"Aku tidak mau jadi pembantu!" Suara yang malu-malu itu, meskipun lembut, mengandung kekeraskepalaan."Adik kecil, jangan keras kepala. Kakak Lan tidak sabar bermain-main denganmu." Suara angkuh itu tiba-tiba berubah dingin.Setelah suara itu, sebuah suara lemah berteriak, "Lepaskan aku! Kalian bajingan, apakah kalian menghormati aturan sekte ini?!""Aturan di sini adalah aturan, dan kita adalah aturannya," kata suara itu dengan arogan."Lepaskan!" Tepat ketika suara arogan itu hendak meletus, sebuah suara dingin tiba-tiba datang dari belakang."Siapa yang berani mencampuri urusan orang lain!" Sosok arogan itu segera berbalik, dan di belakangnya berdiri seorang pemuda berjubah biru.Saat itu, pemuda berjubah biru itu menatapnya dengan tatapan dingin."Sudah kubilang lepaskan, apa kau tuli?!" Pemuda berjubah biru itu melirik tangan pria arogan yang mencengkeram pergelangan tangan gadis mungil itu dan berkata dingin."Siapa kau sebenarnya, berani-beraninya menunjukku..." Sebelum pria so
Read more