Sepuluh tahun yang lalu. Segalanya mulai retak, bukan karena suara keras , tapi dengan kelelahan yang perlahan menggerogoti. Ayah Kiara jatuh sakit. Awalnya tidak terlihat serius. Hanya kelelahan. Pusing sesekali. Tubuhnya mulai kehilangan tenaga. "Kau terlalu memaksakan diri Ayah," kata Kiara suatu sore, berdiri di ambang pintu ruang kerja. Ayahnya tersenyum. Seperi biasa, terlihat hangat dan menenangkan. "Ayah baik-baik saja." Ia selalu mengatakan itu. Seolah dengan mengulanginya, semuanya akan benar-benar menjadi lebih baik. Namun waktu tidak pernah benar-benar memihak. Hari-hari berlalu dan kondisinya tidak kunjung membaik. Langkah ayahnya mulai melambat. Suaranya tidak sekuat dulu. Dan tubuhnya, semakin kurus dari hari ke hari. Dokter dipanggil. Pemeriksaan dilakukan. Hasilnya tidak pernah pasti. "Kondisi tubuhnya menurun," kata mereka.
Terakhir Diperbarui : 2026-04-05 Baca selengkapnya