홈 / Male Adult / Sisi Liar Mas Nanang / Bab 1 - Awal mula Pertemuan

공유

Sisi Liar Mas Nanang
Sisi Liar Mas Nanang
작가: MassAzfa

Bab 1 - Awal mula Pertemuan

작가: MassAzfa
last update 게시일: 2026-04-12 00:15:38

''Mass! ayuk sini dong, buangin sampah yang ada disini yaa.''

Nanang sebenarnya agak ragu, tetapi itu adalah tugasnya, ia langsung menghampirinya.

Lagi-lagi mereka cekikikan sambil cari kesempatan melihat Nanang dari dekat.

Nanang buru-buru pamit, sambil mengambil kantong sampah tersebut, wajahnya memerah bukan main.

Baru pertama kali dia mendapatkan perlakuan yang aneh dari lawan jenis, dulu ia sangat culun sekali sampai sampai tidak ada cewek yang mendekatinya.

Nanang masih sibuk membuang sampah sampai dia terkejut bukan main.

''Anjirr, ini apaan banyak rokok dan pengaman disini."

"Ternyata semua hal seperti ini sudah biasa di kampus ini, bener-bener mahasiswa berandalan." Gumam Nanang.

Menjelang sore hari, Nanang duduk di bangku kosong belakang kampus, Punggungnya pegal, tapi pikirannya lebih berat.

Dari arah lain, Zidan datang menghampiri dan menepuk bahunya.

''Gimana bro? kerja disini enak kan?''

Nanang mendengus, ''Enak sih..tapi yang bikin gue kaget itu kebiasaan anak-anak mahasiswa disini.''

''Lo belum tau lebih banyak Nang, pasti makin kaget lagi nanti.'' Zidan Terkekeh.

Nanang hanya geleng geleng kepala, tapi sudut bibirnya terangkat juga

''Sepertinya hidup kedepannya tidak akan membosankan lagi.''

Setelah selesai kegiatan kampus, Nanang mengecek kebersihan di beberapa ruangan.

Beberapa mahasiswa yang menggunakan ruangan pun kerap meninggalkan rokok. Nanang mendengus kasar.

''Saking berandalnya, buang sampah yang bener aja pada gabisa.'' Nanang terpaksa membersihkan lagi ruangan tersebut.

Awalnya tampak biasa saja, tiba-tiba ada suara keras terdengar seperti barang yang jatuh.

BUGGGH...!!!

''Apaan lagi ini dah.'' Nanang segera mendekati sumber suara tersebut, kalau tidak salah ada yang jatuh dari lantai atas.

Nanang menaruh sapunya sebentar lalu mengintip dari jendela.

''Apaan sih-eh anjir!'' Nanang langsung lemes dan keringat dingin. Wajahnya berubah pucat dan nafasnya menjadi sesak.

''Gila, ada yang mati anjir..'' Gumamnya kecil.

Nanang bener-bener syok dan memastikannya sekali lagi.

Nanang bener-bener melihat mayat perempuan dan bersimbah cairan merah. Sudah jelas mahasiswi perempuan itu tidak bernafas lagi.

''Wah Bangke, gue tahu kalian anak yang nggak bener tapi masa sampe ada yang mati sih.''

Nanang buru-buru mengemas alat Pel-nya dan langsung mengambil ponselnya.

Nanang mengambil satu foto di ponselnya.

''Gue harus kasih tau Zidan nih.'' Gumamnya. 

Ia harus cepat melaporkan kejadian ini kepada temannya tersebut.

Saat ingin berbalik, Nanang melihat perempuan yang berdiri di depan pintu ruangan.

''Eh? Dek..'' Nanang mendadak memanggilnya tetapi mahasiswi itu langsung berteriak.

''Ada yang mati disini, Dasar Pembunuh.''

''Hah?'' Nanang langsung makin panik, mahasiswi itu menuduhnya pembunuh.

''Wah Anjir.'' Nanang meninggalkan alat Pel-nya lalu mengejar mahasiswi itu.

Untungnya kekuatan Nanang lebih besar, dia bisa menggapai mahasiswi yang terlihat ketakutan tersebut,

"Dek."

Nanang berhasil membekap mulut mahasiswi tersebut sebelum suaranya menggema ke seluruh kampus.

Nafas Nanang memburu, Jantungnya hampir copot karena panik.

"Ssstt...Dek, Dengerin Mas dulu!'' Bisiknya dengan nada tegas.

Mahasiswi itu meronta, matanya melebar ketakutan. Setelah yakin di sekitar aman, Nanang melepaskan tangannya perlahan.

"Saya baru kerja disini Dek...Sumpah. Saya cuman lagi bersih-bersih, tiba-tiba lihat ada yang jatuh dari atas. Bukan saya yang dorong, Saya aja kagetnya bukan main loh."

Mahasiswi itu gemetar dan tatapannya penuh curiga.

"Bohong! Aku lihat jelas kok dari bawah...ada mayat perempuan yang jatuh, terus Mas muncul lewat jendela!"

Nanang makin panik.

"Dek nama kamu siapa?"

"Lina." Jawabnya dengan cepat dengan tatapan matanya yang masih awas.

Nanang menelan ludah.

"Dek Lina, percaya deh, itu saya lagi ngintip aja...saya ga mungkin dorong dia."

Beberapa orang mulai datang, tampaknya kematian mahasiswi tersebut membuat orang-orang berkumpul.

"Aduh mati aku. kita bakal kena kasus ini.''

Nanang sudah pasrah dan meyakinkan Lina,

''Dek, kita bilang ke polisi ya nanti. Pokoknya kita cuma saksi disini dan nggak ngapa-ngapain.

Lina menyilangkan tangan di dada, expresinya sinis.

"Kayaknya ga segampang itu buat Mas deh, lagian mas kan orang baru, Tukang bersih-bersih pula. Nggak ada yang percaya omongan Mas daripada aku yang mahasiswi kampus disini.''

Nanang mencoba bertahan.

"Ada CCTV kan? Kalo dicek pasti kelihatan...''

Lina tertawa pendek, menyeringai.

''CCTV? Mas tau sendiri kan kampus kita kayak gimana. Kita ga pernah pake CCTV semenjak dihancurin terus ama anak-anak."

Nanang mengusap wajahnya, Situasi ini semakin buruk.

''Yaudah kalo gitu bantuin yakinin polisi ya Dek...kalau saya bukan pelakunya.''

Lina mendekat setengah langkah, Senyumnya tipis, tapi tatapannya tajam.

''Bisa aja, tapi ga ada yang gratis yaa, Mas harus nurutin apa yang aku mau,''

''DEG''

Nanang langsung merinding,

''Maksudnya apa ya, Dek?''

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sisi Liar Mas Nanang   Bab 145 - Hal Yang Tidak Di Duga

    Sementara itu, Ningsih yang sudah sedikit pulih mulai bangkit.Ia memeluk Nanang dari belakang, menempelkan Gunung kembarnya yang basah oleh keringat ke punggung Nanang.Jari-jari lentik Ningsih mulai memllin kelereng Nanang dengan Nakal, membuat pemuda itu kelo jotan.Adrenalin Nanang memuncak, ia menghentakkan pinggulnya semakin cepat dan dalam.“Aahhh... mentok, Nanang! ahhh!” teriak Risa saat merasakan ujung Permen Nanang menghantam Lembahnya.Nanang sudah berada di titik na dir pertahanannya.Permennya berkedut hebat, urat-uratnya meno njol tegang, menandakan bendungan cairan di dalamnya siap untuk meledak Kapan saja.“Tan..Tan... arghhh!” Nanang mengerang keras, suaranya parau menahan kenikmatan yang luar biasa.Seolah sudah paham, Nanang menarik keluar Permennya dengan gerakann refleks. Ningsih yang sigap langsung berlu tut di samping Risa yang masih dalam posisi menungging.Keduanya berebut posisi, menengadahkan

  • Sisi Liar Mas Nanang   Bab 144 - Permainan Bertiga

    Risa menghela napas panjang, lalu tersenyum penuh arti.“Sudah, sudah! Gini saja biar adil. Hari ini, kamu harus layani kami berdua!”Nanang menyeringai lebar,Matanya berkilat nakal.“Serius??”“Ya kenapa enggak?” jawab Risa menantang. Tanpa basa-basi, ia langsung menanggalkan pakaiannya.Sisa keringat bekas olahraga masih menetes di tubuhnya yang polos, membuatnya terlihat semakin menggoda.Ningsih tak mau tinggal diam.Seolah tak ingin kalah saing, ia segera melepaskan g-string-nya.Dengan gerakan gesit, ia mulai melu cuti baju Nanang,Membiarkan hasrat mereka bertiga pecah di dalam ruangan itu.Nanang yang hasratnya sudah meledak-ledak digiring masuk ke dalam kamar.Risa dengan agresif mendo rong tubuh Nanang sampai ia terlentang di atas kasur yang empuk.Risa memberikan kedipan mata pada Ningsih, sebuah kode maut:Sikat!Tanpa aba-aba, Nin

  • Sisi Liar Mas Nanang   Bab 143 - Ketahuan Tante Risa

    Ia lalu bangkit dari duduknya untuk menjalankan skenario yang sudah ia siapkan.“Ning, kamu mau minum apa?” tanya Risa basa-basi.“Aku sih biasa, kopi saja, Ris,” jawab Ningsih dengan suara yang sengaja dibuat manja.“Duh, di dapur kopi sepertinya habis. Ya sudah, kamu tunggu dulu ya di sini, aku ke warung depan sebentar,” ucap Risa yang langsung bergegas keluar tanpa menunggu jawaban,Meninggalkan Nanang dan Ningsih dalam keheningan yang menyesakkan.Begitu pintu tertutup, efek Sirup tahan banting itu meledak dalam tubuh Nanang.Darahnya terasa mendi dih, dan fokusnya benar-benar hilang.“Nang... kamu kenapa? Kok menatap Kakak seperti itu?” tanya Ningsih, berpura-pura polos meski matanya berkilat nakal.“Kak Ningsih... makin cantik saja,” desis Nanang dengan napas yang mulai memburu.“Ah, masa sih, Nang?” Ningsih memancing lagi.“Serius

  • Sisi Liar Mas Nanang   Bab 142 - Jebakan Tante Risa

    Nanang baru saja membanting tubuhnya ke sofa. Peluh membasahi keningnya setelah seharian berkeliling mencari kosan, namun hasilnya nihil.Tidak ada yang cocok sama sekali."Sial, masa iya gue harus terus tinggal di sini bareng Tante yang hipernya minta ampun itu?"gumam Nanang kesal sambil menatap langit-langit rumah.TOK!... TOK!... TOK..."Nang, buka pintunya. Ini Tante!"Nanang mendengus."Baru aja diomongin, sudah muncul orangnya," gumamnya malas sambil bangkit membukakan pintu.Begitu pintu terbuka, sosok Risa berdiri di sana. Namun, ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang sangat Nanang kenal yaitu Ningsih.Sebagai instruktur senam, Ningsih memiliki bentuk tubuh yang atletis dan wajah yang menawan, selalu berhasil membuat pria di lingkungan itu menoleh dua kali.“Om kamu sudah berangkat, Nang?” tanya Risa sambil melongok ke dalam.“Sudah, Tan. T

  • Sisi Liar Mas Nanang   Bab 141 - Rasa Penasaran Ningsih

    Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Risa melangkah keluar dengan penampilan yang cukup mencolok.Ia sudah mengenakan setelan baju senam yang sangat ketat, memperlihatkan lekuk tubuh matangnya yang masih berbekal sisa - sisa kehangatan semalam.Mendengar percakapan mereka, Risa langsung menyambar dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin.“Iya Nang... mending kamu tinggal di sini saja. Rumah ini sepi banget loh kalau nggak ada kamu,” ucap Risa.Kalimatnya terdengar seperti perhatian seorang Tante, namun bagi Nanang, itu adalah undangan terbuka menuju bahaya.“Tuh, dengerin kata Tante kamu,” timpal Om Iwan, memberikan dukungan penuh tanpa rasa curiga sedikit pun.Nanang hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya.“Ya... gimana nanti saja lah, Om.”Di balik wajah tenangnya, pikiran Nanang justru berkecamuk.Maaf ya Tan, bukannya Nanang nggak mau hemat, tapi k

  • Sisi Liar Mas Nanang   Bab 140 - Permainan Irama Tante Risa

    Sensasi hangat, licin, dan jepitan dinding belakang Risa membuat Nanang merasa seperti sedang terbang ke langit ke tujuh.“Enak, Tan?” bisik Nanang dengan napas memburu di telinga Risa.“Enak banget, Nanang... terusss, jangan berhenti!” balas Risa dengan suara serak yang penuh gairah.PLOK... PLOK... PLOK...Hentakan kulit bertemu kulit memenuhi keheningan kamar malam itu.Mereka seolah lupa atau mungkin malah sengaja menantang bahaya, karena di kamar sebelah, Om Iwan sedang tertidur lelap.Setiap hujaman Nanang membuat ranjang berderit halus, menambah sensasi ngeri sekaligus nikmat dalam perselingkuhan yang semakin gila ini.Nanang bener-bener menghajar Risa tanpa ampun! Om Iwan kalau sampai terbangun sedikit saja pasti bakal tamat riwayat mereka.Saat Permen Nanang sudah berada di titik di dih dan siap meledak, Nanang berniat mencabutnya.Namun dengan refleks kilat, Risa bangkit dan menahannya.“Stop! Jangan dulu keluar, Nanang!”Risa langsung merunduk, mengulum habis Permen raksasa

  • Sisi Liar Mas Nanang   Bab 3 - Hampir Ketahuan Pak Dosen

    Nanang menahan napas. Kata- kata Lina tadi seperti panah beracun yang menancap dalam. "Aku serius, Mas. Aku mau liat sekarang..." Tubuh Nanang langsung tegang."Dek... tolong jangan bercanda gini...” suara Nanang parau, penuh dengan kegugupan. Lina malah tersenyum lebar, matanya berkilat penuh ke

  • Sisi Liar Mas Nanang   Bab 2 - Ruangan Kosong Saksi Bisu

    ‘’Jadi Mas harus menuruti semua permintaan aku ya dan kalo nolak kesepakatan kita batal.’’ Lina sambil tersenyum. Nanang menghela nafasnya.''Ya udah, Dek...Mas nurut, Asal bantu yakinin polisi kalau bukan Mas pelakunya,'' Lina menyeringai puas, lalu menepuk pipinya pelan.''Pinter, jangan coba-co

  • Sisi Liar Mas Nanang   Bab 5 - Dipanggil Ibu Rektor Kampus

    Nanang berjalan pulang. Daleman yang tadi dipermainkan Lina sengaja ia sembunyikan dengan baik di dalam tasnya.“Dasar gila tuh anak,” gumamnya, masih kesal tapi juga malu sendiri.Rumahnya nggak jauh dari kampus. Rumah petak kecil dengan dinding setengah papan, setengah tembok.Lampu bohlam lima wa

  • Sisi Liar Mas Nanang   Bab 4 - Kejadian Di Dalam Gudang

    Setelah beberapa saat…Nanang akhirnya memberanikan dirinya masuk ke UKM."Duh, tuh bocah pake pingsan segala." Gumannya.Disana, Lina sudah berbaring di ranjang kecil, pipinya masih pucat, tapi senyumnya nakal sama sekali belum hilang."Dek... astaga, bikin Mas panik aja,” Nanang duduk di kursi samp

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status