Napas Eveline tercekat. Jarak sejengkal itu terasa begitu panas, seolah oksigen di kamarnya mendadak habis. Tubuhnya gamang, aroma woody dan maskulin dari Rex mendominasi indra penciumannya. Rex tidak bergerak setelahnya, pria itu berhenti di depan Eveline. Di telinganya rona merah terjadi, menjalar ke wajahnya seperti …. ‘Tidak perlu membicarakan wajahnya yang merah,’ kata Eveline dalam hati sebab ia tidak tahu seperti apa wujud dirinya saat ini karena di pipinya pun terasa panas. Barangkali ia juga tak ada bedanya dengan Rex saat ini. Jemari Eveline mengencang di samping kanan dan kiri tubuhnya, saling meremas untuk meredakan detak jantungnya. Rex tersenyum, lebih jelas dari yang sebelumnya. “A-aku gugup,” aku Rex, sekilas mengusap tengkuknya sebagai pengalih perhatian sementara. “Kita … tidak pernah terasa sedekat ini, ‘kan?” Eveline mengangguk, membenarkannya. “Apa yang kamu pikirkan sekarang, Eve?” Ditelan kasar ludah Eveline sebelum ia menjawab, “Tidak … tahu.” “Jujur,
閱讀更多