"Alfi, turun." Erland mendekati Alfi sambil menegur putranya keras. Alfi yang masih berada dalam gendongan Elang langsung menggeleng kuat. "Nggak mau.""Lang, maaf ya," kata Erland cepat, mencoba tersenyum. "Anakku memang agak sulit diatur. Karena yah," Erland menggerakkan bahunya tidak nyaman. "Keadaannya tidak normal."Elang melirik Erland sinis. "Bukan salahnya terlahir berbeda. Jangan menghinanya atas hal yang tidak bisa dia pilih," pungkasnya tajam. Menyadari kesalahannya berbicara, Elang kembali pada putranya. "Alfi, ayo turun. Jangan nakal. Minta gendongnya sama Ibu saja. Jangan mengganggu orang." Alfi langsung membantah. "Alfi nggak nakal." Ia lalu menunjuk Elang. "Om Piderman yang gendong… bukan Alfi." Dengan kalimat seadanya Alfi mencoba menjelaskan. Sikap ngeyel Alfi membuat Erland naik darah. "Sudah, lepaskan, Alfi!" Erland menarik paksa Alfi dari gendongan Elang.Alfi yang panik langsung mencengkeram leher Elang erat-erat. "Nggak mau!" pekiknya lagi."Nakal kamu ya?
Read more