مشاركة

Bab 2

مؤلف: Crispy Coco
Keesokan paginya, Mario menggenggam tanganku erat-erat saat kami pergi untuk pemeriksaan rutin.

"Bayinya sehat sekali," kata dokter sambil menyerahkan hasil USG. "Tanggal perkiraan lahirnya masih sama."

Mario mengambil gambar itu.

"Terima kasih, Dokter," katanya dengan nada suara lembut seperti seorang ayah. "Hana khawatir banget. Untunglah dia baik-baik saja."

"Kau wanita yang beruntung, Nyonya Hana." Dokter Riko tersenyum. "Tuan Mario adalah suami yang sempurna, selalu hadir menemanimu di setiap pemeriksaan."

Suami yang sempurna, aku hampir tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Mario membantuku mengenakan mantel, sorot matanya penuh senyum. "Bayi ini pewaris yang telah ditunggu-tunggu Keluarga Lukas. Tentu saja aku akan menjagamu."

Dia menggenggam tanganku saat kami meninggalkan ruang pemeriksaan.

Di ujung lorong, sosok yang familiar menghentikan langkahku.

Itu adalah Ruri.

Perutnya tampak besar dan bulat di balik gaun hamil yang longgar. Dia tampak sedang berbicara dengan seorang perawat.

Saat dia melihat kami, wajahnya langsung berseri-seri dengan senyum manis yang menjijikkan.

"Hana! Kebetulan sekali!"

Dia bergegas menghampiri kami. Aku bisa merasakan Mario menegang sesaat sebelum topengnya kembali terpasang.

“Ruri, kau juga di sini untuk pemeriksaan?” Suaraku datar.

“Iya,” jawabnya. Tangannya berada di perut palsunya. “Tanggal perkiraan lahirku hampir sama denganmu.”

Aku berusaha keras untuk tidak kehilangan kendali.

Tentu saja, itu karena kau tidak hamil! Kau hanya menungguku untuk melahirkan anakmu!

Dia mencoba meraihku. “Biarkan aku menyentuh perutmu. Mereka bilang itu akan membawa keberuntungan ….”

Tangannya, dengan kuku yang dicat berwarna merah darah, langsung menuju ke arah perutku.

Sorot mataku menjadi dingin. Aku refleks mengulurkan tangan dan mencengkeram pergelangan tangannya.

“Apa yang kau lakukan?” Wajah Ruri mengeras, sorot matanya berkilat marah.

Tepat ketika dia hendak membentak, aku langsung meringis dan menekan tangan yang lain ke arah perutku, lalu berkata lemah, “Perutku … sakit ….”

Kata-kata marahnya terhenti di tenggorokan, ekspresi kemenangan pun membeku di wajahnya.

Mario segera menarikku ke dalam pelukannya. “Kau baik-baik saja? Ayo kita pulang.”

Suaranya penuh kekhawatiran, tetapi aku bisa melihatnya dengan jelas. Matanya langsung tertuju ke arah Ruri dari atas bahuku. Sebuah kepastian dalam diam.

“Sepertinya aku sudah berdiri terlalu lama,” kataku menunduk. “Aku hanya ingin duduk di ruang tunggu sebentar.”

“Aku ikut denganmu ….”

“Tidak usah.” Aku langsung memotongnya. “Kau mengobrol saja dengan Ruri. Aku hanya butuh beberapa menit saja.”

Mario tampak ragu-ragu, lalu mengangguk.

“Ya sudah, hati-hati.”

Aku pun berbalik dan berjalan ke ruang tunggu. Begitu pintu tertutup, aku mengintip melalui celah. Dia sudah bergegas ke sisi Ruri.

Seperti yang kuduga, dia pergi untuk menghibur cinta sejatinya.

Aku mengikuti mereka diam-diam, dan bersembunyi di balik sudut.

Mereka menyelinap ke sebuah bangsal kosong.

“Mario, apa kau benar-benar sudah jatuh cinta padanya?” Suara Ruri tajam penuh kecemburuan.

“Jangan konyol,” kata Mario lembut. “Semuanya berjalan sesuai rencana kita.”

“Lalu, kenapa kau tidak membelaku? Dia bilang perutnya sakit, dan kau tampak benar-benar khawatir.”

Mario menghela napas. “Aku melakukan semua ini untuk anak kita. Lagipula, dia yang mengandungnya ….” Suaranya semakin menghilang. Dia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan beludru. Di dalamnya ada bros safir antik. Dia lalu menyematkan bros itu dengan lembut ke gaun Ruri. “Kau menginginkan ini di acara lelang, kan? Aku belikan untukmu.”

Ruri melunak, senyum puas terkembang di bibirnya.

“Ngomong-ngomong,” gumamnya dengan nada manja. “Informasi tentang pengiriman Keluarga Orlando itu sangat membantu. Haris dan Keluarga Kayana sangat senang denganku. Bagaimana dengan kesepakatan di Vilaso nanti?”

“Semuanya sudah siap. Sebuah karya seni senilai tiga koma dua triliun akan datang minggu depan. Hana akan melakukan pemeriksaan terakhir. Semuanya terjamin otentik.”

Rasa sakit yang tajam terasa menusuk perutku.

Keahlian dan penilaianku. Aku hanya dijadikan alat untuk keuntungan mereka, demi membangun kekuatan dan memperkuat aliansi mereka.

Dan tubuhku ini .... Hanya dijadikan sebagai wadah pengganti.

Aku menahan air mata, lalu berpaling dan mengeluarkan ponselku.

“Halo, Dokter Tora, ini Hana.”

“Halo, Nyonya Hana. Ada yang bisa saya bantu?”

“Prosedur untuk besok sore, apa kita bisa pastikan waktunya?”

Ada keheningan singkat di ujung telepon.

“Apa Anda yakin ingin melanjutkan?”

“Saya yakin, Dok. Besok jam tiga sore, saya akan ke sana.”

Aku baru saja menutup telepon ketika langkah kaki yang familiar terdengar di belakangku.

“Besok?” Suara Mario terdengar tajam dan penuh kecurigaan. “Mau ke mana?”

Aku menoleh padanya, dan tersenyum tipis. “Aku ada janji dengan seorang pelukis. Aku ingin membuat lukisan kita bertiga sebelum bayi ini lahir, sebagai kenang-kenangan.”

Ketegangan di sorot mata Mario pun mereda.

“Kapan?”

“Besok sore. Kau ada rapat keluarga, kan? Jadi, waktunya pas sekali.”

“Aku bisa menundanya ….”

“Jangan,” jawabku cepat, mencoba berperan sebagai istri yang pengertian. “Kau itu kan benci duduk diam untuk dilukis. Aku akan membawa fotomu saja.”

Mario menatapku selama beberapa detik, mencoba membaca pikiranku.

Aku tersenyum dan memeluknya seperti seorang istri yang penuh kasih sayang.

Dia akhirnya rileks, senyum tersungging di bibirnya. Dia lalu mengelus pipiku, suaranya terdengar penuh dengan kasih sayang. “Kau selalu sangat pengertian. Apa yang akan kulakukan kalau tak ada dirimu?”
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Identitas Rahasia Mantan Istri Terbuang   Bab 11

    Setelah pengakuan publiknya, Mario menghubungiku. Dia ingin bertemu."Hana, aku tahu kau tidak ingin bertemu denganku, tapi ... ada beberapa hal yang perlu kukatakan padamu secara langsung."Aku menolak.Dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk bisa memengaruhiku.Namun keesokan harinya, saat aku meninggalkan gedung, sebuah mobil tiba-tiba kehilangan kendali dan melaju kencang ke arahku, bannya sampai berdecit.Dalam sepersekian detik itu, sesosok tubuh menubrukku, mendorongku dengan keras ke trotoar.Brak!Suara benturan itu sangat mengerikan. Dia terlempar ke aspal, darah gelap langsung menggenang di bawahnya.Para pengawal Keluarga Valenda bereaksi seketika, dan mengepung mobil itu.Pintu terbuka dan Ruri bergegas merangkak keluar, rambutnya acak-acakan, matanya melotot. Dia seperti orang yang tidak waras."Hana! Ini semua salahmu! Dasar wanita jalang! Kau rebut segalanya dariku! Kenapa kau boleh hidup?!"Dia menjerit histeris, sorot matanya dipenuhi kebencian yang meluap-luap.Para p

  • Identitas Rahasia Mantan Istri Terbuang   Bab 10

    Kupikir Ruri akan menghilang begitu saja. Namun, ternyata aku salah. Dia belum menyerah.Suatu hari, Gery memberiku sebuah gawai."Kau lihatlah ini," katanya dengan suara dingin. "Benar-benar tidak tahu malu!"Aku melihatnya. Sebuah unggahan anonim beredar di forum-forum web gelap dan saluran-saluran pribadi di dunia mafia. Judulnya sederhana: [Dia Mencuri Hidupku].Itu adalah kisah panjang dan menyedihkan tentang kehidupannya yang tragis.Ruri mengklaim bahwa aku telah menindasnya sejak kami masih kecil, dan menggunakan statusku sebagai anak angkat untuk mendapatkan simpati dan mencuri semua miliknya.Dia mengklaim aku adalah seorang yang manipulatif, berpura-pura manis sambil memaksanya untuk menyerahkan segalanya.Dia mengatakan itu semua adalah salahku, bahwa dia dipaksa menikah dengan Keluarga Kayana setelah aku membatalkan semuanya.Dia mengklaim bahwa aku sekarang menggunakan kekuatan Keluarga Valenda untuk mengamuk, menghancurkan hidupnya, mengambil anaknya, dan merusak reputas

  • Identitas Rahasia Mantan Istri Terbuang   Bab 9

    Tentu saja bayi yang dibawa Ruri bukanlah anak Haris.Entah dari mana dia menemukan anak sembarangan itu dan mencoba menjadikannya sebagai ahli waris.Setelah hasil Tes DNA keluar, Ruri diusir oleh Keluarga Kayana.Dahulu dia begitu tinggi dan berkuasa, kini sudah tidak punya apa-apa.Dia melangkah gontai kembali ke kediaman Keluarga Milano, matanya merah, hidupnya berada di ambang kehancuran total.Tetapi, kediaman itu kosong.Dia mengeluarkan ponsel dengan panik, lalu menelepon ibu angkatnya.Kali ini, Tiara menjawab."Mama! Ma, ini aku! Mama di mana? Aku butuh bantuan!"Ada keheningan panjang di ujung telepon."Ruri." Suara Tiara terdengar dingin hingga seolah dapat membekukan darah. "Kau masih berani menelepon ke sini?""Ma, aku ....""Diam!" teriak Tiara. "Ini semua salahmu! Dasar gadis bodoh dan ceroboh!"Ruri terkejut.Ibunya tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar kepadanya selama ini."Kami sekarang tinggal di kontrakan murahan!" Suara Tiara penuh kebencian. "Rekening bank ki

  • Identitas Rahasia Mantan Istri Terbuang   Bab 8

    Bibir Ruri gemetar, sebuah penyangkalan terbentuk namun tak bisa dia ungkapkan.Namun, Ketua Johan bukanlah orang bodoh. Di antara kepanikan Ruri dan pertanyaanku, potongan teka-teki itu mulai saling terhubung.Suaranya sedingin es saat menoleh ke arah putranya. "Haris ... ceritakan yang sebenarnya soal anak ini?"Tatapan bingung Haris tertuju pada Ruri."Tentu saja aku yang melahirkannya!" Ruri menjerit, suaranya bergetar. "Ayah, bagaimana kau bisa meragukanku?" Dia memeluk bayi itu erat-erat ke dadanya seolah-olah aku akan merebutnya.Dia bersikap terlalu berlebihan, sehingga hanya membuatnya terlihat semakin bersalah.Mata Ketua Johan melihat ke arah perutnya, terlalu rata untuk seorang ibu yang baru melahirkan, dan tatapannya berubah menjadi batu. "Kita akan lakukan Tes DNA," katanya perlahan. "Besok."Tubuh Ruri pun goyah, wajahnya seperti topeng penuh ketakutan.Tepat saat itu, Haris mendekat. Pria yang meninggalkanku demi adikku sendiri.Wajahnya dipenuhi berbagai emosi, alisnya

  • Identitas Rahasia Mantan Istri Terbuang   Bab 7

    Aku melangkah maju satu langkah, tapi sebuah tangan mencengkeram pergelangan tanganku dengan keras."Kamu mau apa?!""Dasar jalang kecil!" Kuku Tiara menancap ke kulitku, matanya menyala-nyala. "Apa kau belum cukup membuat keributan?!"Para tamu lain menoleh ke arah kami.Bisik-bisik pun semakin keras."Apa kau tidak akan puas sebelum bisa menghancurkan masa depan Ruri?" Tiara mendesis melalui gigi yang terkatup rapat. "Kami sudah membesarkanmu selama dua puluh tahun, apa begini caramu membalas budi?"Aku menatapnya, sorot mataku sedingin es."Lepaskan.""Tidak akan!" Dia meremas lebih keras. "Kalau kau berani buat keributan hari ini, aku akan …."Plak!Sebuah tamparan keras memotong ucapannya.Vicky bergegas mendekat dengan wajah merah padam."Cukup!" Dia meraung, lalu menunjuk ke arahku. "Seharusnya kami tidak pernah membawamu dari panti asuhan itu!"Seluruh katedral menjadi hening.Membawa dari panti asuhan? Kata-kata itu menghantamku seperti sambaran petir.Jadi, itu alasannya. Aku

  • Identitas Rahasia Mantan Istri Terbuang   Bab 6

    Setelah pulih, Komisi Kelompok Mafia menyetujui pembatalan pernikahanku.Aku tidak merasakan apa pun. Rasanya seperti terbangun dari mimpi buruk yang panjang dan konyol. Dan, akhirnya aku terbebas."Pesan tiket pesawat ke Nerpata," kataku pada Marco. "Aku akan memulai hidup baru.""Kau yakin?" tanya Marco dengan nada khawatir. "Meninggalkan Lilagos, itu berarti ….""Itu berarti aku akhirnya bisa menjadi diriku sendiri."Tiga hari kemudian, aku sudah berada di Nerpata.Ruang pameran Slovanos dipenuhi dengan aroma uang dan ambisi yang tenang.Aku berdiri di depan sebuah lukisan minyak abad ke delapan belas, mengenakan gaun sutra hitam yang sangat lembut."Penanggalan pada lukisan ini salah," kataku pada kurator di sebelahku. "Berdasarkan oksidasi cat dan tekstur kanvasnya, lukisan ini berasal dari awal abad ke sembilan belas."Kurator itu menatapku kaget, dia lalu memeriksa lukisan itu dengan seksama."Ya Tuhan, kau benar!"Orang-orang di sekitar mulai memperhatikanku.Hana Milano, seora

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status