تسجيل الدخولOlivia, seorang penipu ulung, tak pernah menyangka hidupnya berubah setelah mencuri cincin milik CEO arogan, Nick Louis. Bukannya menyerahkannya ke polisi, Nick justru memberi penawaran gila: menikah dengannya! Demi menyelamatkan adiknya yang membutuhkan biaya operasi besar, Olivia tak punya pilihan selain menerima tawaran itu. Tapi semakin lama tinggal bersama Nick, semakin ia sadar bahwa pria arogan itu menyimpan rahasia dan luka masa lalu yang jauh lebih berbahaya... Di tengah hubungan palsu yang perlahan terasa nyata, akankah mereka jatuh cinta… atau justru saling menghancurkan?
عرض المزيدOlivia, seorang gadis yang bekerja sebagai seorang penipu di tengah kota Paris, selalu percaya jika dirinya akan selalu mendapatkan keberuntungan. Akan tetapi, ia salah.
Olivia tertangkap kala mencuri cincin berlian dari tas Nick Louis, seorang pewaris satu-satunya Louis Group–perusahaan rumah mode ternama di Prancis–saat pria itu akan masuk ke dalam restoran yang berada di lantai dua menara Eiffel untuk acara dinner bersama kolega bisnisnya. "Aku mohon, Tuan. Tolong maafkan aku!" isak Olivia dengan suara bergetar. Ia bersimpuh di hadapan Nick. Olivia salah mencari mangsa. Ia amat menyesal telah berurusan dengan pria yang terkenal arogan ini. Suara isakan Olivia bergema di ruangan mewah itu. Nick menatap Olivia dengan dingin, lalu beralih menatap cincin yang Olivia curi darinya. Cincin berlian itu memang sengaja Nick beli sebagai hadiah ulang tahun untuk ibunya. "Ini cincinnya, Tuan," Bodyguard Nick mengambil cincin berlian milik tuannya dengan kasar dari tangan Olivia. "Cincin itu sudah kembali kepada Anda. Kurasa tidak ada yang dirugikan. Sekarang tolong lepaskan aku, Tuan!" Pinta Olivia lagi. Jemarinya mengusap sisa air mata yang masih tersisa di pipi. Ia begitu takut kala para bodyguard Nick membawanya ke apartemen pribadi pria bermata cokelat itu. Nick yang mendengar ucapan Olivia tersenyum sinis, merasa lucu dengan ucapan gadis yang ada di hadapannya. "Lepaskan?" Nick tertawa sumbang. Olivia menelan ludah, rasa takut semakin menguasai dirinya. Pria berwajah tampan itu terlihat menakutkan di matanya. "Bukankah cincin Anda sudah aku kembalikan, Tuan?" Olivia mengangkat wajahnya dengan takut. "Kamu salah sudah berurusan denganku, Nona," Nick berkata dengan tajam. "Aku paling benci dengan tindakan kriminal, apalagi pencurian. Orang sampah sepertimu ini yang merusak nama baik negara kita," Nick menatap Olivia dengan remeh. Ulu hati Olivia terasa sakit mendengar ucapan pria jangkung itu. Namun ia tidak punya daya untuk membalas. Sekali lagi ia menyeka air matanya, kemudian mendongkak menatap Nick yang tengah melipat tangannya di dada. "Aku menjadi pencuri karena terdesak oleh keadaan, Tuan. Ayahku di penjara, ibuku sudah meninggal, sementara adikku sedang sakit keras. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin kehilangan keluargaku satu-satunya," ujar Olivia membela diri. "Ayahmu di penjara? Seharusnya aku tidak terkejut. Darah memang lebih kental dari air," Nick tersenyum sinis, tampak muak seolah baru saja melihat sampah. Mendengar hinaan itu, tanpa sadar Olivia mengepalkan tangannya. Ia amat tak sudi disamakan dengan sang ayah. "Ah, orang miskin di mana-mana memang sama saja. Mereka selalu melakukan cara apapun untuk mendapatkan uang," tambah Nick yang melihat perubahan wajah Olivia, seolah sengaja untuk membuat gadis itu kesal. Nick kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang ada di hadapan Olivia. Sementara gadis itu masih bersimpuh di hadapannya dengan mata berkilat menahan amarah. "Ambilkan ponselku!" Titah Nick pada salah satu bodyguard yang berdiri di belakang Olivia. "Ini, Tuan," bodyguard itu memberikan ponsel milik Nick. "Berapa nomor polisi di Kota Paris? Aku lupa," tanya Nick seraya mengingat-ingat nomor kantor polisi terdekat. Mata Olivia membulat sempurna mendengar kata polisi. Gadis itu kemudian merangkak mendekat ke arah kaki Nick. "Tuan, tolong jangan laporkan aku kepada polisi! Aku tidak ingin dipenjara. Bagaimana nasib adikku?" ujar Olivia panik. Ia amat takut jika dirinya dijebloskan ke dalam jeruji besi. Adiknya tak akan bisa bertahan hidup tanpanya. "Kriminal sepertimu harus diberikan efek jera. Jika tidak, kamu akan selalu mengulangi kejahatan seperti ini," jawab Nick dengan wajah angkuh yang tak luntur sedikit pun. "Tolong, Tuan! Kasihani aku dan adikku!" Olivia semakin tergugu. Ia bahkan tak segan akan memeluk lutut Nick Louis untuk meminta pengampunan. Akan tetapi, pria itu segera menghindar dan berdiri menjauh. "Kota ini tak akan pernah aman jika penjahat sepertimu terus berkeliaran di luar sana," ujar Nick lagi tanpa perasaan. Mata cokelatnya terus memindai setiap pergerakan Olivia. Ia tak percaya begitu saja dengan pengakuan dari seorang penipu. "Jangan laporkan aku ke polisi, Tuan! Aku mohon, aku bersedia melakukan apapun asal Tuan tidak menyerahkanku kepada polisi," isak Olivia dengan suara parau. Ia benar-benar merasa putus asa. "Apapun?" Nick mengangkat alisnya. "Iya, Tuan. Aku akan melakukan apapun asal Tuan tidak melaporkanku ke polisi!" tegas Olivia kukuh. Bagaimanapun, ia tak bisa meninggalkan adiknya seorang diri. Nick tersenyum samar mendengar ucapan gadis itu. “Begitu?” katanya. Nick menatap Olivia lekat, lalu berkata dengan nada ringan, “Kalau begitu, kamu harus menikah denganku.”Leo sedang menandatangani beberapa dokumen penting yang dibawa oleh sekretaris pribadinya. Akan tetapi, pikirannya tak terlalu fokus. Tingkah Nick tempo hari yang membawa seorang gadis mengacaukan pikirannya. Leo merasa bersalah pada Jenie dan keluarganya. Terlebih ia tak bisa nenghubungi keluarga itu selepas kejadian batalnya perjodohan Nick dan Jenie. "Ini permintaan kerja sama dari perusahaan yang ada di Milan," sekretaris pribadi Leo memberikan dokumen permintaan kerja sama yang harus dibaca hari ini. Leo membaca dengan seksama. Saat matanya membaca kalimat demi kalimat, pintu dibuka oleh seseorang dengan keras. "Tak mengetuk pintu dulu, Tuan?" Tanya sekretaris pribadi Leo dengan ramah, namun berisi nada sindiran akan sikap orang itu yang menurutnya sangat tidak sopan. "Aku menghormati orang yang menghormatiku. Begitu pun sebaliknya," jawab orang itu yang tak lain adalah Aaron, ayah dari Jenie. "Aaron, akhirnya kau kemari. Apa maksudnya kata-katamu barusan?" Leo menyimp
Olivia tinggal di wilayah timur kota Paris atau di kawasan pinggiran kota yang disebut Banlieues. Olivia dan adiknya tinggal di perumahan sosial. Perumahan sosial adalah hunian yang terjangkau yang disewakan dengan dukungan pemerintah Perancis untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan terjerat kemiskinan. Olivia mengemas semua pakaian dan barang-barang berharga dari rumahnya dibantu oleh para pengawal Nick. Nick memindahkan Olivia sebagai antisipasi jika orang tuanya berhasil melacak jati diri Olivia. Kali ini orang tuanya tak boleh menghancurkan rencana pernikahannya lagi. Olivia melihat semua ruangan rumah itu untuk terakhir kalinya. Air matanya menitik, mengingat semua kenangan yang tersimpan di dalam rumah tua itu. Teriakan ibunya terdengar jelas kala sang ayah menyiksanya. Olivia masih remaja saat itu, saat sang ayah yang dalam pengaruh alkohol melenyapkan nyawa ibunya. "Ibu, aku dan Aurelie akan pindah dari rumah ini," gumam Olivia sembari menghapus air matanya yang sema
Selepas kepergian Jenie dan orang tuanya, Julie dan Leo pun bergegas pergi.Leo mengusap ujung mulutnya dengan tisu, kemudian pria itu berucap dengan tegas, "Temui ayah dan ibu di rumah! Bawa juga kekasihmu ini!" Kemudian pria paruh baya itu pergi meninggalkan meja makan, disusul oleh Julie yang tak berkata sepatah kata pun.Olivia kini bisa bernafas dengan lega. Sedari tadi dadanya terasa seperti dihimpit oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tapi Olivia belum benar-benar tenang, ia sekali lagi harus berhadapan dengan Julie dan Leo."Jadi Tuan memintaku untuk menikah karena akan dijodohkan?" Olivia menoleh ke arah Nick yang sedari tadi tidak menyentuh makanannya sama sekali."Aku tak perlu menjelaskan apapun," ujar Nick, tak lagi bersikap lembut. "Aku harus tahu, Tuan. Agar aku tidak kebingungan seperti tadi di hadapan kedua orang tuamu," kata Olivia membalas dengan serius. "Lagi pula mengapa Tuan tidak mencari kekasih dan menikahinya saja? Mudah kan?" sambungnya penuh keingintah
Julie menatap Olivia dengan tajam, merasa tak suka dengan kehadiran gadis itu yang menurutnya merusak acara makan malam mereka. Niat hati akan menjodohkan Nick dengan Jenie malah gagal total dengan kehadiran Olivia yang dikenalkan Nick sebagai kekasihnya."Bagaimama kabarmu, Jen?" tanya Nick dengan ramah pada gadis yang sedari tadi menatap Olivia dengan wajah kesal."Kabarku baik, Nick," gadis bernama Jenie itu tersenyum manis."Sayang, kenalkan. Ini Jenie. Dulu kami satu kelas saat kuliah. Ini kedua orang tuanya. Kebetulan orang tua Jenie adalah teman Ibu dan ayah," Nick menoleh ke arah Olivia."Hey, Jenie. Kenalkan aku Olivia," Olivia menyodorkan tangannya. Jenie menjabat tangan Olivia dengan malas."Hai juga Bu, Ayah. Perkenalkan aku Olivia, aku berharap ke depannya kita bisa menjadi keluarga yang harmonis," ujar Olivia menatap Julie dan Leo bergantian, berusaha tenang saat mengatakan kalimat demikian meski sebenarnya hatinya ketar-ketir.Wajah kedua orang tua Jenie tampak


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.