"Kau salah menilai mereka dari awal, Maxime," bisik Maxime pada angin malam, suaranya parau dan terdengar getir di tengah desingan badai salju."Kau pikir Alistair hanyalah tiran kejam yang memanfaatkan wanita itu untuk kepentingan politik... tapi kenyataannya, pria itu rela meremukkan leher seorang pembunuh dengan tangan kosong hanya demi menghentikan ancaman sekecil apa pun pada istrinya."Maxime kembali memejamkan mata, teringat pada adegan sesaat setelah cangkir beracun itu ditepis. Di tengah kekacauan dan cucuran darah dari telapak tangan Alistair yang robek, Liora tidak memikirkan dirinya sendiri yang hampir tewas.Dengan tangan yang gemetar hebat, wanita itu tanpa ragu merobek kain gaun beludru birunya yang mahal, lalu membebat luka berdarah di tangan sang Duke sambil menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca penuh kekhawatiran yang tulus.Gestur sederhana itu menghujam ulu hati Maxime dengan telak.Selama ini, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Maxime selalu memelihara
Leer más