“Kalau Anda meminum obatnya secara disiplin, maka peluang hidup Anda sama saja dengan orang yang tidak mengidap HIV, Nyonya. Bisa puluhan tahun, bisa sampai usia tua, bahkan bisa seumur hidup layaknya orang normal pada umumnya.” Dokter itu menjeda ucapannya sejenak, menatap Dea serius. “Taoi ingat, semua itu bergantung pada diri Anda sendiri. Selama obat itu diminum tepat waktu dan tidak pernah putus, maka virusnya akan melemah.” Dea pulang dengan langkah gontai dan berat, seolah olah kedua kakinya terikat batu berton-ton beratnya. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, seakan tenaga dan jiwanya dicabut paksa bersamaan dengan keluarnya ia dari ruang periksa tadi. Sepanjang perjalanan, pandangannya kosong. Ia menatap jalanan yang padat merayap, namun ia tak peduli dengan apa yang ada di sekelilingnya. Entag mengapa, ia tak memiliki semangat hidup sedikit pun. Segala ambisi, harga diri, dan rencana-rencana indah yang ia susun
Baca selengkapnya