Suasana semakin gawat dan mendadak, tiba-tiba...TOK... TOK... TOK....Belum sempat menjawab, bunyi ketukan pintu keras terdengar dari arah depan.Lina sontak menoleh."Itu... siapa?" tanya Nanang cepat.“Kayaknya... itu Bibi deh, asisten rumah ini," jawab Lina sambil berdiri buru-buru.Gadis itu berjalan ke pintu dan membuka sedikit. Dari jarak itu, Nanang bisa mendengar suara lembut seorang perempuan yang sudah paruh baya."Non Lina, mau saya siapkan makan malam?”"Eh, nggak usah, Bi, Saya udah makan di luar kok."Lina lalu menutup pintu pelan dan berbalik. Tapi ekspresinya sedikit gugup. Nanang sudah berdiri, merapikan tasnya."Kayaknya udah malam. Aku pulang dulu ya," katanya dengan nada tenang.Lina menatapnya, seolah ingin menahan, tapi kemudian hanya mengangguk.“Yaudah deh hati-hati di jalan ya, Mas."Nanang menatapnya sekali lagi, tatapan yang tidak tahu harus disebut apa. Ada rasa lega, bingung, atau mungkin... takut dengan perasaan yang barusan tumbuh.Begitu ia keluar rumah
Read more