LOGIN“Kalau Anda meminum obatnya secara disiplin, maka peluang hidup Anda sama saja dengan orang yang tidak mengidap HIV, Nyonya. Bisa puluhan tahun, bisa sampai usia tua, bahkan bisa seumur hidup layaknya orang normal pada umumnya.”
Dokter itu menjeda ucapannya sejenak, menatap Dea serius. “Taoi ingat, semua itu bergantung pada diri Anda sendiri. Selama obat itu diminum tepat waktu dan tidak pernah putus, maka virusnya akan melemah.” Dea pulang dengan langkah gontaiMelihat Dea kesal padanya, Aurin justru memanaskan suasana. Ia tahu betul Dea sedang cemburu ia hendak dilamar. Dan rasanya, tidak ada salahnya sedikit menyiram bensin ke api yang sudah berkobar itu. “Memang benar, Nyonya. Kekasih saya memang berniat melamar saya dalam waktu dekat ini,” ucapnya santai, seolah sedang membicarakan hal yang biasa saja. “Jadi, saya sengaja menyatukan acara pribadi saya dengan momen ini. Sekalian menghemat biaya perjalanan ke sini. Tentu tidak menjadi masalah ‘kan kalau nanti saya pergi sejenak untuk melakukan pertunangan dengan kekasih saya?” Dea mendengus keras, bibirnya mencebik jijik. “Kamu sungguh keterlaluan! Berani-beraninya kamu berbuat sejauh ini! Enak sekali kamu numpang di acara kami?!” “Maafkan saya jika dianggap terlalu lancang, Nyonya,” ujar Aurin lembut, tidak benar-benar ingin meminta maaf.Dea memangkas jarak diantara mereka dan dia menggeram rendah, namun penuh tekanan. “Seharusnya kamu tidak melakukan hal semacam ini. Kamu tahu betul
“Waaaahh ….” Aurin tidak kuasa menahan kekagumannya. Ia mengerjap selama beberapa kali seolah tengah mengabadikan tempat indah itu dengan lensa matanya. Hamparan hijau kebun teh yang rapi membentang luas sejauh mata memandang, seolah menyelimuti seluruh dataran tinggi ini. Kabut tipis tampak melayang-layang di antara pepohonan dan lereng bukit, menciptakan suasana yang begitu sejuk, meneduhkan mata sekaligus juga magis. Langit pun tampak mendung, namun sama sekali tidak mengurangi keindahannya. Justru karena itu, sinar matahari tidak terasa menyengat dan membuat suasana terasa damai, teduh. Dan yang paling ia nikmati adalah kualitas udaranya. Begitu segar, sejuk, dan bersih. Terasa begitu dingin namun nyaman saat dihirup masuk ke paru-parunya. Terasa jauh berbeda dengan udara kota yang biasanya panas dan penuh debu. Aurin merasa seluruh rasa lelah di tubuhnya luruh seke, terganti
“Dea, Rayden … kalian di mana?” Dea, yang sedang mencoba bersantai di tepi kolam renang seketika memutar bola mata jengah. Ia kesal sekali dengan kedatangan mertuanya yang mendadak seperti itu. Ketenangan dan waktu istirahatnya. Meski sebenarnya berat hati, ia tetap menjawabnya dengan santai. “Kami di kolam renang, Ma.” Rita berjalan tergesa ke arah Dea dan Rayden. Sambil tersenyum-senyum, ia berbicara. “Kemarin saat USG, kalian bilang anak kalian sepasang. Apa itu benar?” “Ya,” sahut Dea, tidak antusias seperti sebelum sebelumnya. Rita bertepuk tangan, ia memuji, sekaligus menawarkan sesuatu. “Wah, bagus itu! Kalian memang hebat. Satu kali hamil, dua anak! Kalau begitu, bagaimana kalau kita jalan-jalan sekarang juga?” Dea mengernyit tidak suka. Ia malas, tubuhnya lemah, namun masih juga diajak bepergian. “Apa tidak ada waktu lain, Ma? Kami belum persiapan,”
“Kalau Anda meminum obatnya secara disiplin, maka peluang hidup Anda sama saja dengan orang yang tidak mengidap HIV, Nyonya. Bisa puluhan tahun, bisa sampai usia tua, bahkan bisa seumur hidup layaknya orang normal pada umumnya.” Dokter itu menjeda ucapannya sejenak, menatap Dea serius. “Taoi ingat, semua itu bergantung pada diri Anda sendiri. Selama obat itu diminum tepat waktu dan tidak pernah putus, maka virusnya akan melemah.” Dea pulang dengan langkah gontai dan berat, seolah olah kedua kakinya terikat batu berton-ton beratnya. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, seakan tenaga dan jiwanya dicabut paksa bersamaan dengan keluarnya ia dari ruang periksa tadi. Sepanjang perjalanan, pandangannya kosong. Ia menatap jalanan yang padat merayap, namun ia tak peduli dengan apa yang ada di sekelilingnya. Entag mengapa, ia tak memiliki semangat hidup sedikit pun. Segala ambisi, harga diri, dan rencana-rencana indah yang ia susun
“Mengingat kita sudah berkomitmen untuk serius, saya tahu kamu sangat ingin acara lamaran itu segera diadakan. Tapi ….” Aurin menjeda kalimatnya. Ia mengulurkan tangan, lalu menyentuh telapak tangan besar Rayden dengan lembut. Jari jemarinya yang mungil menyusup erat di sela jemari pria itu, seolah mencari kekuatan. Wajahnya serius, penuh pertimbangan ketika berucap, “Saya tidak mau nama kita berdua dicap buruk oleh keluarga Nyonya Dea. Pasti mereka akan hadir di acara baby gender reveal itu, ‘kan?” Rayden terdiam sejenak, ia mengangguk dengan berat. “Benar. Tidak mungkin mereka absen begitu saja pada momen sebesar itu.” “Maka dari itu, lebih baik kita adakan acara lamaran di lain waktu saja,” usul Aurin tegas. Ia menatap lekat wajah pria tampan di hadapannya. “Kamu tidak keberatan ‘kan mengadakan acara seperti itu lagi? Meski … yeah … saya tahu itu berarti harus merogoh kocek lebih. Nanti kalau kamu merasa keberatan soal b
“Saya sudah duda!”“Duda? Bagaimana bisa?”Di ruang private sebuah restoran, Aurin memekik histeris saat Rayden mengakui statusnya. Yang ia tahu, pria ini baru mengurus perceraian sekitar dua minggu yang lalu. Tapi, mengapa status pria itu berubah secepat ini?“Panjang ceritanya,” jawab Rayden. Ia mengambil satu kentang goreng dari piring Aurin dan memasukkannya ke dalam mulut. “Yang pasti, minggu depan akta cerai saya keluar.”Karena masih belum paham, Aurin bertanya lagi. Ia mendekatkan badannya sambil tersenyum. “Apa ini karena bukti perselingkuhan Nyonya sangat kuat dan jelas sampai pihak pengadilan mengabulkannya secepat itu? Karena yang saya tahu, tetangga saya dulu cerah harus nunggu 6 bulan pisah rumah dulu, atau tidak dinafkahi suami lebih dari tiga bulan, baru bisa lancar prosesnya.”“Benar.” Rayden kembali mengambil kentang goreng itu, lalu menyuapkannya ke mulut Aurin. “Karena bukti dan
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.
Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu s
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R







