Kalimat itu menggema di telinganya, menyisakan ketakutan luar biasa yang mencengkeram dada. Belum sempat Eveline mencerna arti dari ucapan sang dokter sepenuhnya, pintu kamar rawat lalu terbuka dari luar.Zain melangkah masuk, menundukkan kepala dan membawa tas keperluan Rex.“Kami akan mengabari lagi nanti, Nona,” ucap dokter. “Beritahu kami kalau ada yang tidak lazim pada kondisi Tuan Rex.”“Iya, terima kasih, Dokter.”Rupanya, Zain tidak datang sendirian. Di belakangnya, Mrs. Elise melangkah masuk dengan tatapan mengiba pada Eveline yang berdiri kaku, basah oleh air mata, dengan pandangan kosong ke arah ranjang tempat Rex terbaring.Beliau menghampiri Eveline, merengkuh tubuh Eveline dalam pelukannya.“Eve … ya Tuhan,” lirih Mrs. Elise, mengusap punggung Eveline dengan penuh keibuan, mencoba menyalurkan kehangatannya lalu menatap nanar ke arah brankar. “Yakinlah semua ini akan terlewati, ya?” Eveline mengangguk samar, nyaris tak terlihat.“Nona, biar saya yang menjaga Tuan Rex di
Read more