"Iya, Mbak. Paham. Gimana motornya? Mbak suka nggak?" Daffa mengganti topik pembicaraan. "Suka dong, Dek. Apalagi gratis." Nurul nyengir. "Nanti tiap bulan Mbak cicil ya, motornya.""Nggak usah, Mbak," potong Daffa cepat. " Aku memang ingin menghadiahkannya untuk Mbak kok.""Baiklah kalau begitu. Sekali lagi, terima kasih ya, Dek. Mbak masuk dulu, mau melihat Alfi sekalian istirahat.""Silakan, Mbak. Aku mau nonton bola dulu," kata Daffa sambil menghidupkan televisi. Dalam sekejab ruang tamu telah dipenuhi dengan suara komentator sepak bola.Sementara Nurul yang telah tiba di kamar menatap Alfi yang sudah tertidur lelap di samping ibunya. Wajah putranya terlihat damai, seolah tak tersentuh oleh kerasnya dunia di luar sana. Sedangkan ibunya langsung terbangun saat mendengar suara pintu terbuka."Kamu sudah pulang, Rul?" sapa Bu Nafisah sambil menguap lebar."Iya, Bu." Nurul mengangguk dan mendekati ranjang. Memandangi wajah Alfi yang tampak damai dalam tidurnya.Bu Nafisah beringsut
Read more