Untuk beberapa saat, ia tidak tahu harus pergi ke mana. Kakinya terasa berat, tubuhnya yang penuh luka semakin melemah, tetapi yang paling menyakitkan bukanlah luka akibat pukulan para penculiknya. Melainkan kenyataan bahwa tempat yang selama ini ia anggap sebagai rumah ternyata tidak pernah benar-benar menerimanya. Perlahan, Haruna menurunkan tubuhnya dan duduk di depan pintu. Ia memeluk lututnya sendiri, menahan rasa sakit yang mulai kembali terasa. "Jadi selama ini..." bisiknya lirih. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. "Selama ini aku hanya dianggap sebagai orang asing?Jika benar, kenapa mereka harus mengadopsiku." Haruna menatap tangannya yang penuh lebam. Tangannya yang dulu selalu ia gunakan untuk membantu keluarga itu, memasak, membersihkan rumah, dan melakukan apa pun yang mereka minta. Ia selalu berpikir bahwa suatu hari nanti Sari akan melihatnya sebagai anak. Namun ternyata, bagi wanita itu, dirinya hanya seseorang yang bisa dimanfaatkan. Suara langkah kaki te
Read more