LOGIN"Ayo Nang, Lepaskan Pakaianmu." Pintanya lembut, suaranya mengandung perintah yang tak terbantahkan. "Maksud Tante?" Nanang tergagap, keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Kamu mesti tanggung jawab." Risa menjelaskan, sambil menunjukan area selangkangannya. Nanang adalah pemuda tampan yang mempunyai badan atletis, Dia terpaksa selalu melayani para Wanita yang menggodanya, Karena Sisi Liarnya yang sangat kuat.
View More''Mass! ayuk sini dong, buangin sampah yang ada disini yaa.''
Nanang sebenarnya agak ragu, tetapi itu adalah tugasnya, ia langsung menghampirinya.Lagi-lagi mereka cekikikan sambil cari kesempatan melihat Nanang dari dekat.
Nanang buru-buru pamit, sambil mengambil kantong sampah tersebut, wajahnya memerah bukan main. Baru pertama kali dia mendapatkan perlakuan yang aneh dari lawan jenis, dulu ia sangat culun sekali sampai sampai tidak ada cewek yang mendekatinya. Nanang masih sibuk membuang sampah sampai dia terkejut bukan main.''Anjirr, ini apaan banyak rokok dan pengaman disini."
"Ternyata semua hal seperti ini sudah biasa di kampus ini, bener-bener mahasiswa berandalan." Gumam Nanang.
Menjelang sore hari, Nanang duduk di bangku kosong belakang kampus, Punggungnya pegal, tapi pikirannya lebih berat. Dari arah lain, Zidan datang menghampiri dan menepuk bahunya.''Gimana bro? kerja disini enak kan?''
Nanang mendengus, ''Enak sih..tapi yang bikin gue kaget itu kebiasaan anak-anak mahasiswa disini.'' ''Lo belum tau lebih banyak Nang, pasti makin kaget lagi nanti.'' Zidan Terkekeh. Nanang hanya geleng geleng kepala, tapi sudut bibirnya terangkat juga''Sepertinya hidup kedepannya tidak akan membosankan lagi.''
Setelah selesai kegiatan kampus, Nanang mengecek kebersihan di beberapa ruangan.Beberapa mahasiswa yang menggunakan ruangan pun kerap meninggalkan rokok. Nanang mendengus kasar.
''Saking berandalnya, buang sampah yang bener aja pada gabisa.'' Nanang terpaksa membersihkan lagi ruangan tersebut. Awalnya tampak biasa saja, tiba-tiba ada suara keras terdengar seperti barang yang jatuh.BUGGGH...!!! ''Apaan lagi ini dah.'' Nanang segera mendekati sumber suara tersebut, kalau tidak salah ada yang jatuh dari lantai atas. Nanang menaruh sapunya sebentar lalu mengintip dari jendela.''Apaan sih-eh anjir!'' Nanang langsung lemes dan keringat dingin. Wajahnya berubah pucat dan nafasnya menjadi sesak.
''Gila, ada yang mati anjir..'' Gumamnya kecil.Nanang bener-bener syok dan memastikannya sekali lagi.
Nanang bener-bener melihat mayat perempuan dan bersimbah cairan merah. Sudah jelas mahasiswi perempuan itu tidak bernafas lagi. ''Wah Bangke, gue tahu kalian anak yang nggak bener tapi masa sampe ada yang mati sih.''Nanang buru-buru mengemas alat Pel-nya dan langsung mengambil ponselnya.
Nanang mengambil satu foto di ponselnya.''Gue harus kasih tau Zidan nih.'' Gumamnya.
Ia harus cepat melaporkan kejadian ini kepada temannya tersebut.
Saat ingin berbalik, Nanang melihat perempuan yang berdiri di depan pintu ruangan. ''Eh? Dek..'' Nanang mendadak memanggilnya tetapi mahasiswi itu langsung berteriak.''Ada yang mati disini, Dasar Pembunuh.'' ''Hah?'' Nanang langsung makin panik, mahasiswi itu menuduhnya pembunuh. ''Wah Anjir.'' Nanang meninggalkan alat Pel-nya lalu mengejar mahasiswi itu. Untungnya kekuatan Nanang lebih besar, dia bisa menggapai mahasiswi yang terlihat ketakutan tersebut, "Dek." Nanang berhasil membekap mulut mahasiswi tersebut sebelum suaranya menggema ke seluruh kampus. Nafas Nanang memburu, Jantungnya hampir copot karena panik. "Ssstt...Dek, Dengerin Mas dulu!'' Bisiknya dengan nada tegas. Mahasiswi itu meronta, matanya melebar ketakutan. Setelah yakin di sekitar aman, Nanang melepaskan tangannya perlahan. "Saya baru kerja disini Dek...Sumpah. Saya cuman lagi bersih-bersih, tiba-tiba lihat ada yang jatuh dari atas. Bukan saya yang dorong, Saya aja kagetnya bukan main loh." Mahasiswi itu gemetar dan tatapannya penuh curiga. "Bohong! Aku lihat jelas kok dari bawah...ada mayat perempuan yang jatuh, terus Mas muncul lewat jendela!" Nanang makin panik."Dek nama kamu siapa?"
"Lina." Jawabnya dengan cepat dengan tatapan matanya yang masih awas. Nanang menelan ludah."Dek Lina, percaya deh, itu saya lagi ngintip aja...saya ga mungkin dorong dia."
Beberapa orang mulai datang, tampaknya kematian mahasiswi tersebut membuat orang-orang berkumpul. "Aduh mati aku. kita bakal kena kasus ini.''Nanang sudah pasrah dan meyakinkan Lina,
''Dek, kita bilang ke polisi ya nanti. Pokoknya kita cuma saksi disini dan nggak ngapa-ngapain.
Lina menyilangkan tangan di dada, expresinya sinis."Kayaknya ga segampang itu buat Mas deh, lagian mas kan orang baru, Tukang bersih-bersih pula. Nggak ada yang percaya omongan Mas daripada aku yang mahasiswi kampus disini.''
Nanang mencoba bertahan."Ada CCTV kan? Kalo dicek pasti kelihatan...''
Lina tertawa pendek, menyeringai.''CCTV? Mas tau sendiri kan kampus kita kayak gimana. Kita ga pernah pake CCTV semenjak dihancurin terus ama anak-anak."
Nanang mengusap wajahnya, Situasi ini semakin buruk.''Yaudah kalo gitu bantuin yakinin polisi ya Dek...kalau saya bukan pelakunya.''
Lina mendekat setengah langkah, Senyumnya tipis, tapi tatapannya tajam. ''Bisa aja, tapi ga ada yang gratis yaa, Mas harus nurutin apa yang aku mau,''''DEG'' Nanang langsung merinding,''Maksudnya apa ya, Dek?''
Suasana di depan toilet mendadak dingin. Wanita itu keluar dengan napas yang masih sedikit memburu, tangannya dengan cekatan merapikan sisa-sisa lipatan legging-nya yang tadi sempat melorot.Ia langsung disambut pemandangan yang tak mengenakkan.Doni sedang berdiri menunduk lesu di hadapan Pak Reno, sang supervisor yang wajahnya sudah merah padam menahan geram."Maaf Pak, saya nggak akan mengulangnya lagi. Tolong beri saya satu kesempatan..." suara Doni terdengar bergetar, penuh penyesalan yang terlambat.Wanita itu tertegun, matanya menatap mereka dengan penuh tanya."Ada apa ya, Pak?"Pak Reno segera menoleh.Demi menjaga image toko agar tidak hancur di mata pelanggan seanggun Wanita itu, ia langsung memasang senyum profesional yang dipaksakan.“Ah, nggak ada apa-apa, Kak. Hanya masalah internal pekerjaan saja. Maaf atas kegaduhannya.”“Oh, ya sudah. Permisi,” sahut Wanita itu singkat.Ia
Suasana toko yang tadinya tenang mendadak berubah tegang, bukan karena ada pelanggan yang mengamuk, melainkan karena kehadiran sosok wanita yang benar-benar menjadi magnet bagi mata pria.Wanita itu melangkah anggun, setiap gerakannya memancarkan aura dewasa.Celana legging ketat yang ia kenakan seolah berjuang keras menahan lekuk tubuh bagian bawahnya yang tinggi dan mon-tok.Nanang yang awalnya sedang asyik dengan Salsa, langsung kehilangan fokus.Matanya seperti terkunci pada gerakan pinggul wanita itu.“Maaf Mas, mau tanya...” suaranya lembut namun serak-serak basah.“Iya Kak, mau tanya apa?”Jawab Nanang dengan nada yang sedikit dibuat-buat.“Kalau Pengaman sebelah mana ya?” Pertanyaan yang begitu lugas itu membuat Nanang menelan ludah.“Oh, itu Kak, di meja kasir langsung,” jawab Nanang sambil menunjuk ke arah Doni.Namun, pengkhianatan mata Nanang tidak luput dari pengawasan Salsa.Wajah Salsa yang t
Pagi yang cerah di kamar kos Olivia terasa begitu hangat, namun tubuh Nanang seolah protes.Pegal-pegal di persendiannya adalah bukti bisu betapa brutalnya pertempuran semalam yang melibatkan tiga wanita sekaligus.Nanang menatap Olivia yang masih pulas di pelukannya, lalu perlahan menggoyangkan bahunya."Liv... bangun."Olivia mengerjap, meraba nakas untuk meraih kacamatanya. Begitu dunianya kembali fokus, ia tersenyum lebar menatap Nanang."Pagi, Nanang!" serunya sembari menggeliat manja, membuat selimut yang menutupi tubuh polosnya sedikit melorot."Aku kerja dulu ya," pamit Nanang sembari bersiap bangkit."Oke, Nanang. Aku anterin pakai mobil ya? Biar kamu nggak capek,” tawar Olivia perhatian.“Nggak usah, Liv. Aku naik motor saja biar cepat sampai.”Olivia tidak membantah, tapi ia bangkit dari kasur dan menarik lengan Nanang dengan lembut.Kullt mereka yang bersentuhan masih terasa hangat.“Ayo...”
“Aku yakin! Aku sering nonton film begituan, Nanang... aku penasaran banget sama rasanya,” jawab Olivia dengan polos namun penuh damba.Rasa ingin tahunya yang besar mengalahkan logika tentang rasa sakit yang mungkin datang.Nanang bangkit dari posisinya, duduk di antara kedua kaki Olivia. Ia menatap lekat keindahan yang ada di depannya.Sesuatu yang masih begitu bersih, berwarna merah muda, dan tampak sangat rapat.Nanang perlahan menyentuhnya dengan ujung jari, mencoba merasakan tekstur kelembutan di sana."Aaahhh... geli, Sayang," rintih Olivia sambil sedikit menggeliat.Nanang tidak menunggu lama.Ia melebarkan paha Olivia lebih jauh, lalu merunduk untuk menji-latinya dengan lembut.Sensasi basah dan hangat itu seketika membuat Olivia mendesis nikmat."Sssshhhh...Ini enak banget, Nanang...Aaaahhh."Saat Nanang memberikan sedikit gigitan kecil pada bagian sensitifnya, tubuh Olivia seolah tersengat l
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews