“Masa depan terasa… sangat mengerikan.”Ucapan Luolan menggantung di udara. Wajahnya masih pucat, matanya berkaca-kaca, seolah baru saja melewati pengalaman hidup yang traumatis.Tanpa berkata apa-apa lagi, Luolan berdiri, meraih segelas air. Luolan meneguknya sampai habis dalam satu tarikan napas. Tangannya masih gemetar saat ia menatap kuali yang berisi sup hijau pekat itu.Shuyi terdiam sejenak. Lalu, ia mengangguk pelan.“Berarti ini berhasil.”“Ber-berhasil?” Luolan nyaris tersedak. “Nona, apakah saya salah dengar?”Shuyi mengangkat mangkuk itu. Menatap cairan hijau pekat yang masih mengepulkan uap tipis. Ekspresinya berubah serius, seolah sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar makanan.Luolan berdiri di samping meja, wajahnya pucat.“Nona, Anda yakin itu makanan?” tanya Luolan dengan ragu.Sedangkan Shuyi, kini ia duduk tegap. Memegang sendok seperti seorang jenderal memegang pedang. Ekspresinya serius seolah akan berperang.“Ini bukan makanan.”Shuyi menga
Last Updated : 2026-03-29 Read more