Mag-log in“Memohonlah hingga bersimbah darah, Liora, karena aku takkan pernah membiarkanmu pergi!” Empat tahun terabaikan, hati Lady Liora hancur saat melihat Duke Alistair memadu kasih dengan wanita lain di kala ia tengah berduka. Muak menjadi pion yang tak dicintai, Liora memilih menantang maut demi satu tujuan: bercerai dari sang penguasa Utara yang kejam!
view more“Kau suka bunganya?” tanya seorang pria pada wanita di hadapannya dengan nada suara yang begitu lembut.
Di koridor Rumah Sakit Saint Jude, Liora baru saja melangkah keluar dari ruang rawat ibundanya. Namun, langkahnya terhenti seketika. Di ujung koridor yang menghadap taman musim dingin, sebuah pemandangan menghancurkan sisa-sisa ketabahannya.
Duke Alistair von Drachen, pria dengan rahang tegas dan tatapan yang biasanya sedingin es, yang tak lain adalah suaminya yang telah menikahinya empat tahun yang lalu itu kini tengah berlutut di samping sebuah kursi roda kayu yang antik.
Wanita di kursi roda itu, Lady Isabella, tersenyum lemah sambil menyentuh kelopak mawar putih di pangkuannya. “Indah sekali, Alistair. Tapi aku merasa bersalah karena terus merepotkanmu. Seharusnya aku tidak perlu sesering ini ke rumah sakit jika saja kecelakaan itu tidak merenggut kakiku.”
“Jangan bicara begitu. Aku akan memberikan seluruh rumah sakit ini jika itu bisa membuatmu sembuh,” balas Alistair, lalu jemarinya mengusap tangan Isabella dengan penuh pengabdian.
Liora mematung di balik pilar marmer. Dadanya sesak. Ia teringat bagaimana Alistair mengabaikannya saat ia jatuh sakit tahun lalu, atau bagaimana pria itu selalu menolak sarapan bersamanya dengan alasan sibuk dengan urusan militer.
Rupanya, waktu “sibuk” itu dihabiskan untuk merawat sang kekasih lama yang katanya menderita cacat permanen akibat kecelakaan kereta kuda sesaat sebelum pernikahan politik mereka terjadi.
Pernikahan paksa. Liora memejamkan matanya erat-erat kemudian menghela napas panjang. Jika bukan karena wasiat mendiang Duke terdahulu yang berhutang budi pada ayahnya, ia takkan pernah berakhir di Kastil Drachen yang dingin itu. Namun, ternyata keluarganya tidak sebaik yang Liora pikir.
Baik sang duke maupun ibu mertuanya, semuanya tak ada yang menganggap Liora di kastil itu. Liora hanya bisa menebalkan kesabarannya selama menjadi istri dari pria itu.
Tanpa suara, Liora berbalik. Ia tak mau membuang waktu dan tenaga hanya untuk menonton sandiwara romantis yang bukan miliknya.
Ada hal yang lebih mendesak: ia harus kembali ke kastil untuk mengambil simpanan koin emas di laci pribadinya guna membayar biaya rawat inap ibunya.
Kastil Drachen tampak lebih angker dari biasanya saat Liora tiba. Ia langsung menuju ruang kerjanya, namun di sana, sosok wanita tua dengan gaun sutra ungu tua telah menunggunya dengan wajah merendahkan. Duchess Sophia, ibu mertuanya.
“Sedang mencari ini, menantuku yang terhormat?” Sophia mengangkat sebuah kantong kain kecil berisi koin emas.
Liora tersentak, ia berusaha menjaga suaranya tetap tenang. “Ibu, tolong kembalikan. Itu adalah tunjangan pribadi yang diberikan Alistair padaku. Ibuku sedang kritis, aku butuh koin itu untuk membayar dokter.”
Sophia tertawa sinis, suara tawanya terdengar seperti gesekan logam. “Tunjangan pribadi? Kau lupa posisi, Liora Alexandra. Segala sesuatu di kastil ini adalah milik putraku. Dan kau hanyalah parasit yang menumpang hidup dan menghisap biaya dari hasil keringat Alistair!”
“Aku menjalankan kewajibanku sebagai Duchess dengan baik, Ibu. Aku mengurus rumah tangga ini saat Alistair berada di medan perang,” bela Liora dengan suara bergetar.
“Mengurus rumah tangga? Siapa pun bisa melakukannya!” bentak Sophia sambil melangkah maju, hingga aroma parfum mawar menyengat hidung Liora.
“Kau hanyalah penghalang. Seharusnya Alistair menceraikanmu sejak tiga tahun lalu, tepat setelah suamiku, Duke terdahulu meninggal. Jika bukan karena wasiat sialan itu, Alistair sudah menikah dengan Isabella dan memberikan kami ahli waris, bukannya memelihara wanita tidak berguna sepertimu!”
Sophia melempar kantong koin itu ke atas meja dengan kasar hingga isinya berhamburan. “Kau hanyalah beban bagi masa depan Alistair. Ingat itu.”
Liora terdiam. Ia menatap koin-koin emas yang berserakan di atas meja, lalu beralih menatap punggung ibu mertuanya yang pergi meninggalkan ruangan dengan langkah angkuh.
Kata-kata “parasit” dan “beban” bergema di kepalanya, bercampur dengan bayangan Alistair yang berlutut di depan Isabella tadi pagi.
Selama empat tahun, Liora mencoba bertahan. Ia mencoba mencintai pria yang membencinya. Ia mencoba bersabar menghadapi mertua yang menganggapnya sampah. Namun hari ini, batas itu telah terlampaui.
Liora memunguti koin-koin itu satu per satu dengan tangan gemetar. Ia tidak menangis. Air matanya sudah kering sejak tahun kedua pernikahan mereka yang hambar.
“Cukup,” bisik Liora pada kesunyian ruangan itu.
Ia menatap cermin besar di sudut ruangan, melihat sosok Duchess von Drachen yang tampak tua sebelum waktunya.
“Ya, benar. Sebaiknya aku mengajukan cerai pada Alistair,” gumamnya tegas.
"Papa! Lihat ayunan pedangku sudah lebih makin cepat dari kemarin!" seru Arthur bersemangat.Waktu bergulir dengan cepat menembus hitungan tahun, membawa perubahan yang amat indah di seluruh penjuru kastil.Benteng tua yang dulunya dikenal dingin kini telah menjelma menjadi sebuah istana hangat bergemuruh tawa.Di pelataran dalam kastil yang disinari matahari pagi, Arthur tumbuh menjadi bocah tegap berambut gelap.Arthur sibuk mengayunkan pedang kayunya bersama Alistair yang membimbing tiap gerakan putranya dengan bangga."Kembangkan dadamu dan fokuskan tatapan matamu pada sasaran, Arthur!" pangkas Alistair memberi instruksi tegas.Tak jauh dari pelataran latihan, Elena kecil yang cantik berlari-lari kecil melintasi hamparan rumput hijau.Dengan gaun merah muda yang mengembang indah, bocah perempuan itu tertawa lepas di bawah pendar mentari.Elena memegang seikat bunga liar yang dikumpulkannya untuk diserahkan ke pangkuan Liora yang duduk anggun."Mama! Lihat bunga cantik ini Elena pe
"My Lord Duke, ada surat resmi berstempel khusus yang baru saja tiba dari perbatasan jauh," panggil pengawal.Perjalanan panjang dan liku-liku konflik masa lalu akhirnya benar-benar mencapai titik penutupan yang sempurna.Pada suatu sore yang tenang di ruang kerja utama Kastil Blackwood, seorang utusan khusus tiba membawa kabar.Utusan tersebut menyerahkan sebuah surat berstempel lilin dari pos penjagaan perbatasan paling jauh di wilayah Selatan.Surat penting itu dikirimkan langsung oleh Jenderal Maxime melalui kurir berkuda tercepat yang mereka miliki.Alistair menerima amplop tersebut, membukanya dengan gerakan tenang lalu membacanya bersama Liora di samping meja."Apakah itu surat dari Jenderal Maxime, Alistair?" tanya Liora penasaran seraya mendekatkan dirinya ke arah suami.Surat tersebut berisi ucapan selamat yang teramat tulus dari Maxime atas kelahiran putri kedua mereka, Elena.Selain ucapan selamat, lembaran kain wol halus itu juga membawa laporan krusial yang sangat melega
"Alistair, dengarkan riuh suara rakyat di luar aula utama itu," bisik Liora sambil merapikan gaun beludrunya.Suasana dingin Kastil Blackwood seketika luluh oleh kehangatan Pesta Perayaan Musim Dingin yang digelar megah.Pesta ini diadakan khusus untuk menyambut kelahiran sang putri tercinta, Elena von Drachen.Seluruh tetua klan senior, para jenderal perang, hingga perwakilan rakyat berkumpul di aula utama dengan suka cita.Cahaya ribuan lilin dan kehangatan perapian raksasa memantulkan kemewahan dekorasi kain beludru yang terpasang indah.Karangan bunga segar musim dingin menghiasi sepanjang dinding batu, menebarkan aroma harum yang sangat menenangkan."Rakyat sangat antusias menyambut kehadiran putri kita, Liora," sahut Alistair dengan senyum bangga yang merekah."Aku ingin seluruh wilayah Utara tahu bahwa klan Drachen kini memiliki cahaya baru yang sangat indah," tambahnya.Alistair merapikan jubah hitamnya, menatap Liora yang tampak begitu anggun dan memesona di sampingnya.Punca
"My Lady, My Lord... selamat atas kelahiran Lady Elena!" ucap Emma seraya melangkah masuk.Beberapa saat setelah momen keluarga yang hangat tersebut, Emma masuk ke kamar untuk memberikan ucapan selamat.Air mata kebahagiaan menetes di pipi Emma saat ia melihat bayi Elena yang terlelap di atas ranjang."Kemarilah, Emma, lihatlah putri kecil kami ini," panggil Liora tersenyum manis dari atas peraduan.Elena tampak begitu menggemaskan dalam balutan gaun tidur berwarna merah muda yang dilapisi kain wol.Gaun anggun tersebut dikerjakan dan dipasang kanopinya sendiri secara teliti oleh tangan Alistair."Lady Elena sangat cantik, My Lady, mirip sekali dengan Lord Duke," bisik Emma mengusap air matanya."Tentu saja, dia adalah putri kandungku yang diwarisi darah klan Drachen," pangkas Alistair menyahut bangga.Namun, suasana bahagia pasca-persalinan itu mendadak diwarnai oleh kejutan manis yang tak terduga.Louis yang berdiri kaku di samping Emma mendadak memberanikan diri mengulurkan tangan
Emma tersedak ludahnya sendiri. Ia buru-buru membekap mulutnya, melirik ngeri ke arah Alistair yang berdiri memunggungi mereka di dekat jendela. Untungnya, kepulan asap cerutu dan deru kereta kuda di luar pasar mengaburkan bisikan histerisnya.“Kau kehilangan akal, Liora?!” desis Emma, matanya melo
Lonceng kecil di atas pintu toko buku berdenting nyaring saat Liora melangkah masuk, diikuti oleh bayangan tinggi Alistair yang seolah menelan cahaya di ruangan itu.Emma, yang sedang merapikan beberapa jilid buku di rak depan, seketika membeku. Matanya membelalak lebar, menatap tak percaya pada so
Di pagi harinya. Dengan langkah ringan dan napas tertahan, ia menghentikan langkahnya tepat di balik tembok kokoh yang membatasi ruang makan utama.Suara denting perak yang beradu dengan porselen terdengar, diikuti oleh nada bicara yang berat dan penuh tekanan.“Berhenti mencampuri urusan ranjangku
Pintu kamar utama Kastil itu dibanting hingga engselnya mengerang. Belum sempat Liora menyeimbangkan diri, Alistair telah mencengkeram bahunya dan menghempaskan tubuh wanita itu ke atas ranjang dengan kasar. Kasur bulu angsa yang empuk itu terasa seperti batu bagi harga diri Liora yang kian remuk.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu