Elara menggeram kesal tatkala Nick tak kunjung mengangkat telfon darinya. Bahkan wanita itu membanting ponselnya ke atas kasur. "S*al!" Umpat Elara sembari mengacak rambutnya dengan frustasi. "Di masa lalu, kedua orang tuamu berhasil memisahkan kita. Tapi tidak untuk kali ini," Elara mengepalkan tangannya. Kemudian ia mendapat suatu ide. Elara mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan suara pada pria yang masih sangat ia harapkan itu. "Nick, tolong aku sesak nafas!" Elara berakting seakan ia memang memerlukan oksigen. Tak lama, ponsel berdering. Ya, Nick masuk ke dalam jebakannya. "Hallo, Nick. Aku sesak nafas. Tolong aku!" Elara mengangkat panggilan telfon itu dengan cepat. Ia berakting seapik mungkin agar Nick mempercayai ucapannya. "Arthur akan segera ke sana," jawab Nick yang membuat wajah Elara seketika berubah pucat pasi. "Aku hanya memerlukan kehadiranmu, Nick," Elara mempelankan suaranya, seakan ia benar-benar tak berdaya. "Dia akan datang bersama dokter." Tut
Read more