Barbara. "Ayo kita masuk," Aurelia melangkah penuh percaya diri. Sudah lengkap dengan penyamarannya. "Permisi." Ia menyapa wanita cantik yang menjaga meja resepsionis. Wanita itu tersenyum raham. "Ada yang bisa saya bantu?" Aurelia memasang senyum terbaiknya. "Kami datang untuk mengantarkan pesanan atasan Anda, Nona." Aurelia menunjuk makanan yang ada di tangan Barbara. Resepsionis itu bingung seraya mengerutkan dahi, jelas bingung dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba. "Atasan Anda tadi berpesan agar kami langsung mengantarnya tanpa perantara. Jadi, katakan dimana ruangan pemilik perusahaan ini... maksud saya atasanmu," ia meralat segera sebelum resepsionis tersebut mulai merass curiga. "Maaf, Nona, tapi menurut yang biasanya, beliau tidak akan..." "Tadi Beliau juga mengatakan agar kami secepatnya mengantarkannya langsung, karena Beliau sudah merasa lapar," Aurelia sengaja melirik jamnya. "Jika Anda tidak percaya, silakan menghubungi atasan Anda." Wanita itu mengangkat telepon. Aurelia berbicara lagi. "Tapi saya tidak menjamin jika Beliau marah karena makanannya terlambat diantar hanya gara-gara resepsionisnya menahan kami." Barbara menatap kagum pada Aurelia. Tidak menyangka jika Aurelia pintar berbohong. "Saya yakin Anda tidak ingin dipecat dari perusahaan besar ini, bukan?" Aurelia sengaja memberi tekanan. "Jadi, dimana ruangannya?" "Lantai 18," jawab resepsionis itu akhirnya, takut dengan kemungkinan yang dikatakan Aurelia. "Terima kasih," Aurelia tersenyum lebar. Ia menoleh pada Barbara, mengerling jenaka. "Wah, aku tidak percaya kau bisa sisi seperti itu, Aurel," puji Barbara salut. "Jangankan kau, aku pun dibuat terkejut sendiri. Bagaimana bisa aku mengucapkan kebohongan dengan sangat lancar tanpa merasa gugup. Tapi percayalah, Bar, aku adalah orang yang sangat jujur." Barbara melotot padanya. "Aku meragukanmu." Mereka berdua sama-sama tertawa. Mereka masuk ke dalam lift. Menekan angka tujuan mereka. Lift berhenti. Hanya ada satu ruangan di sana. Aurelia menarik napas panjang. "Sekarang aku bingung apa yang harus kita lakukan sekarang?" "Kau tinggal merayunya dengan wajah cantikmu," kelakar Barbara sekenanya. "Kenapa bukan kau saja yang melakukannya," Aurelia mendelik kesal. "Kudengar pemilik perusahaan tidak suka wanita montok." Barbara memang memiliki tubuh yang padat dan berisi. "Itu hanya akal-akalanmu saja," Aurelia untuk kesekian kalinya menarik napas panjang. "Aku merasakan firasat buruk," sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. "Menurutmu, bagaimana kalau kita turun saja dan kembali ke kantor?" Aurelia sudah hendak mau berbalik saat suara pintu lift terbuka. Seorang pria keluar dari sana, keningnya mengernyit melihat keberadaan Aurelia dan Barbara. "Oh, tuan Roland," Barbara menyapa dengan wajah sumringah. Aurelia kaget. Dia menoleh menatap temannya. "Kau mengenalnya?" Barbara merapat padanya, lalu berbisik. "Serius kau tidak mengenalnya? Dia wakil direktur dan idaman para wanita. Kau tidak melihat betapa gantengnya dia?!" Pujian tersebut didengar oleh pria yang bersangkutan. Dia tersenyum sambil mengangguk sopan. "Terima kasih. Kalian?" Roland menatap keduanya bergantian. "Kami datang untuk mengantar makanan." Aurelia mengangkat makanan yang mereka bawa. "Untuk?" Roland bingung. "Untuk atasanmu," Aurelia tersenyum manis. Kening Roland mengerutkan dalam. "Tidak biasanya dia melakukan ini," gumamnya. Barbara menatap Aurelia dengan gugup. Wanita itu hanya diam dan terlihat tenang. "Lalu kenapa kalian tidak masuk?" Pria itu kembali bertanya. "Melihat betapa banyaknya makanan yang kalian bawa, sepertinya dia sangat lapar sekali." "Ya dia pasti sangat kelaparan. Ini ruangannya?" Aurelia menunjuk pintu satu-satunya yang ada di sana. Roland mengangguk. "Ayo masuk." Pria itu menuntun mereka. Roland masuk lebih dulu, sementara Barbara menahan tangan Aurelia. "Kau yakin?" "Kita sudah di sini. Jika kita ragu, harusnya dari awal kita tidak melakukannya. Sekarang, mari kita selesaikan." Ia masuk disusul oleh Barbara. Di dekat jendela, seorang pria berdiri membelakangi mereka. Posturnya tinggi tegap. Bahunya lebar terbalut setelan jas gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, santai tapi tetap memberi kesan dominan. Aura yang menguar darinya tidak perlu diperkenalkan. Kuat. Dingin. Menguasai ruangan tanpa perlu bicara. Cahaya dari balik jendela besar membingkai siluetnya, membuat sosok itu tampak semakin sulit dijangkau. Barbara mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Aurelia, suaranya nyaris tak tertahan. “Aku bertaruh gajiku satu bulan, Aurel, pria itu pasti sangat tampan.” Aurelia tidak menanggapi. “Demi apa pun,” lanjut Barbara, nada suaranya makin liar, “melihatnya dari belakang saja aku sudah merasa terangsang!" Aurelia tetap diam. Jantungnya tiba-tiba berdebar kacau tanpa alasan yang jelas. Roland melangkah masuk lebih dalam. “Dude,” panggilnya ringan, “kau memesan makanan?” Pria itu tidak langsung menjawab. Lalu perlahan pria itu berbalik. Dan saat wajah itu akhirnya terlihat jelas, tatapannya langsung bertemu dengan Aurelia. Waktu berhenti. Dunia seakan runtuh dalam satu detik yang sama. Napas Aurelia tercekat. Tangannya yang memegang kotak makanan langsung melemah. Pria itu Caleb."Apa kita perlu melakukan bulan madu sekarang, Sayang?" tanya Caleb dengan suara bariton yang serak, melangkah lesu keluar dari kamar mandi seraya menyapu sisa air di sekitar bibirnya.Aurelia bergerak cepat mendekat, merengkuh pinggang tegap suaminya lalu usapan lembut jarinya mengalir di sepanjang punggung Caleb. "Dengan kondisimu yang mual-mual menyiksa seperti ini, sempat-sempatnya kau masih memikirkan bulan madu, Caleb?"Caleb menggelengkan kepalanya tegas, mengabaikan rasa pening yang menghantam kepalanya. "Aku tidak apa-apa, Aureli. Aku ingin memberikan pernikahan yang benar-benar sempurna untukmu. Pesta, bulan madu, dan malam pertama yang penuh cinta. Kita akan mengulangi semuanya dari awal, Sayang."Aurelia menatap lurus manik mata suaminya dengan penuh cinta, menangkup pipi Caleb yang terasa agak dingin. "Kita bisa menahannya dulu. Lain kali saja saat kondisi fisikmu sudah membaik. Saat ini kau benar-benar kacau, wajahmu pucat dan kau terus-menerus mual."Caleb merengkuh tan
"Terima! Terima! Terima!"Sorak-sorai riuh dari sudut area pesta mendadak menggema memenuhi ballroom megah, memotong langkah Caleb dan Aurelia yang baru saja hendak menghampiri kerumunan tamu undangan.Aurelia memekik kaget, menutupi mulutnya saat pandangannya menembus kerumunan orang yang sedang bersorak heboh. "Astaga, apa yang sedang dilakukan temanmu itu, Caleb?"Tepat di tengah lingkaran para tamu, Roland tampak berlutut anggun di atas satu kaki, mengacungkan sebuah kotak beludru terbuka ke arah Barbara yang terpaku membisu dengan wajah memerah sempurna.Caleb menyunggingkan senyum miringnya, merangkul pinggang Aurelia semakin erat. "Sepertinya dia sedang melakukan apa yang sudah kulakukan padamu beberapa hari lalu, Sayang.""Maksudku, bagaimana bisa dia tiba-tiba melamar Barbara seperti itu?" pangkas Aurelia memajukan tubuhnya, menatap suaminya tak percaya."Kenapa tidak bisa?" tanya Caleb santai, menaikkan sebelah alisnya. "Mungkin selama ini Roland menyukai sahabatmu itu secar
"Di hadapan Tuhan dan seluruh saksi yang hadir hari ini, aku menyerahkan seluruh hidupku untukmu," ucap Caleb dengan suara bariton rendah yang bergetar penuh kilat emosi, menatap lurus ke dalam manik mata Aurelia.Acara pemberkatan pun dimulai dengan keheningan yang amat sakral. Aurelia dan Caleb berdiri saling berhadapan di depan altar, saling menatap lekat seraya mengaitkan jemari tangan mereka dengan erat. Pendeta yang berdiri membimbing mereka tersenyum lembut, memberi isyarat agar pasangan itu mengucapkan janji suci pernikahan.Caleb meremas lembut jemari Aurelia, menyusupkan ketegasan tanpa keraguan pada setiap kata yang diucapkannya. "Aureli, aku menerima dirimu sebagai istriku. Aku berjanji akan mencintaimu di saat tubuhmu terkuat hingga saat napasmu terlemah. Aku akan menjadi pelindungmu dari kegelapan, menjadi rumah bagi setiap duka dan bahagiamu, serta menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku hanya untuk membahagiakanmu dan anak-anak kita sampai maut memisahkan."Air mata bahagi
"Aku tidak pernah membayangkan hari ini benar-benar akan datang dalam hidupku," bisik sebuah suara lembut yang memecah keheningan ruang ganti pengantin yang serba putih dan mewah.Hari yang dinanti-nantikan itu pun akhirnya tiba. Pesta pernikahan Caleb dan Aurelia digelar secara megah dan besar-besaran, dihadiri oleh kalangan elit dari berbagai negara.Pintu ganda ruang ganti berornamen emas terdorong terbuka. Ibu Caleb melangkah masuk dengan anggun, mengenakan gaun berwarna salem yang sangat elegan.Aurelia langsung bangkit berdiri dari kursi riasnya begitu mengenali sosok ibu mertuanya. Setelah sekian lama tidak bertemu, ini adalah pertama kalinya mereka saling bertatapan kembali secara langsung.Wanita paruh baya yang masih tampak sangat jelita itu mengulas senyum haru, mempercepat langkahnya lalu mengulurkan kedua tangan untuk merengkuh tubuh Aurelia ke dalam pelukan yang teramat hangat."Kau cantik sekali, Sayang," puji ibu Caleb lirih, merenggangkan pelukan untuk mengusap kedua
"Kau sudah dilamar oleh pria yang mencintaimu sebanyak dua kali, sedangkan aku sama sekali belum pernah merasakannya sekalipun dalam hidupku!" seru Barbara dengan gaya dramatis, menatap iri pada kilau berlian di jari manis Aurelia.Aurelia meledakkan tawa renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Sabar saja, Barbara. Mungkin doaku untukmu belum dikabulkan, tetapi aku percaya kelak akan ada pria baik hati yang mencintaimu secara ugal-ugalan."Manik mata Aurelia berbinar-binar cerah, tatapannya dipenuhi dengan kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan. Ia mengagumi cincin baru di jarinya. "Astaga, aku sungguh tidak menyangka Caleb akan melamarku lagi dengan cara seindah itu."Aurelia meraih jemari Barbara, menempelkan telapak tangan sahabatnya tepat di dada kirinya. "Kau dengar ini? Jantungku bahkan masih menggebu-gebu meneriakkan namanya. Tidakkah kau merasa suamiku itu sangat romantis?"Barbara memutar bola matanya jengah, menyunggingkan senyum miringnya. "Coba ingat kembali, sia
"Tiga hari yang menyiksa ini akhirnya berakhir," bisik Caleb rendah begitu melangkah keluar dari pintu mobil mewah yang baru saja berhenti sempurna di halaman utama.Aurelia berdiri tegap di teras depan, menyunggingkan senyum lebar nan merekah indah seraya perlahan mengusap perut ratanya di balik gaun santainya.Maxi menggenggam erat jemari tangan ibunya, mendongakkan kepala menatap Aurelia dengan binar mata yang meluap-luap. "Kita akan memberikan kejutan ini pada Ayah sekarang, bukan?" bisiknya setengah berteriak.Aurelia meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir, terkekeh renyah. "Ya, kita akan mengungkapkan rahasia besar ini. Tetapi kau harus menahan dirimu sampai Ibu memberi sinyal. Oke?""Siap, Kapten! Ayah pasti akan melompat terkejut!" tegas bocah itu membusungkan dadanya penuh percaya diri.Namun, begitu Caleb melangkah makin mendekati teras, senyum lebar di wajah Aurelia perlahan memudar. Wajah suaminya terlihat begitu pucat pasi, lingkaran hitam terpatri tipis di bawa
"Gantikan aku. Untuk malam ini saja." "Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga
Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.
Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi







