Bibir Ruri gemetar, sebuah penyangkalan terbentuk namun tak bisa dia ungkapkan.Namun, Ketua Johan bukanlah orang bodoh. Di antara kepanikan Ruri dan pertanyaanku, potongan teka-teki itu mulai saling terhubung.Suaranya sedingin es saat menoleh ke arah putranya. "Haris ... ceritakan yang sebenarnya soal anak ini?"Tatapan bingung Haris tertuju pada Ruri."Tentu saja aku yang melahirkannya!" Ruri menjerit, suaranya bergetar. "Ayah, bagaimana kau bisa meragukanku?" Dia memeluk bayi itu erat-erat ke dadanya seolah-olah aku akan merebutnya.Dia bersikap terlalu berlebihan, sehingga hanya membuatnya terlihat semakin bersalah.Mata Ketua Johan melihat ke arah perutnya, terlalu rata untuk seorang ibu yang baru melahirkan, dan tatapannya berubah menjadi batu. "Kita akan lakukan Tes DNA," katanya perlahan. "Besok."Tubuh Ruri pun goyah, wajahnya seperti topeng penuh ketakutan.Tepat saat itu, Haris mendekat. Pria yang meninggalkanku demi adikku sendiri.Wajahnya dipenuhi berbagai emosi, alisnya
続きを読む