LOGINOlivia memandang suaminya dari kaca spion mobil milik Edmund. Olivia terus menatap Nick hingga pria itu tak terlihat lagi. Olivia menatap nanar pemandangan di luar mobil. Entah mengapa hatinya terasa hampa. "Kalian sedang bertengkar?" Tebak Edmund. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Seperti yang kau duga," Olivia tersenyum kecil, tak menyanggah pertanyaan itu. "Apa yang membuatmu bertengkar dengannya?" Tanya Edmund dengan penasaran. Sesekali ia menoleh ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Kemudian Edmund memusatkan kembali matanya pada jalanan yang terbentang. "Dia sudah kembali kepada mantan kekasihnya," adu Oliviia dengan wajah datar. Sebenarnya Olivia tak ingin berbagi tentang kehidupan pribadinya pada orang lain. Akan tetapi, Olivia tak kuat untuk menahannya seorang diri. Edmund juga sudah tahu latar belakang pernikahan dirinya dengan Nick. Olivia pikir tak ada lagi hal yang harus dirahasiakan dari Edmund saat ini. "Lalu, apa rencanamu?" Tanya Edmund penuh
Elara menggeram kesal tatkala Nick tak kunjung mengangkat telfon darinya. Bahkan wanita itu membanting ponselnya ke atas kasur. "S*al!" Umpat Elara sembari mengacak rambutnya dengan frustasi. "Di masa lalu, kedua orang tuamu berhasil memisahkan kita. Tapi tidak untuk kali ini," Elara mengepalkan tangannya. Kemudian ia mendapat suatu ide. Elara mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan suara pada pria yang masih sangat ia harapkan itu. "Nick, tolong aku sesak nafas!" Elara berakting seakan ia memang memerlukan oksigen. Tak lama, ponsel berdering. Ya, Nick masuk ke dalam jebakannya. "Hallo, Nick. Aku sesak nafas. Tolong aku!" Elara mengangkat panggilan telfon itu dengan cepat. Ia berakting seapik mungkin agar Nick mempercayai ucapannya. "Arthur akan segera ke sana," jawab Nick yang membuat wajah Elara seketika berubah pucat pasi. "Aku hanya memerlukan kehadiranmu, Nick," Elara mempelankan suaranya, seakan ia benar-benar tak berdaya. "Dia akan datang bersama dokter." Tut
Olivia akhirnya menceritakan semuanya pada adiknya dan juga pada Valerie, sepupunya. Ia bercerita bagaimana awal pertemuan dirinya dengan Nick hingga bisa menikahi pria itu. Valerie menatap Olivia dengan sedih. Tak menyangka jika sepupu yang pernah ia benci itu berkorban sampai sejauh ink untuk adiknya sendiri. Sementara Aurelie, sedari tadi hanya terus menangis. Dirinya seolah memasukan kakaknya ke dalam setiap masalah. Aurelie tak menyangka jika kakaknya berkorban dalam hal apapun untuknya. "Maafkan kakak ya? Jika kakak sudah memilih jalan seperti ini," Olivia berusaha tersenyum pada adiknya sendiri, walau senyum itu penuh dengan luka. Ia merasa bersalah karena sudah membiayai hidup Aurelie dengan uang bukan dari hasil keringatnya sendiri. "Tidak, aku yang harus meminta maaf. Seharusnya kakak biarkan aku mati saja, agar kakak tidak lagi mempunyai beban berat. Seharusnya sedari dulu kakak membiarkanku menyusul mendiang ibu," Aurelie menangis tergugu, merasa sangat sakit mengetahui
Valerie menghembuskan nafasnya kasar. Ia sudah mencoba mencari pekerjaan lagi ke sana ke mari. Akan tetapi, mencari pekerjaan di tengah kota Paris, tak semudah yang orang lain bayangkan. Sudah ratusan email ia kirimkan pada berbagai perusahaan. Tapi belum ada satu pun yang tertarik untuk memanggilnya interview kerja. Valerie mulai merasa stres dengan situasi yang kini telah menderanya. "Aku lelah," Valerie bergumam. Gadis itu menelungkupkan wajahnya di meja. Teringat akan ibunya yang jauh di sana, membuat air mata Valerie tak sadar menitik dari sudut matanya. "Ibu, mengapa ayah tega pada kita?" Isak Valerie ketika mengingat perilaku sang ayah yang mencampakan ibunya dan menikahi wanita lain. "Apa ibu setiap hari menangisi ayah?" Gumamnya lagi dengan pedih. Membayangkan kesedihan yang Bibi May rasakan kini. Hati Valerie semakin sakit kala ia tak bisa ada di samping ibunya di masa sulitnya seperti saat ini. Valerie kemudian meluruskan tubuhnya. Ia tampak berpikir sejenak. Kep
Elara membuka pintu ketika seseorang memencet bel apartemennya. Wanita itu tersenyum samar ketika melihat siapa yang datang ke apartemennya di malam hari seperti ini. "Mana Nick?" Tanya Olivia tanpa berbasa basi, ia memandang mantan tunangan suaminya itu dengan tatapan gelap dan tak terbaca. "Nick ada-" Elara belum sempat menyelesaikan kata-katanya. "Siapa yang datang?" Nick berjalan ke arah pintu utama. Bibirnya langsung membisu ketika melihat istrinya ada di sana. Tubuh Nick seakan membeku. Jantungnya seperti ditarik dari tempatnya. Nick menatap Olivia dengan wajah terkejut. Mengapa istrinya itu ada di sini saat ini? Nick sungguh tak bisa berpikir jernih."Hebat ya! Kalian ternyata sudah tinggal bersama," Olivia tertawa pedih. Lebih tepatnya ia menertawakan dirinya sendiri yang berhasil dibodohi oleh Nick. "Olivia, ini tak seperti yang kau kira!" Nick terlihat panik. Ia berjalan mendekati istrinya."Cukup, Nick!" Olivia menghentikan langkah kaki Nick, pria itu hendak menggapai
Valerie masih tinggal bersama Aurelie atas permintaan Olivia. Bibi May sendiri sudah pulang kembali ke Lembah Loire saat Valerie sudah mulai bekerja. Awalnya Valerie akan menyewa flat dan pergi dari rumah yang ditempati sepupunya. Akan tetapi, Olivia dan Aurelie terus memaksa agar Valerie tinggal di sana. Olivia dan Aurelie sangat senang dengan kehadiran Valerie, karena wanita itu bisa menemani Aurelie di sana. "Aku berangkat kerja dulu," Valerie berpamitan pada sepupunya. "Hati-hati di jalan!" Aurelie melambaikan tangannya dengan ceria. Valerie kemudian berjalan kaki untuk sampai di halte bus. Valerie menaiki bus selama beberapa belas menit dan kemudian bus yang dinaikinya berhenti di halte yang ada di dekat restoran tempat di mana Valerie bekerja.Valerie masuk ke dalam restoran tempat ia mencari nafkah. Penampilan wanita itu tampak sedikit berantakan. Maklum saja, menjadi pelayan restoran adalah hal baru untuknya. Bagi Valerie pekerjaan ini sangat lah berat, karena dirinya ha
Olivia masuk ke dalam kelas dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya. Edmund meliriknya dan menatapnya dalam waktu yang lama. Ia juga melihat kiss mark yang sangat banyak pada leher wanita itu. Membuat hatinya merasakan kesakitan yang amat perih. Hatinya terbakar cemburu, padahal tak seharusnya
Hari ini suhu mencapai di bawah 0 derajat Celcius. Untuk menghangatkan diri di dalam rumah, Olivia membakar kayu di perapian. Uap dari dalam cerobong asap menguar keluar. Olivia menyelimuti dirinya di depan perapian. Nick yang tak pergi bekerja bergabung dengan sang istri. Ia mendekatkan tangannya
Leo sedang menandatangani beberapa dokumen penting yang dibawa oleh sekretaris pribadinya. Akan tetapi, pikirannya tak terlalu fokus. Tingkah Nick tempo hari yang membawa seorang gadis mengacaukan pikirannya. Leo merasa bersalah pada Jenie dan keluarganya. Terlebih ia tak bisa nenghubungi keluarga
Olivia tinggal di wilayah timur kota Paris atau di kawasan pinggiran kota yang disebut Banlieues. Olivia dan adiknya tinggal di perumahan sosial. Perumahan sosial adalah hunian yang terjangkau yang disewakan dengan dukungan pemerintah Perancis untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan terjerat kem







