MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU

MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-26
Oleh:  OTHOR CENTILBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
38 Peringkat. 38 Ulasan-ulasan
136Bab
7.5KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

“Lahirkan anak untuk suamiku!” Dea menyodorkan cek tepat di depan Aurin. “Begitu hamil, 500 juta ini milikmu.” Jantung Aurin berhenti berdetak. Tatapannya berpindah, dari Dea ke cek itu. Tangannya dingin, tenggorokan ikut kering. Aurin bahkan tak yakin apakah salah dengar, atau memang permintaan itu segila yang ia pikirkan. “Nyonya ... saya tidak bisa.” Dea mengangkat dagu, kesal. “Apa kurang?” Aurin menggeleng. “Bukan masalah nominal. Ini ... terlalu beresiko.” “Kalau mau uang, harus terima resiko.” Malam itu, Aurin tidak tidur. Nominal yang ditawarkan majikannya, amat menggiurkan. Paginya, ia kembali dan berucap, “Saya setuju, Nyonya.” Pintu kamar terbuka, Rayden tidur di sana. Harusnya, Aurin naik ke atas tubuh majikannya, memberikan goyangan, klimaks, dan selesai. Tapi setelah melakukannya, mengapa ia enggan berhenti?

Lihat lebih banyak

Bab 1

1. Permintaan Gila

“Lahirkan anak untuk suamiku!”

Aurin menelan ludah. Permintaan gila macam apa ini? Majikannya meminta ia untuk hamil anaknya? Apa tidak salah?

“Begitu kamu berhasil mengandung anak suamiku, 500 juta ini akan menjadi milikmu.”

Dea, majikannya yang cantik nan modis, duduk sambil menyilangkan kaki pada sofa tunggal. Setelah menunjuk cek bernilai 500 juta di atas meja dengan dagunya, Dea bersedekap, kemudian menatap Aurin—sang pelayan yang baru bekerja tiga bulan di rumahnya—dengan tatapan penuh intimidasi.

Aurin terdiam. Wajahnya yang ayu tanpa perlu polesan membuat pipinya merah mendengar permintaan itu.

Saat sang majikan berkata begitu, Aurin terkejut. Seiring dengan tangannya yang gemetar di pangkuan, matanya menyorot sang nyonya penuh pertimbangan, pun bibir tipisnya ikut tergagap kala dia berbicara, “S–saya tidak salah dengar, ‘kan, Nyonya?”

“Tidak!” jawab Dea lugas. Dagunya terdongak angkuh, tatapannya setajam silet pada Aurin begitu dia bicara dengan gamblang, “Aku tidak suka mengulang ucapanku. Semua uang itu akan jadi milikmu kalau kamu mau melakukan tugasnya. Aku juga akan melunasi hutang keluargamu, dengan syarat kamu mau bekerja sama denganku.”

Untuk sesaat, Aurin menahan debar dalam dada yang kian menyesakkan. Tawaran itu sangat menggiurkan, tetapi baginya, tak lebih dari jerat menyakitkan di lehernya.

Setelah diam beberapa saat untuk menenangkan degup jantung yang kian menggila di balik kaos yang ia kenakan, Aurin menjawab gagu, “T–tapi, k–kenapa harus saya, Nyonya?”

“Kenapa? Bukankah kamu butuh uang? Apa aku salah kalau menawarkan ‘pekerjaan enak’ untukmu?” sahut Dea lugas juga gamblang. “Yang kudengar kamu membutuhkan uang untuk bayar hutang, ‘kan?”

Aurin kemudian menyadari bahwa majikannya ini pasti sudah mengetahui seluk-beluk kehidupannya sehingga bisa menebak demikian.

Maka, Aurin anggukkan kepalanya singkat. “I–iya, Nyonya. Tapi … tidak dengan cara menjual diri saya seperti ini.”

Dea kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia memposisikan diri dengan nyaman tepat di samping Aurin—pada sofa yang sama.

Jemari lentiknya kemudian menyentuh dagu Aurin agar gadis muda yang terlihat begitu polos itu mau menatap ke arahnya. “Dengar, ini bukan transaksi jual beli karena kamu tidak menjual apapun, termasuk menjual diri kamu sendiri. Ini namanya simbiosis mutualisme. Kamu butuh uang, kami butuh anak. Kita sama-sama menguntungkan.”

Aurin tak langsung menjawab begitu jemari sang nyonya terlepas dari dagunya. Dia menatap wajah tegas Dea lama sekali dengan mata bulatnya. Dari cerita ibunya, dia tahu betul kalau selama delapan tahun menikah, kedua majikannya itu—Dea dan Rayden—memang belum dikaruniai anak.

Mereka juga kerap kali didesak oleh keluarga besar Rayden demi memberi keturunan untuk keluarga Wisesa. Akan tetapi dari tahun ke tahun, Dea tak kunjung hamil. Hal itulah yang katanya membuat Dea tertekan.

Mendadak, rasa penasaran kian besar di pikiran Aurin. Oleh karena itu, ia bertanya pelan sekali mengenai ini agar tidak menyinggung majikannya. “M–aaf kalau pertanyaan saya menyinggung, Nyonya.”

Begitu menjeda kalimatnya, Aurin menelan ludah sekali, ia menunduk takut sembari menunggu jawaban sang nyonya. Begitu wanita itu tak bereaksi, ia mengutarakan rasa penasarannya itu dengan ucapan yang berhati-hati. “T–api kenapa tidak Nyonya saja yang mengandung anak Tuan Rayden? Maaf, … apakah Anda … mengalami masalah kesuburan hingga mempengaruhi organ reproduksi Anda?”

“Tidak!” jawab Dea lugas. Dia kemudian tampak menghela lelah dan memandang ke depan, lalu berkata dengan nada sengit. “Bukan urusanmu dan kamu tidak perlu tahu. Itu bukan ranahmu. Tugasmu hanya satu, terima atau tolak. Itu saja.”

Usai menjeda kalimatnya sejenak, Dea menambahkan, “Kontrakku dengan agency yang menaungiku masih dua tahun lagi. Untuk apa aku buru-buru melahirkan jika nantinya tubuhku akan jadi buruk, gendut dan tidak enak dipandang? Aku tidak mau itu. Tapi, aku tetap butuh ahli waris.”

Alasan yang Dea berikan sangat logis. Tapi, Aurin tak akan menerima tawaran itu begitu saja meski ia membutuhkan uang banyak. “T–tapi, Nyonya, ini—”

“Apa kamu keberatan?” sela Dea cepat, seolah tak memberikan kesempatan bagi Aurin berbicara. Telunjuk kanannya kemudian meruncing lurus, menunjuk meja, “Apa nominal itu kurang?”

Aurin menatap cek di atas meja dengan nominal yang fantastis. Kala ditanyai begitu, ia menggeleng berulang, “B-bukan begitu, Nyonya. Saya … hanya … tidak mau disebut pelakor, Nyonya.”

“Pelakor?” Dea tertawa, meremehkan. “Oh ya ampun! Tidak ada yang mau menerima pelakor sepertimu.”

Aurin lantas menatap dirinya sendiri. Benar, Dea tidak salah. Pelakor tidak ada yang jelek sepertinya.

“Kamu hanya perlu melakukannya satu kali saat subur dengan suamiku. Begitu hamil, kamu bisa pergi untuk sementara waktu. Tapi setelah anak itu lahir, serahkan dia padaku. Aku akan berpura-pura hamil dan melahirkan, lalu menganggapnya sebagai anakku sendiri. Hidupmu dan hidup keluargamu akan kujamin selamanya.”

Aurin masih benar-benar tak mengerti. Wanita di depannya ini bilang tidak mau hamil, tapi ingin berpura-pura hamil. Bagaimana ceritanya?

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Peringkat

10
100%(38)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
10 / 10.0
38 Peringkat · 38 Ulasan-ulasan
Tulis Ulasan

Ulasan-ulasanLebih banyak

Marcell Wang
Marcell Wang
emang kalo orang miskin tuh sering bgt direndahin.
2026-04-25 16:48:11
0
0
Poepoe
Poepoe
Kasian juga ya Aurin terpaksa tidur sama Rayden demi uang. Tambah penasaran gimana kelanjutannya… apalagi si Dea tipikal nyebelin! Semangat update author!! Plis happy ending hehehe
2026-04-17 22:27:26
1
1
Strawberry
Strawberry
To be honest, nagih banget ceritanya.
2026-04-17 20:04:50
1
1
Za_dibah
Za_dibah
Cerotanya seru... semoga rayden cepat sadar kalau istrinya selingkuh dibelakangnya. satukan aurin dan rayden kak, mungkin aja kepolosan aurin bisa meluluhkan hati rayden yang dingin
2026-04-16 22:47:23
1
1
Za_dibah
Za_dibah
Sibuk baca jadi lupa kasih ulasan, ceritanya seru, panas dan... semoga rayden cepat sadar kalau istrinya selingkuh diluar sana
2026-04-16 22:43:07
1
1
136 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status