"Dasar gila! Kau sudah punya tunangan! Buat apa kau menginginkanku?!" teriakku frustrasi, mencoba mendorong dadanya yang bidang dengan sisa tenagaku, namun tubuh tegapnya sama sekali tidak bergemang sedikit pun."Karena kau milikku dari awal," sahut Aegon, suaranya terdengar begitu mutlak tanpa celah perdebatan.Aegon semakin merangsek maju, memojokkan tubuh polosku hingga aku terduduk di kasur. Ia semakin dekat dan mengurungku di antara kedua tangannya yang kekar dan bertumpu pada tepi ranjang. Sepasang mata emasnya berkilat-kilat penuh dominasi primitif, mengunci pergerakanku sepenuhnya di bawah kungkungan tubuh berototnya yang bertelanjang dada."Kau, tubuhmu, pikiranmu, jiwamu, semuanya milikku, Lysa," bisiknya rendah, seolah sedang merapalkan sebuah mantra k
Read more