LOGINDia dikhianati oleh kekasih yang sangat dicintai. Dibuang ke jurang hingga hampir mati. Saat ajal hendak menjemputnya, takdir datang lewat sebuah harta surgawi yang mengenali dirinya sebagai tuan. Lewat harta surgawi ini, dia bangkit untuk menjadi Kultivator Surgawi
View MoreAngin musim semi berhembus lembut di atas Bukit Bunga Merah, membawa serta harum ribuan kelopak yang bermekaran di antara jalan setapak berbatu. Di sinilah, di tempat yang katanya paling indah di seluruh Kota Yanfeng, sepasang muda-mudi berlarian dengan tawa yang mengisi setiap sudut bukit itu.
Pemuda itu tampan bukan kepalang. Rahangnya tegas, matanya hitam pekat seperti batu obsidian, dan senyumnya adalah senjata paling berbahaya yang pernah dimilikinya, walaupun dia sendiri tidak pernah menyadarinya. Namanya Chu Jianqiu, seorang kultivator muda yang dulu dianggap berbakat oleh tidak sedikit orang di kota ini. Dulu. Di sebelahnya berlari seorang gadis dengan gaun biru pucat berkibar bak sayap kupu-kupu. Liu Tianyao. Kulitnya putih seperti giok, bibirnya merah alami, dan rambutnya hitam panjang yang sesekali tersibak oleh angin. Setiap lelaki yang pernah melihatnya pasti akan berpaling dua kali. "Jianqiu! Jangan lari begitu cepat!" serunya sambil tertawa, suaranya nyaring seperti lonceng perak. Chu Jianqiu terkekeh lalu memperlambat langkahnya, membiarkan gadis itu menyusul dan langsung memeluk lengannya dari belakang. Dia berbalik, menatap wajah gadis itu dari dekat, dan hatinya berdegup seperti biasa. 'Tiga tahun. Tiga tahun aku mencintainya.' "Duduk dulu," ujarnya sambil menunjuk sebongkah batu datar besar yang diselimuti lumut halus, tepat di tepi tebing dengan pemandangan kota di bawah. "Aku punya kejutan untukmu." Liu Tianyao mengerucutkan bibirnya dengan gemas, lalu duduk dengan anggun di atas batu itu. "Kejutan? Kejutan apa?" Mata gadis itu berbinar-binar. Setidaknya, begitulah yang terlihat oleh Chu Jianqiu. Pemuda itu tersenyum lebar. Dengan gerakan penuh antusias, dia merogoh kantong penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah pil kecil berwarna merah menyala. Pil itu berpendar redup dalam genggamannya, memancarkan kehangatan yang bahkan bisa dirasakan dari jarak beberapa langkah. Liu Tianyao mengernyit. "Ini... pil pembakar darah?" "Benar." Chu Jianqiu mengangguk mantap. "Aku tidak," gadis itu terdiam sejenak, kebingungan menghiasi wajahnya. "Aku tidak membutuhkan pil seperti ini, Jianqiu. Untuk apa?" Pemuda itu tertawa kecil, lalu menjentikkan jari ke arah pil itu. "Bukan untukmu, Tianyao. Ini untukku." Hening sejenak. Angin berhembus, membawa gugur beberapa kelopak bunga merah di antara mereka berdua. "Untukmu?" Liu Tianyao mengulang kata itu pelan. Chu Jianqiu mengangguk, matanya berbinar penuh keyakinan. "Aku membaca sebuah kitab pengobatan kuno tiga bulan lalu. Tertulis di sana bahwa serangan hawa dingin seburuk yang kau derita hanya bisa dihilangkan sepenuhnya jika sang penyembuh mengaktifkan garis darah panasnya hingga beberapa kali lipat dari biasanya." Dia menghela napas panjang. "Selama tiga tahun ini, pengobatan yang kulakukan belum pernah cukup efektif. Tapi kali ini berbeda. Kali ini aku yakin." Gadis itu memandanginya. "Tapi pil pembakar darah itu akan melukai dirimu sendiri." "Tidak apa-apa." "Tidak apa-apa?" Liu Tianyao menaikkan satu alisnya. "Jianqiu, pil itu akan..." "Tidak apa-apa," ulang pemuda itu lebih tegas, dan senyumnya melebar tanpa sedikit pun bayangan keraguan. "Kau sudah menderita cukup lama. Ini saatnya semua itu berakhir." Liu Tianyao tertunduk. Wajahnya tersembunyi dari pandangan Chu Jianqiu. Dan di situlah, di balik helai rambutnya yang terurai, sebuah senyuman perlahan merekah di sudut bibirnya. Bukan senyuman haru. Bukan senyuman terharu. Melainkan senyuman yang dingin, tipis, dan penuh kalkulasi, senyuman seseorang yang tengah menyaksikan sebuah rencana berjalan tepat seperti yang diinginkan. Namun Chu Jianqiu tidak melihat itu. Dia terlalu sibuk memandangi langit, bersyukur dalam hati. Pil pembakar darah itu meleleh di lidahnya seperti bara. Satu tarikan napas. Dua. Tiga. Kemudian panas itu merayap dari perut, menjalar ke dada, naik ke bahu, turun ke ujung jari. Darahnya mulai mendidih dalam nadi. Bukan rasa sakit biasa. Ini seperti ribuan jarum kecil menusuk dari dalam sambil sebuah tungku menyala di rongga dadanya. Chu Jianqiu mengatupkan rahang rapat-rapat dan tidak mengeluarkan satu pun erangan. 'Tidak boleh menunjukkan kelemahan di hadapannya.' Dia mengangkat kedua tangannya, meletakkannya di atas punggung Liu Tianyao, dan mulai menyalurkan qi yang kini membara seperti lahar. Garis darah panas dalam dirinya, kemampuan langka yang diwarisi dari leluhurnya, kini berputar dengan kecepatan yang belum pernah dia capai sebelumnya, didorong habis-habisan oleh efek pil terkutuk itu. Pengobatan dimulai. Dan kali ini, memang berbeda. Dalam hitungan menit pertama saja, Liu Tianyao sudah menghela napas panjang. Hawa dingin yang selama bertahun-tahun bersarang di meridiannya mulai terusir, didorong keluar oleh gelombang panas yang mengalir dari tangan Chu Jianqiu. Gadis itu bisa merasakannya dengan sangat jelas, sesuatu yang selama ini menggerogoti tubuhnya dari dalam kini mulai runtuh, lapisan demi lapisan. Sementara itu, Chu Jianqiu terus bertahan. Satu jam. Dua jam. Keringat bercucuran membasahi bajunya. Wajahnya memutih. Napasnya makin pendek. Tapi tangannya tidak pernah bergeser dari punggung sang gadis. Dia memikirkan tiga tahun terakhir ini. Betapa tidak terhitung ramuan yang dia cari dari berbagai penjuru kota. Betapa banyak malam tanpa tidur yang dia habiskan untuk mempelajari manuskrip pengobatan. Betapa dia sama sekali tidak sempat berlatih kultivasi, sementara teman-teman seangkatannya kini sudah melompat dua hingga tiga tingkatan di atasnya. Tidak ada yang dia sesali. 'Asal kau sembuh, Tianyao. Asal kau sembuh.' Jam ketiga. Chu Jianqiu sudah hampir tidak merasakan tubuhnya sendiri. Qi-nya nyaris habis. Panas dalam darahnya sudah menguras hampir seluruh cadangan vitalitas yang dia miliki. Setiap hembusan napas terasa seperti menelan abu panas. Tapi di saat itulah, sesuatu yang besar terjadi. Hawa dingin terakhir yang bersembunyi jauh di dalam inti meridian Liu Tianyao akhirnya pecah, tersapu habis oleh gelombang panas terakhir yang Chu Jianqiu hantamkan dengan seluruh sisa kekuatannya. Selesai. Pemuda itu menarik tangannya pelan. Tubuhnya goyah. Dia hampir jatuh, tapi berhasil menstabilkan diri dengan satu lutut menyentuh tanah. "Tianyao," panggilnya dengan suara serak, napasnya tersengal-sengal. "Sudah... sudah tidak ada lagi. Kau bebas. Hawa dingin itu sudah hilang sepenuhnya." Dia mengangkat kepala dengan susah payah, menunggu jawaban gadis itu. Dan Liu Tianyao bangkit. Perlahan. Anggun. Seperti seseorang yang baru saja selesai beristirahat. Dia berdiri memunggungi Chu Jianqiu selama beberapa detik, menatap pemandangan kota di bawah bukit. Jari-jarinya bergerak perlahan ke gagang pedang di pinggangnya. Kemudian dia berbalik. Dan Chu Jianqiu melihat wajahnya. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada air mata syukur. Tidak ada senyuman lembut yang selama tiga tahun ini selalu membuatnya sanggup menanggung segalanya. Yang ada hanya kedinginan. Kedinginan yang jauh lebih menusuk dari hawa dingin mana pun yang pernah Chu Jianqiu rasakan dalam hidupnya. Senyuman tipis itu merekah di bibir Liu Tianyao. "Kau sudah menyelesaikan tugasmu, Chu Jianqiu," ujarnya dengan suara datar, hampir santai. Pedangnya setengah tercabut dari sarungnya. "Lebih baik kau mati sekarang." Hening. Bahkan angin seolah berhenti bertiup. Chu Jianqiu menatap gadis itu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar. 'Apa...?' "Tianyao," akhirnya dia berhasil mengeluarkan satu kata. "Apa maksudmu?" Liu Tianyao mendengus pelan. "Maksudku sangat jelas." "Aku baru saja..." tenggorokannya tercekat. "Aku baru saja menghabiskan tiga tahun hidupku untukmu. Aku baru saja meminum pil pembakar darah demi menyembuhkanmu. Aku..." "Ya, ya." Gadis itu melambaikan tangan dengan malas, seolah mendengar hal yang tidak terlalu menarik. "Dan aku berterima kasih atas itu. itu memang Sangat berguna bagiku." "Berguna?" "Tentu saja." Liu Tianyao menatapnya dengan tatapan yang kini terasa benar-benar asing, tatapan seseorang yang menatap sebuah alat yang sudah tidak diperlukan lagi. "Kau berpikir aku sungguh-sungguh mencintaimu, Chu Jianqiu? Kau berpikir gadis sepertiku akan puas menjadi istri dari seorang pemuda yang bahkan tidak bisa menjaga kemajuan kultivasinya sendiri?" Setiap kata itu mendarat seperti tamparan. "Keluargamu biasa-biasa saja. Prospekmu tidak ada. Dan sekarang, setelah meminum pil pembakar darah itu, tubuhmu sudah rusak dan kultivasimu sudah tidak bisa diselamatkan lagi." Dia memiringkan kepala sedikit. "Lalu apa gunanya kamu bagiku?"Alam Rahasia Songquan adalah padang rumput luas yang berjarak jutaan mil dari Kota Gunung Hitam.Padang rumput ini sangat luas, membentang hingga satu juta mil persegi.Di padang rumput yang luas ini, berdiri raksasa-raksasa menjulang tinggi berzirah emas, masing-masing setinggi ribuan kaki, tubuh mereka berkilauan dengan lapisan logam dingin.Para raksasa berzirah emas yang menjulang tinggi ini masing-masing memancarkan aura yang sangat kuat.Saat ini, para raksasa berbaju emas itu terlibat dalam pertempuran sengit. Dengan setiap gerakan yang mereka lakukan, para raksasa berbaju emas itu melepaskan kekuatan yang mengerikan. Guncangan dahsyat dari pertempuran itu menciptakan kawah-kawah besar di padang rumput, dan retakan-retakan mengerikan dan besar yang tak terhitung jumlahnya menyebar, menutupi seluruh padang rumput seperti jaring laba-laba.Jika pertempuran mengerikan ini terjadi di kota-kota yang dihuni manusia, itu akan menjadi bencana besar.Di sisi lain padang rumput ini, ratu
"Saudara Chu, apakah kau masih punya Pil Xuanzun? Permintaannya sangat tinggi!" Setelah menolak semua pendekar yang datang untuk membeli "Pil Terobosan Tianzun," Wu Huan segera mengirim pesan kepada Chu Jianqiu.Jika satu Pil Xuanzun dijual seharga 60 juta batu spiritual tingkat tujuh, mereka akan menghasilkan kekayaan yang besar."Tidak untuk saat ini!" jawab Chu Jianqiu dengan santai setelah menerima pesan dari Wu Huan.Sekarang, dengan pasukan berjumlah 300.000 orang yang terdiri dari para ahli Alam Yang Mulia dari Dinasti Iblis Kegelapan yang akan muncul dari reruntuhan kuno, dia perlu memanfaatkan setiap momen untuk menyempurnakan formasi pertempuran dan baju besi. Dia tidak punya waktu untuk memikirkan masalah Pil Yang Mulia yang Agung."Saudara Chu, mengapa kau tidak memurnikan satu batch sekarang? Satu Pil Xuanzun dijual seharga 60 juta batu spiritual tingkat tujuh! Ini adalah peluang bisnis yang langka dan besar! Baru hari ini, seratus pendekar bela diri telah datang untuk me
Seandainya bukan karena terobosan Feng Feiyun dan Wu Mu tepat di depan mata mereka, mereka tidak akan pernah percaya bahwa ada Pil Terobosan Yang Mulia Surgawi yang ajaib seperti itu.Pil Penembus Alam Yang Mulia Surgawi tingkat tertinggi yang pernah mereka dengar sebelumnya adalah yang dibeli Feng Feiyu di lelang, yang dapat memberi para praktisi bela diri peluang 50% untuk menembus ke alam Yang Mulia Surgawi.Peluang 50% saja sudah menakutkan. Pil Terobosan Yang Mulia Surgawi biasanya hanya memiliki peluang 20% atau 30%, apalagi 70%.Dalam sekejap, banyak sekali pendekar bela diri berbondong-bondong ke Perusahaan Perdagangan Baotong, ingin membeli Pil Terobosan Yang Mulia Surgawi, yang dapat meningkatkan tingkat keberhasilan menembus Alam Yang Mulia Surgawi hingga 70%.Bagi mereka, Pil Penghancur Penghalang Yang Mulia Surgawi ini sepadan dengan harga berapa pun untuk mendapatkannya.Apa pentingnya uang? Jika mereka bisa menembus ke Alam Yang Mulia Surgawi, mereka akan memiliki kek
"Mustahil, ini tidak mungkin!" Melihat pemandangan ini, wajah Feng Feiyu meringis marah, dan dia tampak seperti orang gila.Setelah mencapai Alam Yang Mulia Surgawi, dia yakin bahwa dialah Putra Mahkota Dinasti Fengyuan yang tak terbantahkan, dan bahwa perebutan takhta akan menjadi sesuatu yang sudah pasti.Beberapa hari terakhir ini, Feng Feiyu sedang menikmati kesuksesannya dan bersemangat tinggi, sama sekali tidak lagi menganggap Feng Feiyun serius.Di matanya, Feng Feiyun tidak lebih dari seekor semut yang sedikit lebih besar. Begitu dia resmi menjadi putra mahkota, akan mudah baginya untuk menghancurkan Feng Feiyun.Feng Feiyu tidak lagi menganggap Feng Feiyun sebagai ancaman dan berhenti memperhatikan berita yang berkaitan dengan Feng Feiyun. Dia menarik semua pasukan yang memantau Feng Feiyun dan memfokuskan seluruh upayanya untuk menghadapi Chu Jianqiu.Namun sebelum ia sempat menikmati kemenangannya selama beberapa hari, Feng Feiyun juga berhasil menembus ke Alam Yang Mulia S
Penjara Iblis Kegelapan mengeluarkan perintah pembunuhan kepada tokoh-tokoh penting di pihak lawan. Mereka yang dapat diberi perintah pembunuhan oleh Penjara Iblis Kegelapan adalah para jenius bela diri dengan bakat luar biasa atau tokoh-tokoh penting yang memainkan peran kunci di bidang tertentu.
Tang Xuan melihat terlalu banyak hal luar biasa dan ajaib di Chu Jianqiu.Teknik pembuatan jimatnya yang tak terduga, susunan penempaan niat pedangnya yang sangat mendalam, pil tingkat menengah kelas tujuh yang dapat menjamin terobosan ke Alam Yang Mulia Bumi, dan identitas misteriusnya yang membua
Ketika sekelompok tokoh penting dari Akademi Fengyuan melihat Tang Xuan berlari ke Halaman Timur bagian luar, mereka merasa sangat penasaran.Namun, mengingat mereka ingin menerima murid yang berbakat seperti itu, mereka harus menunjukkan ketulusan yang lebih besar, jadi mereka semua pergi ke Halam
Chu Jianqiu mengeluarkan pil tingkat menengah peringkat tujuh yang telah dimurnikan Qin Miaoyan dengan menggabungkan energi kuno dan melemparkannya ke Tang Xuan: "Pil ini untukmu!"Tang Xuan memberikan kontribusi signifikan dalam pertempuran sebelumnya. Karena dialah yang menahan Qiao Qi, Harimau P
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore