Setelah beberapa menit berbaring saling peluk di sofa, napas Wandra dan Mentira mulai tenang, tapi panas di antara mereka belum padam. Qi mereka masih berdenyut pelan, seperti denyut nadi yang saling memanggil, membuat tubuh Mentira gelisah lagi. Dia geser posisi, naik ke pangkuan Wandra yang duduk bersandar, kakinya melingkar di pinggang pria itu, memeknya yang masih basah dan sensitif bergesekan dengan kontol yang mulai tegang kembali. “Wandra... aku ingin yang lebih dekat. Yang bikin kita benar-benar menyatu,” bisiknya, bibirnya menyentuh telinga Wandra, napas hangatnya buat bulu kuduk pria itu merinding.Wandra senyum, tangannya peluk pinggang Mentira erat, rasakan lekuk tubuh gadis itu yang kini telanjang sepenuhnya, payudaranya menempel di dada lebarnya. “Posisi lotus, ya? Ini akan buat qi kita mengalir seperti sungai yang tak terputus, penuh kehangatan.” Dia bantu Mentira angkat pinggul sedikit, posisikan ujung kontol yang sudah keras penuh di bibir memek yang merah dan licin
続きを読む