"Nona, yang tadi itu sangat menakutkan. Saya hampir pingsan." Jinjia berrkomentar ketika mereka sampai di aula dalam. "Benar. Saya pikir nyawa kita akan melayang," tambah Jinli. Sesuatu tiba-tiba mengusik pikirannya. "Tetapi... bagaimana anda hafal jalan kemari?" "Hanya insting," sahut Shu Yi singkat. Aula dalam dan pelataran dipenuhi orang-orang. Dibalik kekejamannya, istana adalah tempat yang sangat indah. Di depan aula dalam ada taman bunga dan danau buatan. Kicau burung menambah semarak suasana. Sebelum acara resmi dimulai, orang-orang dari kalangan bangsawan dan pejabat istana berkumpul di sana. Saling menyapa atau berbagi rumor terkini. Meja-meja di susun rapi di bawah pepohonan. Mereka yang mau bergaul, boleh duduk di sembarang tempat selama tidak bikin masalah. Shu Yan di sana bersama rekan-rekannya. Ada Xu Mengying, Chen Yuling, dan Lin Yuqin. Gadis terakhir adalah keponakan selir agung Xian sekaligus putri adipati Pingnan (Pingnan gong). Kesombongannya tid
Leer más