Nanang berjalan pulang. Daleman yang tadi dipermainkan Lina sengaja ia sembunyikan dengan baik di dalam tasnya.“Dasar gila tuh anak,” gumamnya, masih kesal tapi juga malu sendiri.Rumahnya nggak jauh dari kampus. Rumah petak kecil dengan dinding setengah papan, setengah tembok.Lampu bohlam lima watt menggantung di ruang tamu yang sekaligus jadi ruang makan.Dari jauh, Nanang sudah mencium bau tahu goreng yang khas masakan ibunya.“Ibu, Ayah.. Nanang pulang,” ucap Nanang sambil membuka pintu kayu yang agak berderit."Nanang sini nak," suara ibunya, lembut tapi penuh semangat, menyambut."Anak ibu sudah pulang. Capek, ya?"Nanang hanya tersenyum, langsung mencium tangan ibunya. "Capek dikit sih, Bu, tapi nggak apa-apa. Kerjanya juga nggak berat-berat amat kok.”Di meja makan, ayahnya sudah duduk bersila. Pria paruh baya itu wajahnya keras, kulit legam karena seumur hidup jadi buruh harian. Tapi matanya penuh kasih saat memandang anaknya satu-satunya itu."Duduk, Nang. Ayo makan sama-sa
Last Updated : 2026-04-12 Read more