Pukul tujuh malam, Charlie tepat waktu mengajakku ke Restoran Cloud.Posisinya memang sangat bagus, di luar jendela kaca besar terbentang pemandangan malam kota yang gemerlap. Charlie menarikkan kursi untukku dengan sopan, lalu tersenyum dan berkata, "Nissa, makan dulu ya, nanti ada kejutan besar untukmu."Aku memotong sepotong kecil steik dan memasukkannya ke mulut. Belum sempat menelannya, ponselnya sudah berdering. Nada dering khusus yang cepat dan menusuk telinga.Wajah Charlie sedikit berubah, dia langsung mengangkat telepon.Dari seberang terdengar suara Tiana yang terisak, "Kak Charlie, Kakek tiba-tiba kritis dan masuk ruang ICU, hiks hiks ....""Aku sendirian, aku takut sekali, kamu bisa datang temani aku nggak?" Tangan Charlie yang memegang ponsel menegang, tanpa sadar dia melirik ke arahku.Aku meletakkan pisau dan garpu, lalu menatapnya dengan tenang. Tatapannya berkilat ragu, akhirnya dia tetap berkata ke telepon, "Jangan takut, aku segera datang."Setelah menutup telepon,
Read more