Masuk“Memohonlah hingga bersimbah darah, Liora, karena aku takkan pernah membiarkanmu pergi!” Empat tahun terabaikan, hati Lady Liora hancur saat melihat Duke Alistair memadu kasih dengan wanita lain di kala ia tengah berduka. Muak menjadi pion yang tak dicintai, Liora memilih menantang maut demi satu tujuan: bercerai dari sang penguasa Utara yang kejam!
Lihat lebih banyakSetelah satu minggu penuh Liora mengurung diri di ruang kerja markas militer bersama tumpukan dokumen tebal, tabir kejahatan itu akhirnya terkuak secara benderang.Melalui kecerdasan dan ketelitian Liora yang tak tertandingi, kejanggalan demi kejanggalan berhasil dipetakan dengan presisi.Kementerian, pihak yang selama empat tahun ini selalu memandang remeh Alistair dan menganggap sang Duke hanyalah boneka militer yang bisa dikendalikan ternyata menjadi dalang utama di balik aksi korupsi besar-besaran yang menggerogoti kas negara dan logistik militer Utara.Pagi itu, langit ibukota diselimuti mendung hitam yang mencekam.Alistair memimpin langsung pasukan seragam hitam klan Von Drachen untuk melakukan penggeledahan serentak ke rumah-rumah para pejabat kementerian yang terlibat.Liora turut hadir di lapangan, berdiri anggun di samping Alistair dengan mantel tebalnya, memegang buku catatan khusus untuk mencocokkan aset curian yang terdaftar."Geledah setiap sudut mansion ini! Jangan bia
Liora mengerutkan keningnya dengan sangat dalam ketika matanya menangkap deretan angka yang sama sekali tidak masuk akal.Jemari lentiknya bergerak cepat, menelusuri tiap lembar dokumen transaksi bisnis dan keuangan faksi pemerintahan militer yang dipimpin Alistair.Ketelitiannya yang tajam, warisan dari cara ayahnya mengelola administrasi klan dulu seketika menemukan kejanggalan-kejanggalan aneh yang berulang selama empat tahun terakhir."Ini benar-benar tidak masuk akal," gumam Liora sembari menepuk kasar kertas tebal di atas meja kerja kayu tersebut.Alistair yang masih berdiri menunduk di dekatnya menaikkan sebelah alis. "Ada apa, Liora? Apa yang kau temukan di dalam laporan anggaran itu?"Liora menengadah, menatap Alistair dengan pandangan penuh kekesalan dan ketidakpercayaan.Ia mendengus keras, lalu melempar dokumen laporan logistik militer itu tepat ke dada bidang suaminya."Kau ini sebenarnya bekerja atau hanya membubuhkan tanda tangan emasmu tanpa melihat isinya, Alistair?!"
Kereta kuda berhenti dengan sentakan mantap di depan gedung markas militer perbatasan Utara.Alistair turun terlebih dahulu, diikuti Liora yang merapatkan jubahnya dari tiupan angin yang membawa aroma mesiu dan besi.Mereka melangkah cepat melewati barisan prajurit yang memberikan hormat kaku, langsung menuju ruang kerja pribadi sang Duke yang terletak di lantai paling atas.Begitu pintu ek tebal itu tertutup rapat, Alistair langsung melempar mantel militernya ke atas sofa kulit.Pria tegap itu berjalan menuju meja kayu besar yang dipenuhi tumpukan berkas logistik, peta wilayah, dan dekret kementerian yang tersegel merah."Liora, kemari," panggil Alistair, suaranya bariton dan taktis tanpa basa-basi. Ia menarik sebuah kursi ke sisi mejanya."Duduklah di sini. Aku butuh kau memeriksa daftar anggaran pasokan medis dan pangan untuk distrik bawah. Louis tidak bisa menghandle ini sendirian di menara barat."Liora tidak langsung menuruti perintah itu. Ia melangkah perlahan mendekati meja ke
Brak! Prang!Isabella merenggut vas keramik antik dari atas meja konsol di lobi mansionnya dan menghantamkannya ke lantai marmer dengan kekuatan penuh.Pecahan porselen putih berhamburan, sebagian mengenai ujung sepatu satinnya yang mahal.Napasnya memburu cepat, wajahnya yang semula cantik kini memerah padam oleh perpaduan rasa malu, murka, dan penolakan yang membakar batinnya."Sialan! Bajingan kau, Alistair!" jerit Isabella, suaranya melengking tinggi menembus langit-langit lobi yang megah.Ia membalikkan tubuhnya dengan sentakan aksi yang agresif, lalu merenggut pajangan dinding dari perak dan melemparnya ke sembarang arah.Kemarahn wanita itu memancar dari sorot matanya yang liar; keangkuhannya sebagai putri menteri kini hancur berkeping-keping setelah dihina langsung di depan Liora, wanita yang selama ini ia anggap sebagai sampah klan utang."Ini semua pasti karena jalang miskin itu! Ini pasti ulah Liora!" maki Isabella lagi, jemarinya mencengkeram rambut pirangnya sendiri hingg
"Kau pikir aku peduli?" Liora menyunggingkan senyuman lirih yang teramat tipis, sebuah guratan kepedihan yang berbaur dengan kekecewaan yang telah mengkristal sempurna di pelupuk matanya."Sama sekali tidak, Duke Von Drachen! Pukullah dinding itu sampai tanganmu hancur menjadi debu, karena rasa sak
Liora mengedikkan bahunya dengan acuh tak acuh mendengar pertanyaan Emma barusan. Ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap jendela, lalu melanjutkan gerakan mengelap kaca dengan ritme yang lebih lambat, berpura-pura seolah spekulasi sahabatnya itu tidak memiliki dampak apa pun pada ketenangan jiwa
Liora tersentak, buru-buru bangkit dari lantai marmer yang dingin. Ia menyeka sisa air mata di pipinya dengan kasar, menolak menunjukkan kelemahan lebih jauh.Konfrontasi malam itu berakhir tanpa jawaban pasti dari Alistair; sang Duke hanya berbalik kembali ke dalam kegelapan tanpa sepatah kata pun
Liora melangkah cepat meninggalkan ruang makan tanpa memedulikan seruan parau Alistair yang tertinggal di belakang. Ia setengah berlari menaiki tangga marmer, menembus koridor kastil yang remang, dan langsung mengurung diri di dalam paviliun kamarnya yang sepi.Pintu kayu ek itu dikuncinya rapat-ra






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan