Sisi Liar Mas Nanang

Sisi Liar Mas Nanang

last updateLast Updated : 2026-04-15
By:  MassAzfaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dek, udah ya mas lemes nih, nanti kering." Nanang tidak menyangka bisa terjebak di sekeliling cewek cantik dan nakal. Mas, Satu ronde lagi yah." ternyata bukan cuma satu saja, masih banyak cewek yang mengantri menunggu gilirannya untuk main sama Nanang. Kenapa hal ini bisa terjadi? Beberapa Tahun Sebelumnya. *****

View More

Chapter 1

Bab 1 - Awal mula Pertemuan

Nanang adalah seorang pria tamatan SMK dengan nilai yang pas pasan. di usianya yang sudah menginjak 25 tahun dia sangat menyedihkan karena belum bisa menjadi apa apa.

Disamping itu hal yang paling membanggakan bagi Nanang adalah tubuhnya yang tinggi dan atletis karena sering aktif ikut basket dan pernah menjadi kuli angkat beras.

Nanang termasuk pintar dalam pelajaran dan olahraga, namun karena kendala keuangan, dia tidak bisa melanjutkan ke perkuliahan

Uang yang ada dirumah nyaris tidak ada, dan orang tuanya sudah pasrah kepada pilihan anak lelakinya ini

Suatu hari Nanang bertemu Zidan teman sekolahnya dulu,'' Nang, coba kerja di tempat gue ngajar deh! kata Zidan temen lamanya yang sekarang sudah jadi guru olahraga.

Nanang Bingung,'' kerja apaan Dan? gue aja ga kuliah, kalo jadi guru pun gue nggak yakin bisa.

''Tenang, bukan guru, Lo bagian bersih-bersih aja, gajinya lumayan loh, yang penting halal, gue jamin, Lo pasti suka.''

Nanang waktu itu hanya bengong. Suka? Apanya yang disukai dari bersih-bersih ngepel lantai dan buang sampah?

"Okedeh gue coba." Karena ga punya pilihan lain, Nanang akhirnya menyetujuinya juga. Setidaknya menjadi petugas bersih-bersih disekolah gajinya lebih besar daripada menjadi kuli angkat beras.

Pagi ini, Nanang berdiri di depan gerbang sekolah SMK Negeri yang cukup besar dan terkenal,

''Wah, ini kan? Nanang baru sadar. Ternyata sekolah ini terkenal dengan anak-anaknya yang nakal atau disebut berandalan.

Baru beberapa menit berdiri, Nanang langsung disuguhi pemandangan yang membuat jantungnya berdebar.

Para siswi masuk ke sekolah sambil berceloteh, rambut terurai, make upnya mencolok dan astaga...''Rok mereka.''

''Pendek banget rok mereka, Semv4knya aja ampe keliatan loh.'' Gumam Nanang.

Bahkan beberapa siswa pun ada yang asyik nongkrong dan merokok diluar pagar, tertawa-tawa tanpa memperdulikan guru atau satpam sekolah yang lewat didepan mereka.

''Ini sekolah apa klub malam sih? pantes aja ini sekolah dibilang pada nggak bener.''

Dari kejauhan ada Zidan yang melambai, ''Nang! Sini deh!''

Nanang langsung menghampiri temennya, mereka pun salaman singkat.

''Gue udah bilang kan, Lo pasti betah kerja disini.'' Kata Zidan sambil tersenyum.

''Betah apanya? Gue aja baru disini sebentar aja udah bingung.'' Kata Nanang sambil garuk-garuk kepala.

''Lo lihat sendiri kan, anak-anak disini pada bebas semua, Lo jangan kaget ya kalo nanti ada yang centil, bandel, atau ada yang sengaja godain lo ya Nang.''

Nanang tiba-tiba langsung batuk. ''Mana ada yang godain gue, Gue kan cuma tukang bersih-bersih aja disini, Dan.''

''Nah Justru itu, murid disini tuh malah kadang liar banget sama orang yang bukan guru. Hati-hati aja, Nang.''

Nanang hanya nyengir kaku aja, Hatinya berdebar, entah antara penasaran atau takut.

Jam masuk telah berbunyi, Nanang sudah diberi tugas seniornya untuk mengepel di lorong kelas, baru sebentar dia mulai menyapu, dia dikejutkan tatapan aneh.

''Eh ada cowo baru tuh.''

''Wih badannya keren, tinggi banget lagi!

''Coba lihat, Ototnya bagus banget ya..''

Bisik-bisik dari siswi tersebut terdengar jelas ditelinga Nanang. Bener kata Zidan..Batinnya sambil pura-pura cuek di depan siswi tersebut, tapi pipinya panas.

Tiba-tiba ada 2 siswi yang sengaja lewat di depannya, seragamnya sangat ketat, roknya diatas lutut. Salah satu siswi tersebut bahkan sengaja menjatuhkan pulpen miliknya di depannya.

''Mas, tolong ambilin pulpennya dong!'' suaranya manja.

Nanang menelan ludah, ia lalu mengambil pulpen dan menyerahkannya tanpa menatap.

''Ini pulpennya Dek.''

Siswi itu tersenyum nakal. ''Makasih yang Mas Ganteng'' Lalu dia dan temannya langsung pergi sambil cekikikan.

Nanang langsung menghela napas panjang ''Baru aja pagi-pagi jam pertama...''

Waktu isitirahat telah tiba, Nanang langsung disuruh untuk bersihin kantin, dari jauh dia sudah melihat kerumunan siswa.

Ada yang lagi bercanda, ada yang main game dan ada juga yang berantem kecil tapi sampe lempar-lempar kursi.

Guru yang lewat disana cuma melirik sekilas, tampaknya hal semacam itu sudah biasa.

Disalah satu meja kantin yang paling pojok ada siswi duduk melingkar. mereka tertawa-tawa keras, lalu salah satu dari mereka melambaikan tangan ke arah Nanang.

''Mas! sini dong, tolong buangin sampah ini ya.''

Nanang agak ragu, tetapi itu adalah tugasnya, ia langsung menghampirinya. Lagi-lagi mereka cekikikan sambil cari kesempatan melihat Nanang dari dekat.

Nanang buru-buru pamit, sambil mengambil kantong sampah tersebut, wajahnya memerah bukan main.''

Baru pertama kali dia mendapatkan perlakuan yang aneh dari lawan jenis, dulu ia sangat culun sekali sampai sampai tidak ada cewek yang medekatinya.

Nanang masih sibuk membuang sampah sampai dia terkejut bukan main. ''Bangke, ini apaan banyak rokok dan pengaman disini.''

Ternyata semua hal seperti ini sudah biasa di sekolah ini, Bener-bener murid berandalan.'' Gumam Nanang.

Menjelang sore, Nanang duduk di bangku kosong belakang sekolah, Punggungnya pegal, tapi pikirannya lebih berat.

Dari arah lain, Zidan datang menghampiri dan menepuk bahunya. ''Gimana? kerja disini seru kan?''

Nanang mendengus, ''Seru sih..tapi yang bikin gue kaget itu kebiasaan anak-anak disini.''

''Lo belum tau lebih banyak Nang, pasti makin kaget lagi nanti.'' Zidan Terkekeh.

Nanang hanya geleng geleng kepala, tapi sudut bibirnya terangkat juga, ''Sepertinya hidup kedepannya tidak akan membosankan lagi.''

Setelah selesai kegiatan sekolah, Nanang mengecek kebersihan di beberapa kelas. Beberapa anak eskul yang menggunakan kelas pun kerap meninggalkan rokok.'' Nanang mendengus kasar.

''Saking berandalnya, buang sampah yang bener aja pada gabisa.'' Nanang terpaksa membersihkan lagi kelas tersebut.

Awalnya tampak biasa saja, tiba-tiba ada suara keras terdengar seperti barang yang jatuh.

BRUGH...!!!

''Apaan lagi ini dah.'' Nanang segera mendekati sumber suara tersebut, kalau tidak salah ada yang jatuh dari lantai atas.

Nanang menaruh sapunya sebentar lalu mengintip dari jendela. ''Apaan sih-eh anjir!'' Nanang langsung lemes dan keringat dingin. Wajahnya berubah pucat dan nafasnya menjadi sesak.

''Ada yang mati anjir..'' Gumamnya kecil. Nanang bener-bener syok dan memastikannya sekali lagi.

Bener-bener terlihat mayat perempuan dan bersimbah cairan merah. Sudah jelas siswi perempuan itu tidak bernafas lagi.

''Wah Bangke, gue tahu kalian anak yang nggak bener tapi masa sampe ada yang mati sih.'' Nanang buru-buru mengemas alat kebersihannya dan langsung mengambil ponselnya.

CKREK...!!!

Nanang mengambil satu foto di ponselnya, ''Gue harus kasih tau Zidan nih.'' Gumamnya. ia harus cepat melaporkan kejadian ini kepada temannya tersebut.

Saat ingin berbalik, Nanang melihat perempuan yang berdiri di depan pintu kelas.

''Eh? Dek..'' Nanang mendadak memanggilnya tetapi siswi itu langsung berteriak.

''PEMBUNUH.''

''Hah?'' Nanang langsung makin panik, siswi itu menuduhnya pembunuh.

''Wah Anjir.'' Nanang meninggalkan alat kebersihannya lalu mengejar siswi itu.

Untungnya kekuatan Nanang lebih besar, dia bisa menggapai siswi yang terlihat ketakuatan tersebut,

"Dek."

Nanang berhasil membekap mulut siswi tersebut sebelum suaranya menggema ke seluruh sekolahan.

Nafas Nanang memburu, Jantungnya hampir copot karena panik.

"Ssst...Dek, Dengerin mas dulu!'' Bisiknya dengan nada tegas.

Siswi itu meronta, matanya melebar ketakutan. Setelah yakin di sekitar aman, Nanang melepaskan tangannya perlahan.

"Saya baru kerja disini Dek...Sumpah. Saya cuman lagi bersih-bersih, tiba-tiba lihat ada yang jatuh dari atas. Bukan saya yang dorong, Saya aja kagetnya bukan main loh."

Siswi itu gemetar dan tatapannya penuh curiga.

"Bohong! Aku lihat jelas kok dari bawah...ada mayat yang jatuh, terus Mas muncul lewat jendela!"

Nanang makin panik. "Dek nama kamu siapa?"

"Lina." Jawabnya dengan cepat dengan tatapan matanya yang masih awas.

Nanang menelan ludah. "Dek Lina, percaya deh, itu saya lagi ngintip aja...saya ga mungkin dorong dia."

Beberapa orang mulai datang, tampaknya kematian siswi tersebut membuat orang-orang berkumpul.

"Aduh mati aku. kita bakal kena kasus ini.'' Nanang sudah pasrah dan meyakinkan Lina, ''Dek, kita bilang ke polisi ya nanti. Pokoknya kita cuma saksi disini dan nggak ngapa-ngapain.

Lina menyilangkan tangan di dada, expresinya sinis. "Kayaknya ga segampang itu buat Mas deh, lagian mas kan orang baru, Tukang bersih-bersih pula. Nggak ada yang percaya omongan Mas daripada aku yang murid sekolah disini.''

Nanang mencoba bertahan, "Ada CCTV kan? Kalo dicek pasti kelihatan...''

Lina tertawa pendek, menyeringai, ''CCTV? Mas tau sendiri kan sekolah kita kayak gimana. Kita ga pernah pake CCTV semenjak dihancurin terus ama anak-anak.

Nanang mengusap wajahnya, Situasi ini semakin buruk. ''Yaudah kalo gitu bantuin yakinin polisi ya Dek...kalau saya bukan pelakunya.''

Lina mendekat setengah langkah, Senyumnya tipis, tapi tatapannya tajam.

''Bisa aja, tapi ga gratis ya, Mas harus nurutin apa yang aku mau,''

''DEG''

Nanang langsung merinding, ''Maksudnya apa ya, Dek?''

Lina sengaja merapat lebih dekat, sampai Nanang mencium wangi parfum dan bau rokok yang samar.

Suara centilnya berbisik, ''Apapun yang aku mau, Mas harus turutin,''

Sialan, Nanang baru pertama kali sedekat ini dengan seorang wanita, dan lebih parahnya lagi ukuran Aset Lina itu tidak kecil, suatu hal yang tidak bisa tertahankan oleh lelaki dewasa.

Dan tampaknya Lina sadar,'' Mas Ng4cEng ya?

Nanang langsung menutupinya, ''Eh nggak ko Dek..''

Lina langsung tertawa, ''Ya, Wajar sih setiap cowok yang ngeliat aku langsung gitu reaksinya.''

Lina lalu mengulurkan tangannya, ''Buat kesepakatan kita, untuk kedepannya semua permintaanku, harus Mas turutin ya.''

Mata Lina terus melirik ke arah pus4k4 Nanang yang sedang ng4cEng secara jelas.

Mau tidak mau, Nanang harus menurutinya agar karirnya selamat.

Dan itulah awal mula pertemuan Nanang dan Lina, siswi yang nakal.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status