LOGIN“Tiduri suamiku. Lahirkan anak untuknya, dan uang setengah miliar jadi milikmu.” Aurin ingin menolak permintaan Dea—majikannya. Tapi, kebutuhan memaksanya mengangguk. Ia mengira semuanya akan selesai dalam satu malam tanpa perasaan. Namun saat pintu kamar terbuka dan Rayden menatapnya dengan dingin, Aurin sadar ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar perjanjian rahasia. Ketika dua garis merah muncul di testpack, semuanya menjadi kacau. Aurin mulai sadar, sejak awal dirinya memang tidak pernah benar-benar ‘aman’ berada di dekat Rayden.
View More“Lahirkan anak untuk suamiku!”
Aurin menelan ludah. Permintaan gila macam apa ini? Majikannya meminta ia untuk hamil anaknya? Apa tidak salah? “Begitu kamu berhasil mengandung anak suamiku, 500 juta ini akan menjadi milikmu.” Dea, majikannya yang cantik nan modis, duduk sambil menyilangkan kaki pada sofa tunggal. Setelah menunjuk cek bernilai 500 juta di atas meja dengan dagunya, Dea bersedekap, kemudian menatap Aurin—sang pelayan yang baru bekerja tiga bulan di rumahnya—dengan tatapan penuh intimidasi. Aurin terdiam. Wajahnya yang ayu tanpa perlu polesan membuat pipinya merah mendengar permintaan itu. Saat sang majikan berkata begitu, Aurin terkejut. Seiring dengan tangannya yang gemetar di pangkuan, matanya menyorot sang nyonya penuh pertimbangan, pun bibir tipisnya ikut tergagap kala dia berbicara, “S–saya tidak salah dengar, ‘kan, Nyonya?” “Tidak!” jawab Dea lugas. Dagunya terdongak angkuh, tatapannya setajam silet pada Aurin begitu dia bicara dengan gamblang, “Aku tidak suka mengulang ucapanku. Semua uang itu akan jadi milikmu kalau kamu mau melakukan tugasnya. Aku juga akan melunasi hutang keluargamu, dengan syarat kamu mau bekerja sama denganku.” Untuk sesaat, Aurin menahan debar dalam dada yang kian menyesakkan. Tawaran itu sangat menggiurkan, tetapi baginya, tak lebih dari jerat menyakitkan di lehernya. Setelah diam beberapa saat untuk menenangkan degup jantung yang kian menggila di balik kaos yang ia kenakan, Aurin menjawab gagu, “T–tapi, k–kenapa harus saya, Nyonya?” “Kenapa? Bukankah kamu butuh uang? Apa aku salah kalau menawarkan ‘pekerjaan enak’ untukmu?” sahut Dea lugas juga gamblang. “Yang kudengar kamu membutuhkan uang untuk bayar hutang, ‘kan?” Aurin kemudian menyadari bahwa majikannya ini pasti sudah mengetahui seluk-beluk kehidupannya sehingga bisa menebak demikian. Maka, Aurin anggukkan kepalanya singkat. “I–iya, Nyonya. Tapi … tidak dengan cara menjual diri saya seperti ini.” Dea kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia memposisikan diri dengan nyaman tepat di samping Aurin—pada sofa yang sama. Jemari lentiknya kemudian menyentuh dagu Aurin agar gadis muda yang terlihat begitu polos itu mau menatap ke arahnya. “Dengar, ini bukan transaksi jual beli karena kamu tidak menjual apapun, termasuk menjual diri kamu sendiri. Ini namanya simbiosis mutualisme. Kamu butuh uang, kami butuh anak. Kita sama-sama menguntungkan.” Aurin tak langsung menjawab begitu jemari sang nyonya terlepas dari dagunya. Dia menatap wajah tegas Dea lama sekali dengan mata bulatnya. Dari cerita ibunya, dia tahu betul kalau selama delapan tahun menikah, kedua majikannya itu—Dea dan Rayden—memang belum dikaruniai anak. Mereka juga kerap kali didesak oleh keluarga besar Rayden demi memberi keturunan untuk keluarga Wisesa. Akan tetapi dari tahun ke tahun, Dea tak kunjung hamil. Hal itulah yang katanya membuat Dea tertekan. Mendadak, rasa penasaran kian besar di pikiran Aurin. Oleh karena itu, ia bertanya pelan sekali mengenai ini agar tidak menyinggung majikannya. “M–aaf kalau pertanyaan saya menyinggung, Nyonya.” Begitu menjeda kalimatnya, Aurin menelan ludah sekali, ia menunduk takut sembari menunggu jawaban sang nyonya. Begitu wanita itu tak bereaksi, ia mengutarakan rasa penasarannya itu dengan ucapan yang berhati-hati. “T–api kenapa tidak Nyonya saja yang mengandung anak Tuan Rayden? Maaf, … apakah Anda … mengalami masalah kesuburan hingga mempengaruhi organ reproduksi Anda?” “Tidak!” jawab Dea lugas. Dia kemudian tampak menghela lelah dan memandang ke depan, lalu berkata dengan nada sengit. “Bukan urusanmu dan kamu tidak perlu tahu. Itu bukan ranahmu. Tugasmu hanya satu, terima atau tolak. Itu saja.” Usai menjeda kalimatnya sejenak, Dea menambahkan, “Kontrakku dengan agency yang menaungiku masih dua tahun lagi. Untuk apa aku buru-buru melahirkan jika nantinya tubuhku akan jadi buruk, gendut dan tidak enak dipandang? Aku tidak mau itu. Tapi, aku tetap butuh ahli waris.” Alasan yang Dea berikan sangat logis. Tapi, Aurin tak akan menerima tawaran itu begitu saja meski ia membutuhkan uang banyak. “T–tapi, Nyonya, ini—” “Apa kamu keberatan?” sela Dea cepat, seolah tak memberikan kesempatan bagi Aurin berbicara. Telunjuk kanannya kemudian meruncing lurus, menunjuk meja, “Apa nominal itu kurang?” Aurin menatap cek di atas meja dengan nominal yang fantastis. Kala ditanyai begitu, ia menggeleng berulang, “B-bukan begitu, Nyonya. Saya … hanya … tidak mau disebut pelakor, Nyonya.” “Pelakor?” Dea tertawa, meremehkan. “Oh ya ampun! Tidak ada yang mau menerima pelakor sepertimu.” Aurin lantas menatap dirinya sendiri. Benar, Dea tidak salah. Pelakor tidak ada yang jelek sepertinya. “Kamu hanya perlu melakukannya satu kali saat subur dengan suamiku. Begitu hamil, kamu bisa pergi untuk sementara waktu. Tapi setelah anak itu lahir, serahkan dia padaku. Aku akan berpura-pura hamil dan melahirkan, lalu menganggapnya sebagai anakku sendiri. Hidupmu dan hidup keluargamu akan kujamin selamanya.” Aurin masih benar-benar tak mengerti. Wanita di depannya ini bilang tidak mau hamil, tapi ingin berpura-pura hamil. Bagaimana ceritanya?“Benar, suruh dia ke sini. Saya temani. Barangkali dia mengajak kamu kabur, ‘kan?”“Ko, janganlah keterlaluan gitu.” Aurin memelas, menatap sang kakak dengan mata berkaca-kaca, berharap hati batu Ken bisa sedikit melunak demi suaminya yang malang di luar sana.“Kalau tidak begini, dia tidak tahu caranya melindungi kamu,” sahut Ken dingin tanpa ekspresi.Ia melangkah maju, lalu dengan santai bersandar pada bingkai jendela, tepat di samping nampan berisi air mineral dan camilan yang tadinya disiapkan Aurin untuk Rayden. Netra tajam sang dokter lurus menatap ke luar, mengawasi setiap pergerakan adik iparnya yang sebentar lagi pasti akan bergeser ke arah mereka sesuai arahan pesan singkat tadi.Keposesifan Ken yang begitu mendarah daging memang bukan tanpa alasan. Di balik sikap diktator dan amarahnya yang meledak-ledak hari ini, semua itu murni bersumber dari rasa sayang yang teramat besar kepada adik bungsunya.Sebagai seorang kak
“Dok, saya minta maaf, Dok. Tolong buka pintunya, Dok! Saya ingin bertemu Aurin! Dokter Ken! Dok!”Aurin, yang duduk gelisah di sofa ruang tamu, menatap penuh kecanggungan pada sang kakak. Ken tetap bergeming di tempat duduknya, melipat kedua tangan di dada dengan wajah sedingin es. Di samping Aurin, Kylie dan Meisya—mama mereka—hanya bisa saling pandang dengan raut cemas, tidak berani membantah keputusan kepala keluarga sementara di rumah itu.Sudah satu jam lebih Rayden memanggil-manggil di luar sana tanpa memedulikan harga dirinya, dan sudah dua jam lebih Ken berada di rumah setelah insiden baku hantam di apartemen.Namun, sejak menapakkan kaki di rumah ini, Ken dengan tegas melarang semua pelayan, bahkan Aurin, Kylie, maupun Meisya untuk membukakan pintu.“Ko ….” Aurin akhirnya memberanikan diri bersuara, memecah keheningan di antara mereka. Suaranya cicit, sarat akan rasa bersalah sekaligus tidak tega mendengar suara suaminya yang mulai serak di luar sana. “Rayden sudah lama d
“Kalau kamu tidak becus mengawasi istrimu, lebih baik kembalikan padaku! Aku kakaknya, lebih berhak melindunginya daripada kamu!”Bugh!Satu pukulan mentah berkecepatan tinggi melayang telak dari tangan Ken, menghantam rahang dan hidung Rayden tanpa ampun. Pukulan yang didorong oleh rasa muak dan kecemasan seorang kakak itu begitu kuat hingga menciptakan bunyi hantaman yang mengerikan di lobi yang sunyi.Rayden yang sama sekali tidak siap langsung kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong ke belakang dan jatuh terkapar di atas lantai marmer yang dingin. Hantaman keras itu membuat bokong dan tulang ekornya berdenyut sakit, namun rasa nyeri itu langsung terkalahkan oleh sensasi panas yang menjalar di wajahnya.“Akhh ….”Rayden meringis kesakitan. Ia segera memegangi hidungnya yang kini mulai mengalirkan darah segar di sela-sela jarinya. Pria yang biasanya selalu tampil berwibawa, rapi, dan tak tersentuh itu kini terduduk tak berdaya di lantai lobi, menunduk sambil menahan denyutan
“Ambulans sebentar lagi datang dan perbuatanmu sudah terekam CCTV di lobi ini. Jadi, jangan macam-macam lagi atau Aku pastikan Aurin menuntutmu!” Ken memberikan peringatan tegas. Untuk saat ini, dia tidak perlu mengungkapkan statusnya sebagai kakak kandung Aurin demi menjaga keamanan adik. Namun agaknya, Dea tidak mau menerima itu dan dia tetap mengamuk, mengabaikan rasa perih di perutnya. “Kenapa kamu menolong si jalang murahan itu?” Ken, yang sedang membereskan peralatan kedokterannya menatap Dea nyalang. Kata ‘jalang murahan’ yang diucapkan Dea memantik emosinya. Namun alih-alih terlihat marah, dia justrua berujar dingin dan datar. “Atas dasar kemanusiaan. Kamu lupa? Dia sedang mengandung tiga nyawa. Membunuhnya sama saja menghilangkan tiga anaknya juga. Ingat, dia sudah sering kamu siksa, kamu maki-maki, dan bahkan pernah kamu tlpukuli. Dan sekarang, kamu masih berniat membunuhnyas!” “Dia memang pantas m
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore