Keheningan setelah pengakuan itu tidak pernah benar-benar kosong. Ia justru terasa penuh, dipenuhi oleh sesuatu yang tidak lagi bisa disangkal— pilihan yang sudah dibuat, dan keinginan yang tidak lagi berusaha disembunyikan. Kiara tidak langsung pergi dari kafe itu. Ia tetap duduk di tempatnya, jari-jarinya masih menyentuh cangkir yang sudah kehilangan hangatnya, sementara pikirannya berjalan jauh lebih cepat dari yang ia inginkan. Di depannya, Elvano juga tidak bergerak. Ia tidak mendesak, tidak menekan, tidak juga mencoba memecah suasana. Namun justru karena itu, kehadirannya terasa semakin nyata, semakin sulit untuk diabaikan. Mereka tidak lagi bermain dengan kata-kata, tidak lagi bersembunyi dibalik kalimat setengah jadi. Dan itu membuat semuanya terasa lebih berat. "Ini bukan kesalahan pertama," kata Kiara akhirnya, suaranya pelan namun tajam, seolah ia sedang berbicara lebih pada dirinya sendiri daripada pada pria di depannya.
Terakhir Diperbarui : 2026-04-15 Baca selengkapnya